Moskow-Kempalan: Dalam pendekatan geopolitik, negara merupakan organisme yang akan terus tumbuh dan berkembang sehingga memerlukan tempat baru untuk dapat menampung dirinya. Dengan alasan tersebut terjadi Lebensraum atau Ruang Hidup oleh Jerman pada PDII silam yang menjustifikasi semua tindakannya demi kebangkitan bangsa Arya. Namun dengan semakin canggihnya teknologi, tiap-tiap negara di dunia tidak hanya lagi berlomba-lomba di bumi namun mulai ke luar angkasa. Sudah dimulai sejak Perang Dingin antara AS-Rusia yang dapat disaksikan perlombaan terkonologi untuk menjadi yang pertama di luar angkasa.
Pada saat ini, perlombaan ke luar angkasa menjadi semakin masif dengan bertambahnya pemain baru seperti Tiongkok, Iran, Jepang dan negara lainnya dan bahkan perusahaan korporasi seperti Spacex ikut serta dalam perlombaan ini.
Rusia yang dianggap “kalah” pada perlombaan misil di Perang Dingin mulai kembali orientasi dirinya pada saat ini dengan berupaya membangun stasiun luar angkasa dengan adanya AI dan robot untuk dapat beroperasi sepenuhnya tanpa kendali dari bumi. “Sistem tersebut akan berisikan AI yang menjadi salah satu elemen penunjukkan intelijensi tingkat tinggi” ucap Ketua Roscosmos yaitu Dmitry Rogozin.
Ia menambahkan bahwa robot dan AI tersebut akan digunakan oleh Roscosmos untuk berada di orbit stasiun baru yang berdekatan dengan Zeus yang merupakan stasiun energi berbasis nuklir.
Rogozin mengatakan bahwa ciptaan negaranya ini akan jauh lebih efektif dan lebih efisien dibandingkan dengan apa yang telah ada pada saat ini di International Space Station (ISS).
(TASS/Tribune India, Muhamad Nurilham)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi