Jumat, 24 April 2026, pukul : 20:57 WIB
Surabaya
--°C

Ole

Trauma kekalahan dari Young Boys berkembang menjadi parno, karena di Liga Champions tahun ini MU berada satu grup lagi dengan Villareal yang menjadi momok bagi MU. Satu klub lainnya adalah Atalanta, Italia. Harusnya MU lolos dengan mudah dari grup ini.

Dibanding tetangga dan musuh bebuyutan Manchester City yang berada di grup neraka–bersama raksasa Jerman Bayern Muenchen dan klub Spanyol Barcelona, dan PSG–MU sebenarnya berada di grup enteng kelas tarkam. Tapi, nasib buruk Ole di kancah Eropa, membuat fans MU panas dingin, ketakutan akan terulangnya trauma kegagalan musim lalu.

Jose Mourinho membawa MU menjadi kampiun Europa League pada kompetisi 2017. Itu menjadi satu-satunya piala yang direbut MU dalam delapan tahun terakhir sejak ditinggalkan pelatih legendaris Sir Alex Ferguson pada 2013.

Mourinho punya pengalaman dan punya tangan dingin dalam mengelola pertandingan kompetisi penuh maupun semi-turnamen seperti Liga Eropa dan Liga Champions. Toh, hal itu tidak bisa menyelamatkan Mou dari kursi panas kepelatihan MU. Mou dipecat di tengah jalan pada 2018. Ole muncul sebagai pelatih sementara.

MU bingung mencari pelatih. Orang-orang sekaliber Louis van Gal yang sarat pengalaman tersingkir dari kursi kepelatihan MU dalam dua tahun. Mou yang jagoan treble winner pun harus terusir dalam dua tahun.

Tidak banyak pilihan yang tersedia, MU akhirnya mengangkat Ole sebagai pelatih permanen. Penampilan MU dalam beberapa pertandingan di bawah Ole memang membaik. Tapi, dalam beberapa kesempatan kelemahan taktik dan strategi Ole sering terekspos. MU kelihatannya ingin CLBK dengan Sir Alex. Karena itu Ole diharapkan bisa membawa kembali kenangan kejayaan itu.

Musim lalu penampilan MU di kompetisi Premier League membuat penggemar senang. Mereka tidak menduga Ole bisa membawa timnya menjadi runner up di bawah tetangga berisik Manchester City. Meski berada di nomor dua, tapi sebenarnya kualitas dan penampilan MU masih ketinggalan kelas dari Manchester City dan arsitek Pep Guardiola.

Pepatah Inggris mengatakan ‘’second place is the first loser’’, urutan kedua adalah pecundang pertama. Itulah yang dialami Ole dan Manchester United. Ada di posisi kedua bukan berarti menjadi pemenang kedua, tapi justru menjadi pecundang pertama.

Tapi MU masih percaya kepada Ole. Semasa 12 tahun menjadi pemain di bawah Sir Alex, Ole sering membawa keajaiban seperti bayi ajaib. Ia bukan pemain starter, tapi sering menjadi pemain penentu kemenangan. Ole The Baby Assassin ini sekaligus menjadi Ole The Baby Luck, bayi keberuntungan. Gol yang dibuatnya pada detik terakhir final Liga Champions melawan Bayern Muenchen membawa MU meraih treble winner pada 1999.

Kemenangan itu menjadi cerita manis dalam kenangan kolektif fans MU di seluruh dunia. Ole adalah pembawa berkah. Ole akan membawa kembali kejayaan itu. Karena itu Ole diberi kepercayaan untuk membawa MU kepada glory masa lalu.

Banyak yang mengritik Ole karena gaya melatihnya yang adem ayem. Beda dengan Sir Alex yang berapi-api di touch line pinggir lapangan, beda dengan Mourinho yang jagoan dalam psy war, Ole tidak pernah membuat pernyataan yang tajam mengenai apa saja. Karena itu, Ole disebut lebih pantas menjadi guru olahraga daripada menjadi pelatih MU.

Tahun ini, harapan membuncah di dada para penggemar MU. Belanja besar-besaran dilakukan MU dengan memborong tiga bintang besar. Kedatangan Jadon Sancho dari Borussia Dortmund adalah berkah dari langit yang dinantikan selama dua tahun. Kedatangan Raphael Varrane dari Real Madrid adalah pemberian malaikat yang tidak terduga. Dan, kembalinya Cristiano Ronaldo setelah melanglang buana 12 tahun adalah laksana revelation, wahyu dari langit.

Next: Ole sudah dipersenjatai lengkap.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.