KEMPALAN: Judul opini di atas tampaknya sulit difahami, seperti juga kita sulit memahami seorang dosen yang juga berprofesi merangkap kerja sampingan sebagai buzzer. Atau bisa juga profesi dosen, itu yang justru sebagai kerja sampingan.
Menjadi buzzer, bisa jadi pada beberapa dosen, adalah kerja menggiurkan. Maka itu dianggapnya kerja terhormat, dan tidak merasa jengah disebut, bahkan menyebut diri sebagai buzzer. Ade Armando, dosen Ilmu Komunikasi UI, yang setidaknya merasa tidak masalah atau tidak keberatan jika ia harus disebut buzzer.
Mungkin statuta UI perlu dikembangkan, bahwa sebagai dosen bahkan dosen struktural tidak terlarang jika merangkap sebagai buzzer. Tidak cukup Rektor atau mereka yang punya jabatan struktural yang jelas terlarang merangkap jabatan sebagai komisaris. Meski itu lalu dilanggar Rektor UI, yang menjabat sebagai Wakil Komisaris Utama BRI. Sebelumnya sebagai Komisaris Utama BNI.
Profesi buzzer yang hanya dengan kredo “membela sampai mati”, tentu pada siapa saja yang mengupahnya, sehingga nalar dipinggirkan bahkan dinafikan. Maka membela habis-habisan sampai tahap melihat A lalu disebutnya B, bahkan Z.
Kredo yang diusungnya itu, memang khas profesi buzzer, yang menutup mata melihat kondisi riil yang ada, dan karenanya mata hati pun ditutupnya juga. Yang sisa hanya OD alias otak dikit. Dan karenanya, ia bebas labrak sana-labrak sini, dan itu menyasar personal mereka yang berjuang dengan akal bebas merdeka.
Maka profesi buzzer bisa jadi lambat laun, tidak mustahil, akan menjadi profesi yang tidak dilihat sebelah mata. Ia akan sejajar dengan profesi normal lainnya. Abnormal pun akan menjadi normal, jika dikehendaki oleh kesepakatan. Kira-kira demikian melihat fenomena yang ada, dan juga coba menerawang kedepan.
Suasana abnormal yang muncul belakangan ini, lambat laun disikapi biasa-biasa saja. Maka kata-kata umpatan pada seseoranag yang menyerupakan dengan penghuni kebun binatang, yang dulu tabu diucap, sekarang dianggap jadi hal biasa.

Bahkan fitnah, yang itu lebih kejam dari pembunuhan, menjadi semarak diumbar di ruang publik. Dan kerja fitnah ini jadi satu paket dengan kerja para buzzer. Ghibah pada muslim lainnya, itu diserupakan memakan bangkai saudaranya sendiri, itu tidak lagi momok menakutkan untuk ditinggalkan. Justru itu andalan para buzzer untuk mempermalukan “lawan” yang disasarnya.
Beginilah fenomena yang ada, yang mungkin bagian dan cara rezim membuka lapangan kerja untuk para pengangguran. Dan jika ada kalangan terdidik yang lalu ikutan ambil juga profesi sebagai buzzer dan sekaligus dosen, itu karena cuannya menggiurkan. Maka yang OD dan siapa saja yang siap jadikan buta hati, juga mereka yang merasa sisa umur masih panjang, menceburkan diri sebagai buzzer jadi pilihan.
Dan yang paling ekstrem, agamanya sendiri pun jadi candaan penuh penghinaan, dan para alim jadi bahan olok-olok. Tentu yang disasar adalah para alim dan cerdik cendekia yang memilih jalur selalu mengingatkan penguasa, tidak membiarkan kesalahan tampak di depan mata, itulah yang lalu diperolok bahkan sampai tingkat fitnah.
Orang lalu berkesimpulan, bahwa buzzer memang dihadirkan agar suara kritik yang muncul itu bisa diredam dengan narasi-narasi jahat menghantam personal, lalu berpikir ulang jika mau mengkritik. Itu semacam perang opini, menutupi kelemahan rezim yang berkuasa. Setidaknya itu yang dikesankan publik yang masih bisa melihat fenomena itu dengan hati bersih.
Maka dosen berprofesi buzzer, atau buzzer sekaligus berprofesi sebagai dosen, bukanlah hal terlarang. Dan semua hadir atau dihadirkan, itu semacam simbiosis mutualisme, sama-sama butuh dan dibutuhkan. Kerja sama itu memang tidak akan selamanya, tergantung dibutuhkan atau tidak para buzzer itu. Jika tidak dibutuhkan ya profesi itu akan pupus dengan sendirinya, dan tinggal dikenang dengan kenangan keburukan, tanpa sedikitpun menyisakan kebaikan. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi