SURABAYA-KEMPALAN: Sosok Iwan Syafi’ie mulai dikenal penikmat sepakbola di Tanah Air ketika dia menjadi manajer tim Bentoel Galatama Jember pada musim kompetisi 1990-1992.
Bentoel Galatama Jember, tim asal pesisir timur Jawa Timur, meski tak semoncer Krama Yudha Tiga Berlian (KTB) Palembang, Pelita Jaya Jakarta, Petrokimia Gresik, Arema Malang maupun NIAC Mitra Surabaya kala itu, tapi tangan dingin beliaulah yang menyulap Bentoel Galatama Jember menjadi tim yang kerap menjadi penghalang tim- tim raksasa meraih juara.

Dalam sekejap atau pada musim Kompetisi 1990-1992 Bentoel Galatama Jember yang finis di peringkat ke-14 dari 20 klub melahirkan bintang sepakbola nasional seperti Gunung Ginting, Misnadi Amrizal Pribadi, Mochtar Hidayatullah, Singgih Pitono, maupun Nono Sri Hartono.
Sebagai manajer tim, Iwan dikenal dekat dengan berbagai kalangan, mulai dari pejabat, kalangan profesional, wartawan, dan aktivis sepak bola.
Namanya sangat identik dengan klub sepak bola Bentoel, sehingga sampai sekarang pun orang memanggilnya dengan nama julukan Abah Iwan Bentoel.

Jiwa sosial Iwan pun sangat tinggi kala menjabat manajer tim. Pemain dan offisial selalu dimanjakan baik di lapangan maupun di luar lapangan.
Setelah era Galatama selesai dan Bentoel tidak lagi berkompetisi Iwan masih tetap bergelut di dunia sepak bola. Ia selalu bisa menjaga silaturrahim dengan seluruh aktivis sepak bola, mulai dari pelatih, pengurus, pemain, dan suporter termasuk mewadahi para mantan pemain nasional dan pemain di Jawa Timur.
Mereka selalu dikumpulkan hanya sekadar cari keringat untuk bermain sepakbola.Terakhir kali Iwan mengumpulkan seluruh legenda sepakbola nasional bersilaturahmi di lapangan hijau Stadion Gelora 10 Nopember Tambaksari Surabaya 2015-an untuk bermain dengan Persebaya old start.
Ia juga sempat menjadi agen pemain bersama almarhum Hartono Purnomosidi eks Asisten Manajer Persebaya era ketua umum Persebaya Sunarto Sumoprawiro.
Tidak hanya itu, saja Sosok Iwan Syafi’ie juga kerap menjadi jujukan curhat pemain persebaya di kala susah entah itu masalah finansial atau yang lain. Beliau selalu menjadi penyelamat bagi mereka.
Meski usianya sudah 71 tahun, ketika masih belum ada pandemi, Iwan masih rajin bermain sepak bola Minggu pagi di lapangan Karang Gayam di belakang mess Persebaya.
Setiap Minggu pagi para veteran Persebaya mulai dari era Aser Mofu, Nicky Puttirai (almarhum), Hambali,Wayan Diana dan kawan-kawan aktif bermain bola jago kapuk di lapangan Karang Gayam.
Iwan Syafi’i menjadi salah satu pemain yang paling rajin hadir. Meski hanya bermain beberapa menit Iwan selalu ditunggu kehadirannya karena Iwan selalu menraktir sarapan setelah main sepak bola.
Setiap Ramadhan, Iwan mengadakan buka puasa bersama yang dihadiri oleh puluhan pemain senior maupun pemain yang masih aktif.
Iwan juga selalu aktif mengumpulkan dana untuk membantu mantan pemain sepak bola yang mengalami kesulitan ekonomi maupun yang sedang kesusahan.
Abah Iwan yang lahir di Malang 71 tahun silam atau tepatnya 20/04/1950 adalah sosok Penggiat sepakbola. Anak pertama dari 12 bersaudara ini hampir separuh hidupnya untuk sepakbola. Kini suami dari Irene Iwan sudah meninggalkan kita semua. Saya bersaksi dan seluruh penikmat sepakbola di tanah air bahwa Abah Iwan Syafi’ie adalah orang baik. (Ambari Taufiq)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi