Melalui Balai Inkubator Bisnis, BPPT Mendorong Tumbuhnya Startup di Indonesia

waktu baca 2 menit
Hammam Riza, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

JAKARTA-KEMPALAN: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT memiliki tupoksi yang substansial. DI mana BPPT hadir untuk membantu pemerintah dalam melakukan riset, pengkajian, serta implementasi teknologi yang relevan dengan kebijakan konstitusional yang ada.

Guna mengembangkan program yang kontekstual serta beririsan dengan bidang pengembangan teknologi, BPPT merintis Balai Inkubator Teknologi (BIT). BIT hadir sebagai wadah bagi berkembangnya startup berbasis teknologi dan bisnis. BPPT berharap agar lahirnya BIT ini sebagai ruang yang solutif bagi permasalahan yang terjadi di masyarakat.

“Balai Inkubator Teknologi ditugaskan untuk membantu dan mendampingi calon wirausaha yang ingin memulai bisnis barunya dengan memanfaatkan teknologi terkini,” ujar Hammam Riza selaku Kepala BPPT pada webinar bertema ‘Pengembangan Startup dan Social Entrepreneurship’ di Indonesia di Jakarta, pada Rabu (4/8).

BPPT akan melakukan proses pendampingan yang intens, di mana proses Balai Inkubator Teknologi (BIT) ini adalah wahana untuk intermediasi dan komersialisasi teknologi. Tentu hal ini termaktub di dalam Pasal 32 dan 33 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Pada masa panemi yang serba sulit dan mempengaruhi perekonomian bangsa, Kepala BPPT ini melihat secara gamblang bahwa banyak bisnis yang terdampak. Akan tetapi, dirinya menilai jika ada peluang yang besar bagi tumbuhnya bisnis-bisnis yang baru serta dapat berkembang.

Bisnis berdimensi teknologi yang paling terdepan dan sangat prospektus. Karena, bisnis yang ini maju dalam aspek inovatif, dinamis, serta eksprimentasi jika dikomparasikan dengan bisnis yang masuk dalam lingkup yang sudah umum dan konvensional.

Hammam menuturkan jika menjalankan roda bisnis tidak semata untuk mendapatkan keuntungan atau profit saja, namun dapat memberikan dampak yang nyata bagi masyarakat. Misalnya, membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat, menekan marginalisasi dan kesenjangan, serta meminimalisir kerusakan lingkungan. (Rafi Aufa Mawardi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *