Selasa, 28 April 2026, pukul : 10:02 WIB
Surabaya
--°C

Satu Suro

KEMPALAN: Sebagian besar masyarakat Jawa masih mempercayai bahwa malam satu Suro adalah malam istimewa dengan nilai mistis yang tinggi. Di berbagai daerah banyak ritual tradisional memperingati Tahun Baru Jawa sekaligus Islam ini. Di lingkungan Keraton Surakarta dan Yogyakarta, beragam ritual dan kirab digelar. Ramai dan semarak. Tapi, karena tahun ini musim pagebluk maka kemeriahan itu tidak tampak.

Tradisi malam satu Suro berawal di era Sultan Agung. Ketika itu, masyarakat masih mengikuti sistem penanggalan tahun Saka warisan tradisi Hindu. Sementara Kesultanan Mataram Islam sudah menggunakan sistem kalender Hijriyah Islam. Sultan Agung yang ingin memperluas ajaran Islam di tanah Jawa berinisiatif memadukan kalender Saka dengan kalender Hijriah menjadi kalender Jawa.
Penyatuan kalender ini dimulai sejak Jumat Legi bulan Jumadil Akhir tahun 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi. Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Suro, bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriyah.

Secara etimologis, dalam perspektif Islam-Jawa, kata Suro berasal dari kata “Asyura” dalam bahasa Arab yang berarti sepuluh. Asyura merujuk pada tanggal 10 bulan Muharam, yang berkaitan dengan peristiwa wafatnya Sayyidina Husein, cucu Nabi Muhamad di Karbala, wilayah Irak sekarang.

Kebo Kiai Slamet dianggap punya tuah, kotorannya jadi rebutan

Dari era Sultan Agung ini kemudian peringatan tahun Hijriah dilaksanakan secara resmi oleh negara, dan diikuti seluruh masyarakat Jawa. Berbagai ritual perayaan Muharram dan Asyura di Indonesia terus lestari sampai sekarang berkat jasa Sultan Agung.

Hingga saat ini, setiap tahunnya tradisi malam satu Suro selalu diadakan oleh masyarakat Jawa. Beragam tradisi digelar untuk menyambut Suro seperti jamas pusaka, ruwatan, hingga tapa brata atau meditasi. Para abdi dalem keraton melakukan ritual dengan mengarak hasil kekayaan alam berupa gunungan tumpeng serta kirab benda-benda pusaka.

Di keraton Surakarta peringatan 1 Suro dilakukan dengan cara bersyukur, tafakur (merenung) dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah yang dipusatkan di Masjid Pujasana. Pada awal 1970-an Sinuhun Paku Buwono XII mulai mengadakan kirab pusaka di luar tembok keratin. Salah satu pusaka yang paling banyak ditunggu public adalah kemunculan kebo bule bernama Kiai Slamet, yang dianggap sebagai bentuk pusaka keraton yang bernyawa.

Kebo bule bukan sembarang kerbau, karena leluhurnya merupakan hewan klangenan atau kesayangan Paku Buwono II. Leluhur kerbau bule itu merupakan hadiah dari Kyai Hasan Besari Tegalsari Ponorogo. Secara turun-temurun kebo bule menjadi cucuk lampah (pengawal) pusaka keraton yang bernama Kiai Slamet sehingga masyarakat menyebutnya kebo bule Kiai Slamet. Dalam kirab satu Suro, orang-orang berdesak-desakan dan berebut kotoran kebo bule. Kotoran kebo bule dianggap dapat membawa berkah dan keselamatan.

Berbeda dari Solo, di Yogyakarta perayaan malam satu Suro biasanya identik dengan membawa keris dan benda pusaka sebagai bagian dari iring-iringan kirab. Tradisi malam satu Suro menitikberatkan pada ketentraman batin dan keselamatan. Karenanya, pada malam satu Suro biasanya selalu diselingi dengan ritual pembacaan doa dari semua umat yang hadir merayakannya.

Selain itu, terdapat pula tradisi mubeng beteng atau mengelilingi benteng keraton. Tradisi ii kemungkinan besar terpengaruh oleh pradaksina dan prasawya dalam tradisi Hindu dan Buddha. Pradaksina adalah ritual berjalan kaki mengeliling benteng sesuai arah jarum jam. Sedangkan prasawya adalah ritual berjalan kaki mengelilingi benteng kebalikan arah jarum jam.

Jika orang berjalan dengan menggunakan pradaksina, maka secara simbolis dia memohon kebutuhan lahiriah. Jika berjalan dengan menggunakan prasawya, maka secara simbolis lebih bersifat ilmu kesempurnaan hidup batiniah.
Ada banyak cara dilakukan masyarakat Jawa untuk menyambut satu Suro. Tapi umumnya melakukan laku prihatin, misalnya tidak tidur semalaman. Aktivitas yang dilakukan adalah tirakatan, menyaksikan kesenian wayang, dan acara kesenian lainnya.

Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling berarti manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan di mana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sementara waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan.
Ritual ini menjadi bagian dari praktik sufisme Jawa yang merupakan paduan dari tradisi Islam dan Hindu-Budha.

Almarhum Prof. Simuh dalam ‘’Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa’’ (2019) menegaskan bahwa mistisisme Jawa ini berakar pada tradisi tasawuf Islam.

Inti ajaran tasawuf adalah distansi, menjaga jarak dari nafsu urusan duniawi, konsentrasi atau memusatkan pikiran untuk berzikir pada Allah, serta menjadi insan kamil, yaitu puncak proses untuk menjadi manusia sempurna karena kedekatan dengan Allah.

Di Indonesia perkembangan tasawuf tidak selalu mulus, karena selalu mendapat penentangan dari kalangan Islam rasional. Dalam sejarah perkembangan Islam di Arabia, hal yang sama juga tejadi ketika kelompok rasional yang bertumpu pada filsafat bertentangan dengan kalangan kelompok syariah.

Para filosof Islam seperti Ibnu Rusydi, Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina dianggap sebagai penganjur ajaran yang tidak sesuai dengan syariah. Imam Al-Ghazali mengecam keras para penganut filsafat dan menyebut pikiran mereka rancu (tahafut) dan menyesatkan kepada kekafiran.

Perbedaan pendapat Al-Ghazali dengan Ibnu Rusydi menjadi legenda dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, setelah Ibnu Ruysdi mengecam balik Al-Ghazali dengan menyebut rancu dalam menuduhkan kerancuan (tahafut-al tahafut).

Al Ghazali, ahli syariat dan teolog, menyusun landasan yang menyediakan ruang bagi perpaduan Islam dan mistisisme melalui buku magnum opus Ihya’ Ulumuddin. Al-Ghazali menegaskan bahwa Islam dan tasawuf seharusnya bisa saling mendukung dan menguatkan, bukannya saling menjatuhkan.

Keberadaan sufisme Jawa bisa dilacak sejak Islam masuk ke Jawa abad ke-15. Islam masuk melalui pedagang Gujarat lewat wilayah-wilayah pesisir Utara Jawa seperti Gresik, Tuban, dan Jepara. Dari ketiga tempat tersebut, Islam lantas menyebar secara signifikan di seluruh Jawa oleh Walisongo.

Di satu sisi, Walisongo sukses menyebarkan Islam ke seluruh wilayah Jawa. Tetapi, di sisi lain Islam versi Walisongo yang sinkretis, campur baur, dengan tradisi Hindu-Budha ini menjadi penyebab munculnya lemah karsa (weak-will) manusia Jawa. Islam sinkretis ini juga dianggap menjadi sumber munculnya paham jabariah yang dianggap fatalistik.

Penjajahan kolonial 3,5 abad, karena bangsa Indonesia lemah karsa

Penjajahan yang dialami Indonesia sampai tiga setengah abad, antara lain, disebut-sebut karena Islam Indonesia lemah karsa. Faham jabariah dianggap menghasilkan fatalistic attitude yang membuat mental menjadi melempem dan nrima ing pandum, menerima apa adanya.

Profesor Herman Soewardi (1998) dari Universitas Padjadjaran menyebut lemah karsa ini menjadi penyebab utama kejumudan umat Islam yang kemudian disusul dengan kemunduran, yang menyebabkan Islam menjadi objek eksploitasi Barat selama berabad-abad.

Soewardi mengajak umat Islam kembali kepada etos ‘’free will’’ dan ‘’strong will’’ yang menjadi inti faham Qadariah. Dengan sikap itu Islam menjadi pemimpin civilisasi dunia selama tujuh abad. Dengan faham itu umat Islam punya motivasi untuk mengubah dirinya sendiri menuju kemajuan peradaban melalui penguasaan ilmu pengetahun.
Ketika sekarang peradaban Barat disebut-sebut mengalami kemunduran, bola ada di tangan Islam untuk merebut kembali kejayaan yang hilang. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.