Rabu, 29 April 2026, pukul : 23:24 WIB
Surabaya
--°C

Alatas Land: Orang Betawi di Antara Para Diplomat Indonesia yang Mendunia

ABDULLAH AYAH ALI, MURID SYAIKH AHMAD SURKATI, PENDIRI AL-IRSYAD

Sayyid Abdullah Salim Alatas, ayah Ali Alatas memiliki darah Arab, tapi lahir dan tumbuh hingga dewasa di Betawi, semasa negeri ini masih disebut sebagai Hindia Belanda pada awal abad ke-19. Sayyid Abdullah Salim Alatas memulai pendidikan dasarnya di perguruan Jamiatul Khair yang berada di Pekojan. Tapi kemudian pindah dan sekolah pada perguruan Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Jalan Jati Petamburan, setelah gurunya Syaikh Ahmad Surkati mengundurkan diri dari Jamiatul Khair tempat awalnya berkhidmat, lalu mendirikan Jumiyyah Al-Irsyad Al-Islamiyyah 6 September 1914.

Di sekolah barunya itu, Sayyid Abdullah Salim Alatas menjadi salah satu murid kesayangannya dan bahkan boleh dibilang, diangkat sebagai anak oleh Syaikh Ahmad Surkati. Ibu Nurjanah, atau yang belakangan dikenal orang dengan nama Nurjanah Alwaini setelah dinikahi oleh Said Alwaini, juga murid yang menjadi anak angkat Syaikh Ahmad Surkati. Ibu Nurjanah merupakan wanita pertama di Tanah Air yang menyuarakan suaranya membaca Al-Qur’an yang disiarkan oleh Radio NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij, radio pemerintah Hindia Belanda yang setelah kemerdekaan Indonesia diubah namanya menjadi Radio Republik Indonesia).

Ibu Nurjanah disebut-sebut ikut mencetuskan gagasan penyelenggaraan pertama Musbaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) Indonesia, beliau adalah satu-satunya wanita yang menjadi anggota dewan juri dalam MTQ tersebut. Beliau juga dikenal dekat dengan tokoh-tokoh nasionalis dari PNI, termasuk BM Diah.

Sayyid Abdullah Salim Alatas teman satu perguruan Ibu Nurjanah di Al-Irsyad, sepanjang waktunya memilih lebih lama tinggal dalam lingkungan sekolah, karena adanya internaat yang memang sengaja didirikan bagi siswa yang menginap.

Diantara sekolah dan internaat itulah, Syaikh Ahmad Surkati tinggal dan mendiami rumah dinasnya yang sudah dipersiapkannya secara khusus, sehingga pembekalan ilmu dibarengi dengan pembinaan dapat sepenuhnya sepanjang hari, siang dan malam dicurahkan kepada anak-anak para peserta didiknya.

Internaat yang diambil dalam bahasa Belanda, merupakan model sekolah ber-asrama yang diciptakan dan dikembangkan oleh Syaikh Ahmad Surkati yang pola didikannya dapat secara menyeluruh membentuk kecerdasan siswa agar memiliki pemamahaman spirtual (mabda‘ Al-Irsyad), kemampuan intelektual (ber-ilmu pengetahuan), ber-ahlaq, moral (ber-etika) dan ber-kepribadian (memiliki karakter).

Model sekolah ber-asrama atau Internaat van de Al-Irsjad schoool  ini, menjadi ciri dari madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah asuhan Syaikh Ahmad Surkati, sekaligus dipersiapkan untuk menampung minat para peserta didik yang datang dari luar Batavia.

Meski berpindah-pindah, sekolah Al-Irsyad berikut asramanya tersebut selalu dihadirkan, baik sejak di Molenvliet west (Mangga Besar), Gang Kenari, Petodjo Djaga Monjet, hingga dimana Syaikh Ahmad Surkati wafat pada 16 September 1943 di Chaulan Weg atau disebut orang sebagai Gang Solang, belakangan dirubah menjadi Jalan Kemakmuran dan terakhir hingga kini menjadi Jl. KH Hasyim Asy’ari No.27.

Melalui model madrasah (sekolah) ber-asrama inilah, kelak melahirkan lulusan-lulusannya yang terintegrasi pada semua aspek pendidikan yang telah dihasilkannya, mulai dari pembentukan kepribadian, karakter, pengetahuan, hingga ke sikap dan kemampuan untuk tampil menjadi pemimpin (leadership). Hasil itulah yang nampak dalam diri Sayyid Abdullah Salim Alatas sebagai salah satu lulusan terbaiknya yang kemudian diberikan kepercayaan oleh almamaternya untuk memimpin madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah di kota Tegal, saat untuk pertama kalinya membuka cabang di kota itu pada 29 Agustus 1917.

Sayyid Abdullah Salim Alatas, juga pernah menjadi kepala madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah cabang kota Surabaya, menggantikan Syaikh Abul Fadhel Sati Al-Anshari, saudara kandung Syekh Ahmad Surkati yang memimpin madrasah itu sejak pembukaannya sebagai cabang ke 5 Al-Irsyad pada tahun 1919.

Pembukaan Cabang Surabaya ini dinilai sebagai peristiwa amat penting dalam sejarah Al-Irsyad, karena kedudukan Surabaya waktu itu sebagai pusat kegiatan pergerakan Islam dan tempat berdomisilinya para pemuka masyarakat muslimin, khususnya yang tersebar di wilayah Jawa Timur.

Menurut H.Hussein Badjeri dalam bukunya “Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa” tahun terbit 1996;Sebagai akibat “benturan” Syaikh Ahmad Surkati dengan pihak Jamiatul Khair yang “tergolong dari kelompok sayyid”, meski tidak duduk dalam Pengurus, atau Hoofdbestuur (HB) Al-Irsyad menurut pengertian waktu itu, dari golongan sayyid seperti antaranya Sayyid Abdullah bin Abubakar Al-Habsyi, Sayyid Abdullah bin Alwi Alatas, termasuk antaranya Sayyid Abdullah Salim Alatas mendapatkan posisi amat terhormat dalam perhimpunan dan merupakan tokoh-tokoh yang terpercaya.

Setelah kemerdekaan, Sayyid Abdullah Salim Alatas, murid dan anak angkat Syaikh Ahmad Surkati, atau ayah dari mantan Menlu RI Ali Alatas ini, tercatat pernah menjadi Dosen Sastra dan bahasa Arab pada Universitas Indonesia.

Next: Saadiyah Ibu Ali…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.