Sabtu, 25 April 2026, pukul : 01:25 WIB
Surabaya
--°C

Festival Sebabkan Sampah Menumpuk, Biksu Buddha Harapkan Solusi

VIENTIANE-KEMPALAN: Menurut para biksu Buddha, jumlah limbah yang dihasilkan selama kegiatan keagamaan telah menjadi permasalahan yang nyata.

Umat Buddha di Laos senang berbuat baik dengan mempraktekkan sedekah dan membuat persembahan selama berbagai festival tradisional, namun volume sampah, terutama sampah plastik, yang dihasilkan selama persembahan keagamaan terus meningkat.

Kepala Biara Kuil Dong Mieng, Distrik Chanthabouly, Ibukota Vientiane, Bounthavy Komphaphan, mengatakan kepada Laotian Times pada Selasa (17/8), banyak orang Laos terus percaya pada praktik animisme tertentu, seperti Hor Khao Padap Din yang akan datang.

Menurut Kepala Biara, keyakinan ini mencakup gagasan tentang roh di tanah, pohon, atau gundukan rayap. Orang tetap menawarkan makanan ringan termasuk nasi, air, dan barang-barang lainnya setelah sedekah selesai.

“Meskipun kepercayaan ini sebenarnya bukan bagian dari agama Buddha, ini adalah praktik kuno yang berlanjut hingga hari ini,” kata Bounthavy seperti yang dikutip Kempalan dari The Laotian Times. Ia menambahkan, sebelum ada plastik, penduduk menggunakan daun pisang atau daun teratai untuk membungkus makanan guna menyuguhkan sedekah, namun sekarang sudah berubah.

“Para biksu di vihara juga telah menyarankan orang untuk tidak mempersembahkan makanan di tanah atau di bawah pohon karena banyaknya sampah dan limbah, tetapi kebanyakan orang tidak mengikuti saran kami”, tambah Bounthavy Komphaphan.

Seorang penduduk Vientiane Capital, Jilljaliya Singhalath, mengatakan dia percaya pada roh di tanah atau pohon, tetapi dia tidak mengerti mengapa orang meninggalkan makanan yang dibungkus plastik atau botol plastik sekali pakai sebagai persembahan kepada roh.

“Saya tidak setuju dengan ide-ide ini karena membuang sampah sembarangan, dan kita bisa menggunakan botol air dari rumah dan lebih sadar lingkungan,” tambah Jilljaliya.

Di masa lalu, penduduk desa biasa pergi ke pura untuk bersedekah dengan hasil kerajinan tangan, terutama air minum kemasan, makanan ringan, dan nasi tanpa kantong plastik, menurut seorang sesepuh di Ibu Kota Vientiane, Douangdala, dan orang-orang pada umumnya menggunakan daun pisang untuk membungkus makanan.

“Memberi makan makhluk halus di tanah atau di bawah pohon telah menjadi kepercayaan Laos selama ratusan tahun, dan kami akan terus mempraktikkan tradisi kami. Tapi setidaknya kita harus membersihkannya atau mengeluarkan makanan dari kantong plastik untuk melindungi lingkungan,” tambah Douangdala. (TLT, reza hikam)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.