Sejarah

Masih Kenalkah dengan Adam Malik?

  • Whatsapp
Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Adam Malik.

KEMPALAN: Tanggal ini sepintas terlihat seperti tanggal biasa, namun angka 22 pada bulan Juli merupakan hari lahir dari Adam Malik. Mungkin generasi sekarang tidak mengetahui siapa itu Adam Malik dan apa saja jasanya, mereka akan lebih mengenal Phantom Assassin, Chang’e atau karakter game online lainnya daripada karakter dunia nyata yang memiliki sumbangsih nyata.

Tak bisa disalahkan juga sebenarnya, ketika para pemuda tidak tertarik dengan sejarah, karena citra yang terbentuk ketika kita pertama kali mendengar dan belajar tentang sejarah di ruang kelas adalah sebagai mata ajar yang membosankan dan penuh hafalan (meskipun sebenarnya sangat tidak benar). Sejarah itu asik, jauh lebih asik daripada citranya.

Seperti mengenal Adam Malik, seorang pejuang serta pahlawan kemerdekaan yang berasal dari Sumatra. Mereka yang berkecimpung di dunia media pastinya sedikit banyak pernah mendengar nama Adam Malik, karena ia turut mendirikan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara yang menjadi kantor berita nasional milik Indonesia.

Sebagai tokoh politik, ia juga terlibat dalam pergerakan, salah satunya, menurut Iswara N. Raditya dalam artikelnya di Tirto.id, adalah dengan ikut mendirikan Partai Musyawarah Rakyat Baru (Murba) yang memiliki tokoh utama yakni Tan Malaka.

Hidup di dalam dua rezim, Adam Malik terbukti menjadi politisi yang adaptif. Ia dapat bertahan di Orde Lama yang keras terpaan ideologisnya, sementara dirinya juga menjadi tokoh di masa pemerintahan Suharto, pertama sebagai Menteri Luar Negeri lalu menjadi Wakil Presiden pada Maret 1978.

Akan tetapi, karirnya yang moncer adalah di dunia internasional. Pada era kepemimpinan Bung Karno, ia sempat menjadi duta besar luar biasa dan berkuasa penuh dari Indonesia untuk Uni Soviet. Ia juga pernah menjadi Ketua Delegasi Perundingan Indonesia-Belanda dalam perkara Irian Barat (Papua).

Selain itu, Adam Malik, ketika menjadi Menteri Luar Negeri RI pada era Orde Baru, turut mempelopori pembentukan Association of South East Asia Nation (ASEAN). Pria kelahiran Pematang Siantar itu bahkan pernah menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York, Amerika Serikat.

Ia terbukti merupakan orang yang luwes, salah satu istilah yang terkenal darinya “semua bisa diatur”. Bahkan posisinya ketika menyampaikan pidato mengenai politik luar negeri Indonesia, yang saat itu sedang tidak mau berhubungan dengan China karena dianggap terlibat/mendukung G30S, juga sangat luwes. Pidatonya ini nanti dibukukan oleh Yayasan Idayu dengan judul “Sepuluh Tahun Politik Luar Negeri Orde Baru.” (reza hikam)

Berita Terkait