Sabtu, 30 Mei 2026, pukul : 14:31 WIB
Surabaya
--°C

Teletong

KEMPALAN: Dalam bahasa Indonesia, omong kosong mempunyai padanan kata dengan cakap angin, dalih, celoteh, imajinasi, dan bual. Secara lebih formal, omong kosong diartikan sebagai kesalahan representasi yang menipu, tipuan singkat, perkataan atau perbuatan yang melebih-lebihkan.

Definisi itu bisa kita lihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Zaman dulu, kamus itu setebal bantal, tapi sekarang bisa diakses secara online. Zaman dulu, omong kosong dianggap sesuatu yang sekadar omong kosong. Zaman sekarang omong kosong bisa berakhir di penjara, atau paling tidak bisa ditangkap polisi.

Ilustrasi King of Lip Service

Dalam definisi KBBI omong kosong menyiratkan tindakan yang tidak merugikan orang lain. Tidak ada unsur kejahatan kriminal, atau menipu dengan tujuan untuk mencelakakan orang lain. Orang yang disebut melakukan omong kosong adalah seseorang yang membual untuk mencari perhatian orang lain. Atau, orang yang membual sekadar untuk melucu. Karena itu bualan dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan tidak diperhatikan secara serius.

Tentu beda lagi dengan kata ‘’hoax’’ atau sering ditulis dengan ejaan ‘’hoaks’’. Kata ini relatif baru tetapi sudah langsung diserap menjadi bahasa Indonesia. KBBI juga sudah mencantumkan hoaks sebagai entry baru. Dalam KBBI online edisi kelima, hoaks menjadi entry baru bersama kata ‘’meme’’. Keduanya adalah kata yang sangat populer di media sosial.

Menurut definisi KBBI, hoaks adalah berita bohong atau berita yang tidak bersumber. Merujuk pada Oxford English Dictionary, hoaks didefinisikan sebagai ‘’malicious deception’’ atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat.

Beda dengan hoaks yang ejaannya diindonesiakan, meme tetap ditulis dalam bahasa aslinya. Di dalam kamus, meme dikategorikan sama dengan makna aslinya dalam bahasa Inggris, yakni sebagai nomina dengan dua varian makna.

Meme bisa berarti ide, perilaku, atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam sebuah budaya. Makna lainnya berarti cuplikan gambar dari acara televisi, film, atau gambar buatan sendiri, yang dimodifikasi dengan menambahkan kata-kata atau tulisan untuk tujuan melucu dan menghibur.

Dalam masyarakat tradisional, omong kosong dilakukan di public sphere, ruang publik terbuka, seperti warung kopi dan tempat nongkrong umum, seperti perempatan jalan atau warung-warung lapak. Dalam tradisi modern sekarang omong kosong dilakukan di ruang publik digital di media sosial.

Omong kosong warung kopi ditanggapi oleh teman-teman yang ngariung bersama-sama, satu sama lain saling kenal secara personal. Mungkin terjadi debat, adu argumen, dan diskusi panas. Tapi umumnya tidak pernah terjadi insiden yang sampai menjurus adu fisik.

Kalau ada debat keras, biasanya debat dengan saling adu otot saja. Debat semacam itu disebut sebagai debat kusir. Entah mengapa disebut demikian, mungkin kusir delman atau dokar suka berdebat dengan kuda, atau kusir berdebat sendirian dan kuda hanya mendengar sambil tetap cuek.

Omong kosong di dunia digital dikomentari oleh ribuan, puluhan ribu, bahkan jutaan orang. Mereka adalah para pengikut atau followers. Di dunia warung kopi, teman adalah sahabat yang kita kenal secara personal. Di dunia virtual teman adalah teman digital yang tidak kita kenal secara personal, dan, bisa jadi, seumur hidup tidak pernah akan kita temui.

Tentu terjadi juga diskusi dan debat di dunia virtual. Seperti omong kosong di warung, debat virtual itu sering kali menjadi debat kusir yang tidak banyak manfaatnya. Karena di dunia digital tidak ada kusir delman, maka tidak ada istilah debat kusir. Malah debat semacam itu diberi istilah keren sebagai ‘’engagement’’ atau keterlibatan.

Sebelum muncul era hoaks, bahasa Inggris menyebut omong kosong sebagai ‘’tahi sapi’’ atau dalam bahasa Jawa teletong. Bullshit, begitu kata orang Inggris. Entah sejarah etimologinya bagaimana hingga orang yang omong kosong disebut sebagai teletong tahi sapi. Mungkin karena omongannya tidak ada manfaat, sehingga dianggap seperti teletong.

Bullshit dan hoax dalam bahasa Inggris punya konotasi yang sama, meskipun tidak persis. Hoax dan bullshit mempunyai sejarah yang panjang dan memainkan peran penting dalam pembentukan sejarah peradaban Barat. Banyak sekali teletong yang menjadi peristiwa besar dan dilakukan oleh orang-orang besar pelaku sejarah.

Tom Phillips, seorang editor organisasi pengecek fakta, fact checker di Amerika Serikat, secara telaten mengumpulkan fakta-fakta mengenai omong kosong ini, dan mengumpulkannya menjadi sebuah buku menarik berjudul ‘’Truth: A Brief History of Total Bullshit’’ (2019). Buku ini sekarang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Elex Media Komputindo dengan judul ‘’Truth: Sebuah Sejarah Singkat tentang Omong Kosong’’ (2021).

Tentu penerbit punya alasan sendiri dengan pilihan terjemahan itu. Dan tentu penerbit sudah minta izin kepada pengarang sebelum menerbitkan buku itu. Sayang sekali judulnya tidak sesuai dengan gaya penulisan Phillips yang ‘’hilarious’’, lucu dan penuh anekdot kocak. Kalau saja penerbit berani agak nakal, harusnya judulnya ‘’Sebuah Truth: Sejarah Singkat mengenai Teletong’’. Judul ini tentu akan lebih kocak dan cocok dengan isi buku.

Phillips melakukan penelusuran teks dan dokumen jauh sampai ke abad ke-18, pada masa awal-awal kemerdekaan Amerika Serikat. Phillps menemukam bukti tak terbantahkan bahwa koran-koran Amerika pada masa itu banyak memberitakan omong kosong atau teletong yang tidak berguna. Meski begitu, teletong itu ternyata banyak disukai oleh pembaca.

Phillips sengaja menyebut berita bohong itu sebagai teletong atau bullshit. Ia tidak menyebutnya sebagai hoaks yang lebih berkonotasi penipuan yang menjurus pada kejahatan. Faktanyua adalah teletong itu penipuan besar. Tapi Phillips melihat semua penipuan itu dari perspektif yang lucu dan menganggapnya sekadar sebagai teletong sejarah.

Kasus-kasus yang diungkapkan oleh Phillips sebenarnya merupakan penipuan terencana dan berskala besar. Penipuan itu sejenis organized crime, kejahatan terencana, yang melibatkan orang-orang profesional dari kalangan bangsawan, pengusaha, dan orang perbankan. Peniupuan semacam investasi bodong dalam skala besar, ternyata sudah menjadi tradisi lama sejak masa-masa awal kemerdekaan Amerika Serikat. Begitu temuan Phillips.

Salah satu temuan Phillpis yang mencengangkan adalah bahwa pelaku omong kosong dan penipuan itu tidak hanya melibatkan bangsawan dan pengusaha hitam yang busuk. Salah pelaku teletong ulung itu adalah Benjamin Franklin (1706-1790), salah satu pahlawan, negarawan, dan founding fathers Amerika Serikat.

Gambar Benjamin Franklin di mata uang Dolar Amerika Serikat

Franklin adalah orang dengan banyak keahlian. Dia adalah seorang wartawan, penerbit, ilmuwan sosial, diplomat, dan pemimpin revolusi Amerika Serikat, dan salah satu penandatangan Deklarasi Kemerdekaan Amerika 1776.

Bukti-bukti sejarah yang dikumpulkan Phillips banyak mengungkap omong kosong dan teletong maupun aksi tipu-tipu yang dilakukan Benjamin Franklin.

Kontribusi Franklin terhadap perjuangan Amerika diabadikan dengan memasang gambar Franklin di lembaran Dolar Amerika. Konon ungkapan ‘’Time is Money’’ adalah ungkapan yang diperkenalkan kali pertama oleh Franklin. Di atas foto Franklin di setiap lembar dolar terdapat kalimat ‘’In God We Trust’’. Mungkin jadi terasa ironis, Fraklin yang banyak melakukan penipuan teletong mendapat kehormatan yang disejajarkan dengan kepercayaan kepada Tuhan.

Benang merah yang disimpulkan Phillips adalah bahwa negara sebesar Amerika pun berdiri di atas bangunan teletong omong kosong. Karena itu, kalau Amerika pernah punya presiden seperti Donald Trump yang suka omong teletong, dan terang-terangan berbohong kepada rakyat, hal itu adalah sebuah kutukan sejarah.

Kita di Indonesia belakangan ini juga sedang ramai berbicara mengenai aneka omong kosong dan teletong yang melibatkan pada pejabat. Mereka dianggap omong teletong dan menipu rakyat karena tidak sesuai antara janji dan bukti.

Munculnya gelar ‘’King of Lip Service’’ mungkin, bisa dilihat dalam perspektif omong teletong ala Phillips. Sejarah memang berulang dimana-mana. Kita hanya bisa berharap Indonesia tidak mengalami kutukan sejarah dengan munculnya presiden penipu seperti di Amerika Serikat. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.