KEMPALAN: Buzzer memang menjijikkan. Diserupakan dengan hal-hal tidak mengenakkan dan bahkan tidak selayaknya. Penyerupaan dengan binatang, itu pastilah punya alasan yang bisa dijelaskan. Tapi bisa juga untuk sekadar menggambarkan betapa menjijikkannya perangai mereka itu.
Penyerupaan buzzer dengan binatang apapun, itu karena kehadirannya tidak diharapkan. Buzzer sepertinya identik sebagai penyebar hoax, fitnah dan adu domba. Sebenarnya binatang-binatang yang diserupakan buzzer itu tidak punya tabiat seburuk buzzer. Nama binatang tertentu disandingkan dengan buzzer, itu sekadar mengungkap rasa jijik yang tak terkira.
Buzzer itu pekerjaan hina, setidaknya disimbolkan demikian. Dan kehadirannya seolah dihadirkan untuk membuat suasana tidak harmonis. Melakukan apa saja yang tidak sewajarnya, tapi aman-aman saja. Tidak tersentuh hukum. Hadir seolah jadi “penjaga” penguasa dari kritikan para oposan. Para buzzer akan menyalak tidak semestinya, jika ada yang coba-coba bersikap berlawanan pandangan dengan penguasa.
Teranyar muncul sebutan “buzzer celeng”, itu dari yang menamakan diri Kader Partai Demokrat. Sebuah video singkat menjelaskan, bagaimana perangai para buzzer yang dibayar oleh oligarki untuk melindungi kekuasaan. Menyebut mereka dengan buzzer celeng, itu tentu belum mewakili perilaku jahat mereka. Adakah yang lebih jahat dari penyebar hoax, fitnah dan adu domba. Disebutlah tiga nama buzzer dalam video itu, Ade Armando, Denny Siregar dan Rudi S. Kamri.

Video singkat itu merangkai banyak hal, dan diambil dari latar belakang bantuan Rp2 T dari keluarga Akidi Tio. Dimana para buzzer itu, setidaknya itu disampaikan Ade Armando dan Denny Siregar, menyebarkan permusuhan dengan membandingkan bantuan dari pribumi muslim dengan penghinaan. Bisa jadi itu upaya membenturkan pribumi dan non pribumi, seolah tidak belajar dari kasus 1998. Dimana etnis Tionghoa jadi sasaran yang tidak semestinya.
Kita tidak berharap peristiwa itu terjadi lagi, tindakan rasialis tidak dibenarkan, bahkan musuh peradaban. Tapi justru benturan dahsyat itu diharapkan para “buzzer celeng”, yang cuma berpikir sempit pada kepentingan pribadinya. Bahkan seorang sekelas mantan Presiden SBY, yang menyampaikan pandangan agar bangsa ini mesti banyak berdoa, itu pun diserang para buzzer. Anjuran berdoa pun dianggap sebagai oposan penguasa.
Tabiat Menjijikkan
Celeng itu babi hutan (Sus scrofa), disandingkan dengan buzzer, itu lebih untuk menggambarkan betapa menjijikkannya para buzzer itu. Dan itu tentang tabiat yang dilakukannya. Padahal celeng tidak sejahat mereka yang bekerja untuk menyebar hoax, memfitnah dan adu domba.
Penetapan buzzer dengan celeng, adalah sesuka suka yang ada dipikirannya. Jika yang ada dipikirannya itu curut, maka disebutlah curut sebagai penggambaran menjijikkan versinya. Bahkan ada yang menyandingkan buzzer itu dengan (maaf) tinja, yang pastinya menjijikkan.

Maka penggambaran buzzer pada hal-hal menjijikkan, itu bervariasi sesuai dengan yang ada dipikiran masing-masing. Dan kali ini, Kader Partai Demokrat, menggambarkan buzzer itu dengan celeng. Pastilah langkah mereka itu tidak terlebih dahulu meminta izin pada “keluarga” celeng. Jika meminta izin, belum tentu celeng mau disandingkan dengan manusia penyebar hoax, fitnah dan adu domba.
Martabat manusia sebagai makhluk paling sempurna akan runtuh lebih rendah ketimbang binatang, jika apa yang dilakukan hal-hal yang timbulkan kerusakan. Maka julukan-julukan tidak mengenakkan pada para buzzer itu terus akan muncul dengan versinya masing-masing.
Masalahnya tidak fair jika menyandingkan buzzer dengan binatang apapun, meski itu binatang haram dagingnya untuk dikonsumsi (muslim). Binatang itu tidak lebih buruk dari perangai buruk buzzer. Jika meminta izin, pastilah celeng akan menolak jika harus disandingkan dengan para buzzer itu. Lalu mesti disandingkan dengan apa buzzer itu, mungkin disandingkan dengan sampah saja ya yang paling pas… Apa ada usulan lain? (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi