Sebuah Pertaruhan

waktu baca 7 menit

KEMPALAN: Sore hari setelah cukup beristirahat di rumah ibunya, Hera memanggil taxi untuk langsung ke rumah sakit yang terdekat dengan rumah kontrakannya. Sesuai surat pengantar dari Puskesmas, Hera disarankan untuk rongten X-ray paru-paru, bahasa medisnya rontgen Thorax. Hera harus ke rumah sakit, kondisi badan Hera masih kurang nyaman, nafas tersengal dan batuk-batuk. Hera langsung ke loket pendaftaran,  begitu tiba di Rumah Sakit. Hera mengisi formulir pengantar rontgen. Hari sudah malam, ruang rontgen tidak ada antrian, sekitar 10-15 menit Hera selesai di rontgen.

Hasil rontgen baru bisa diambil keesokan harinya, dokter Radiologi yang membaca dan menganalisa hasil rontgen sudah pulang. Hera menuju rumah sudah agak malam.  Obat dari Puskesmas walaupun kurang berarti, tetap Hera minum. Hera berharap bisa segera tidur setelah minum obat, tetapi tidak bisa nafasnya semakin sesak, jika posisi berbaring. Hera keluar kamar dan bersandar di sofa,  dengan posisi seperti itu Hera merasa enakan, sesaknya berkurang dan Hera bisa tidur.

Hera tidak menceritakan kondisinya kepada Danang, suaminya. Karena Hera tahu bukan solusi yang  akan dia dapat. Biasanya kata-kata yang keluar adalah menyalahkan,  hal yang akan membuatnya bertambah sakit. Biasanya Danang akan bilang, “sakit dibikin sendiri,  kerja gak tahu aturan, pulang kerja malah keluyuran”, dan lain-lain. Kata-kata semacam ini sudah dipastikan akan keluar bertubi-tubi. Sehingga lebih baik Hera diam saja, agar tidak menambah persoalan, toh yang pasti Hera harus berobat, dengan uangnya sendiri, atau dengan asuransi dari kantornya sendiri.

Kata  “keluyuran” bagi Hera sangat menyakitkan, sementara semua yang dialakukan semata-mata untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya.

Keesokan harinya Hera bangun pagi-pagi siap ke Rumah Sakit mengambil hasil rontgen. Hanya butuh waktu sepuluh menit dengan motor sampai  rumah Sakit yang dituju, jika jalan kakipun tidak terlalu jauh. Hera langsung menuju bagian rontgen. Hera sendiri ke rumah sakit tidak minta diantar. Hera hanya pamit ke Rumah sakit ambil hasil rontgen. Hera biasa melakukan sendiri, karena anak-anak belum cukup umur, dan pengalaman Hera jika minta diantar,  kalo ternyata urusannya lama,  maka dia justru akan sibuk memikirkan yang ngantar, mikir makannya, mikir nggak enak kelamaan nunggu jenuh dan mengganggu aktifitasnya. Karakter  asli Hera, lebih suka memberi daripada diberi. Hera lebih nyaman jika urusannya sendiri, dilakukannya sendiri. Sekalipun dalam keadaan sakit yang cukup serius. Kalau masih bisa jalan sendiri tidak perlu merepotkan orang lain, sekalipun keluarga.

Hera pernah membaca artikel pada Rublik Tokoh Kita, di Harian Nasional, seorang Nenek moderat ibu dari seorang konglomerat terkenal,  kaya raya masuk dalam daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes. Si nenek yang gesit itu masih bisa jalan sendiri kontrol kesehatannya ke RS di Jerman, kadang di NUH  Singapore, tidak minta anak atau cucunya mendampingi. Di usianya yang sudah mencapai 75 tahun lebih, ia masih mandiri. Alasannya semua anak-anak dan cucu-cucunya repot dengan urusan masing-masing, khawatir mengganggu. Hera masih usia 36 tahun masih sehat kuat dan muda. Malu dengan si nenek moderat itu.

Hera langsung menuju ruang rontgen untuk mengambil hasil rontgen Torax. Oleh petugas Hera disarankan untuk segera ke dokter Spesialis Paru, kata petugas, keadaan paru-paru ibu kurang baik. Hera kaget dan was-was ada apa dengan patu-parunya. Hera bergegas ke loket pendaftaran, lalu menuju Poli Paru. Hera badannya semakin tidak nyaman, dia menunggu di ruang tunggu poli paru dengan beberapa orang yang kurang lebih sama penyakitnya. Ada seorang bapak bercerita pernah dirawat di beberapa rumah sakit. Sebelum di rumash sakit yang terakhir ini. Kata si bapak, dia merasakan sakit di dada,  nafas sesak, flu, badan rasanya tidak karuan, sakitnya tidak jelas sakit apa, lalu  diopname seminggu, diagnosa nya sakit tipes,  agak baikan pulang, sakit lagi dibawa ke rumah sakit B diopname seminggu dibilang DB, badan makin habis sakit tidak sembuh. Baru di rumah sakit ini ketahuan saat di rontgen,  ada masalah di paru-parunya. Dokter bilang air yang di paru-paru harus dikeluarkan dengan cara disedot. Lalu bapak itu bercerita dibolong disela tulang iganya lalu dimasukan selang untuk menyedot air yang ada di paru-parunya. Bapak itu pun menceritakan kepanikannya saat mau diambil tindakan.

Mendengar bapak itu bercerita membuat pasien lain termasuk Hera menjadi ciut hatinya, wajahnya yang sudah pucat semakin pucat pasi. Akankah Hera bernasib seperti bapak itu??. Hera juga sudah beberapa kali berobat ke dokter tanpa hasil, sakitnya tidak kunjung sembuh. Justru saat berobat di puskesmas disarankan untuk rontgen, kenapa saat ke dokter sebelumnya tdk disarankan rontgen. Seperti juga Rumah sakit yang merawat si bapak itu apa sengaja agar si bapak menjalani rawat inap dahulu, begitukah trik rumah sakit untuk mendapatkan masukan uang dari pasien?? Mungkin. Hera berharap tidak seperti bapak itu.

Giliran Hera di panggil Hera masuk ke ruang dokter spesialis paru-paru dan menyampaikan hasil rontgen. Dokter spesialis paru yg sudah tua itu mengernyitkan dahinya seraya berkata

” Wah wah kok sudah seperti ini baru kesini”,  kata dokter sambil memperlihatkan hasil rontgen yg di tempel di lampu neon persegi di dinding samping kursi prakteknya.

“Coba ibu perhatikan keadaan paru-paru ibu”,  dokter menunjukkan dengan polpennya. Hera memperhatikan dengan perasaan kuatir dan deg-deg an.

“Ini yg putih seperti kabut ini adalah air yang menggenang di paru-paru ibu sudah hampir penuh, makanya ibu nafasnya susah, badan meriang dan batuk-batuk”  jelas dokter.

” Lalu harus diapakan Dok ? dan kenapa bisa begitu?” Hera bertanya karena kaget.

” Ya karena ada infeksi di paru-paru ibu yang menyebabkan paru-paru tidak bisa berfungsi normal ” jawab dokter.

“Infeksi karena apa ya dok .” tanya Hera  mengejar.

” Ya nanti di periksa infeksinya karena apa, yang penting sekarang ibu saya buat kan surat untuk tindakan penyedotan dan ibu harus rawat inap, pneumonia ibu, harus diobati secara tuntas”, dokter menjelaskan, Hera mengangguk agak panik. Pneumonia istilah medis yang belum Hera pahami. Semacam radang paru-paru. Bisa akibat bakteri atau virus.

” Apa tindakannya harus sekarang dok?? ” tanya Hera.

” Sebaiknya begitu, tapi ya terserah ibu mau sekarang atau besok, yang jelas ini harus segera ada tindakan, supaya tidak terlambat”  kata dokter memberikan saran. Membuat Hera bingung dan cemas.

” Saya pulang dulu saja dok untuk siap-siap”, kata Hera gemetar.

” Tidak masalah jika ibu kuat dengan kondisi seperti ini, saya praktek di sini dua hari lagi lho, dan ditambah lbur tanggal merah”  , kata dokter Tua itu.

” Hari ini saya akan pesan ruang rawat inap dulu dok, besok saya akan masuk, dan berustirahat di Rumah Sakit, sambil menunggu dokter ambil tindakan”,  jawab Hera pasti. Sebab dokter sepuh itu walau sepertinya galak dan saklek sepertinya sudah banyak pengalaman menangani berbagai kasus penyakit paru-paru.

” Baiklah bu jika itu keputusan ibu. Kalau saran saya ya sekarang saja”, kembali dokter menegaskan, mungkin karena mengkhawatirkan keadaan Hera.

“Maaf dok saya harus pulang dulu”, jawab Hera terbata, saya harus memberi kabar keluarga.

“Oh Ibu sendiri,  tidak ada keluarga yang antar?” tanya dokter tua dengan dahi berkenyit.

“Baiklah saya buatkan resep obat untuk tiga hari saja” , kata dokter seraya menulis resep obat dan menyarankan agar dibawa saat masuk perawatan. Hera pulang, sampai rumah dia masuk kamar menenangkan hati, airmatanya berlinang, hatinya cemas, ada apa gerangan dengan paru-parunya kenapa ada air begitu banyak memenuhi paru-parunya, dan kenapa baru diketahuinya?.  Pantas saja dia tidak bisa tidur terlentang, mungkin karena air naik sehingga susah bernafas. Sore jelang malam Hera menyampaikan keadaannya kepada suami dan anak- anaknya. Hera berharap keluarganya tenang dan berdoa agar sakitnya segera sembuh, bisa ditangani dengan tepat dan tidak ada kendala apapun.   Semua tidak perlu repot dan tidak perlu ngantar ke Rumah Sakit, aktifitas normal jangan bolos sekolah. Di Rumah Sakit ada Suster dan dokter yang mengatasi. Hera melihat Suami dan anak-anak wajahnya tertunduk, entah apa yang ada dalam pikiran mereka.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *