KEMPALAN: PELAKU spiritual memikul tanggungjawab atas pelestarian keris pusaka sebagai budaya leluhur bangsa Indonesia. “Saya justru berpendapat, pelajar dan mahasiswa wajib mendapat pendidikan ekstra atas keberadaan keris sebagai warisan budaya nasional,” komentar Sumedi, pemilik 500-an keris pusaka, di Surabaya.
Kalau generasi muda tidak mendapatkan pengetahuan khusus soal keris sejak sekarang, lanjut Sumedi, maka kelak di kemudian hari mereka tak akan pernah tahu budaya warisan leluhurnya.
“Mungkin mereka hanya tahu keris itu memiliki energi spiritual. Namun, mereka tidak memahami keberadaan dan perjalanan keris sebagai salah satu budaya nenek-moyang bangsa kita,” papar Pak Pho, panggilan akrab Sumedi.
Dalam hal ini pelaku spiritual di Indonesia harus ikut bertanggungjawab atas pelestarian keris pusaka.
“Soal bagaimana wujud nyatanya, kita bisa mendiskusikannya secara bersama-sama,” tegas Pak Pho.

Lebih dari itu, pemerintah dituntut juga untuk meningkatkan frekuensi pameran keris berskala internasional. “Jadi, semua dunia luar tahu bahwa Indonesia tidak hanya identik dengan batik sebagai warisan budaya bangsa. Namun, ada pula keris sebagai salah satu ikon peninggalan nenek-moyang,” tutur Pak Pho.
Baik Pak Pho maupun spiritualis muda di Surabaya, Gus Sulee, beranggapan pemilik keris pusaka harus mempunyai sikap dan perilaku yang baik. Sekaligus tidak menyalah-gunakan kekuatan spritual keris yang dimilikinya.
“Pemilik keris pusaka seyogyanya rendah hati, sebagaimana proses panjang pembuatan keris yang penuh kesabaran,” kata Gus Sulee.
Untuk berburu khusus keris pusaka, misalnya, seseorang sering dituntut untuk berpuasa dan melakukan tirakat khusus. “Kalau tidak sabar, tak akan pernah kita mendapatkan keris pusaka sesuai yang diharapkan,” tambah Pak Pho.
Lelaki Misterius
Pak Pho sendiri menggeluti dunia keris sejak 2013. “Dulu saya hanya ikut-ikutan teman yang memang penggemar fanatik keris. Eh, lama-kelamaan akhirnya saya benar-benar jatuh cinta kepada keris,” katanya, sambil tertawa kecil.
Pak Pho mengaku mendapatkan ratusan keris pusaka dari berbagai cara. Di antaranya lewat mimpi, diberi oleh orang lain, dan lelaku khusus. “Percaya atau tidak, tetapi saya memang pernah ditemui oleh seorang kakek yang saya sama sekali tak mengenalnya. Eh, dia bilang kalau sengaja datang kepada saya hanya untuk memberikan sebilah keris. Setelah menyerahkan keris tadi, sosok kakek itu menghilang begitu saja,” papar anggota komunitas penggemar keris Condro Aji ini. (sulaiman/m taufiq)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi