Senin, 25 Mei 2026, pukul : 12:15 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Menjadi istri dengan peran ganda, mencari nafkah dan mengurus rumah tangga, ditambah anak-anaknya lebih dekat dengan ibunya, sungguh repot. Apalagi dengan penghasilan hanya dari satu sumber itupun tidak banyak, betapa beratnya beban Hera.  Waktu itu tahun 1998 negara sedang dalam keadaan gonjang-ganjing, demo mahasiswa marak dimana-mana. Endingnya pemerintahan Rezim Orde Baru tumbang. Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 98 dan menunjuk BJ Habibie yang saat itu sebagai wapres menjadi penggantinya. Situasi Negara sangat keruh sejak diangkatnya BJ Habibie. Kerena  pengangkatannya dianggap inkonstitusional. Tetapi dari pemerintahan  Presiden BJ Habibie yang tidak lama itulah lembaga baru bernama Komnas Perempuan terbentuk, lembaga ini merupakan bagian dari komnas HAM. Komnas Perempuan yang dimotori aktivis perempuan Ita F Nadia salah satunya,  bertugas menangani korban dan mencari fakta tentang kekerasan Seksual terhadap perempuan amoy amoy etnik Thionghoa oleh para perusuh. Banyak cerita miris para korban ditemukan, dihimpun dan dilaporkan team pencari fakta yang dibentuk oleh pemerintah transisi. Pada bulan Mei tahun 98 itu, Hera yang berkantor di kawasan chines town, yang merupakan salah satu kawasan yang menjadi sasaran, target massa dalam melakukan penjarahan, menjadi hiruk pikuk chaos oleh massa yang beringas dan anarkis. Dari kaca jendela kantornya di lantai dua, Hera melihat massa melempar- lempar batu kearah pertokoan dan perkantoran si sepanjang jalan sambil berteriak bakar-bakar!!. Supermarket, minimarket, yang berada tidak jauh dari kantor Hera telah dijarah dengan riuhnya, barang daganganya ludes diangkut massa yang tidak terkendali, ada yang ikut-ikutan ada pula massa yang didatangkan, entah dari mana. Mereka dengan cepat menyerbu pertokoan, menjarah apa saja yang bisa dijarah,  jika hanya perkantoran tidak ada yang dijarah, maka massa akan melempar batu kearah kaca-kaca gedung sebagai bentuk kekesalannya. Disebrang Kantor Hera ada Hotel, dari kaca gedung Hera melihat seorang bapak tua menggodong cucu seusia TK, lari tergopoh-goboh masuk Hotel, salah satu cara praktis untuk menyelamatkan diri. Tentu cara ini dilakukan oleh orang yang berduwit. Dikawasan Hera dipelosok gang masuh banyak penduduk etnik Thionghoa yang miskin, yang hidupnya susah berpebghasilan rendah, mereka tidak bisa lari kemana-mana. Banyak diantara mereka menjadi sasaran amuk massa. Dengan mata kepala sendiri Hera menyaksikan kepanikan yang luar biasa. Hati mereka mungkin tinggal sebutir kedelai, ciut karena sangat cemas. Teman-teman Hera yang mayoritas etnik Thionghoa nampak gemetar dan pucat. Hera sarankan agar tetap tenang berdiam dulu di kantor. Tetapi mereka justru takut jika tetap berada di kantor. Mereka ingin pulang saja, mungkin dalam situasi genting, berkumpul keluarga akan lebih baik. Mereka menganggap tetangganya yang pribumi, akan melindungi dan memberinya tumpangan. Hera yang berkulit coklat menawarkan kepada teman-temannya jika perlu pedamping untuk pulang, dia siap mengantar. Ada salah satu teman yang paling dekat dengan Hera meminta untuk diantar pulang.

Bismillah. Hera mengantar ke rumahnya dengan naik Bajaj. Hera memberhentikan Bajaj terlebih dahalu baru memanggil temannya. Bajaj melaju menembus kerumunan massa yang masih  beringas, melempar-lempar batu ke kaca-kaca gedung. Mereka bersorak jika kaca yang dilempar pecah. Hera dan temennya tak urung ciut  deg-degan juga, Hera menyembunyikan temennya, jangan terlihat oleh massa dengan cara posisi duduk Hera agak menjorok ke depan sedang temennya menjorok ke belakang, sehingga nampak hanya ada satu penumpang Hera saja. Hera bukan siapa-siapa, Hera wong cilik seorang warga negara biasa yang sangat sedih dan turut terkoyak hatinya,  melihat negeri dan bangsanya berbuat onar dan biadab terhadap saudara sebangsa hanya karena beda etnik, beda warna kulit. Beda status sosial. Kerusahan yang konon kabarnya by Design. Menyisakan ratap tangis para ibu yang anak-anaknya terpanggang di pertokoan saat aksi penjarahan dan pembakaran, serta tangisan pilu para perempuan amoy yang diperkosa secara sadis dan ada pula yang terbunuh. Apakah di setiap perpindahan kekuasaan harus melalui cara-cara brutal, penuh kekerasan dan  mengkoyak harkat kemanusiaan semacam itu?

Sungguh Hera tidak mengerti, karena Hera bukan orang politik sehingga tidak paham kalkulasi politik yang ditargetkan dari peristiwa  itu. Hera yang memilik trauma tersendiri, sangat prihatin. Dirinya berjanji untuk tidak ingin dekat-dekat dengan hal-hal yang berbau politik. Tetapi apakah mungkin, dengan status nya sebagai anaknya wong mambu saja stigma politis sudah menempel. Setiap insan yang terlahir sebagai keturunan wong mambu jika ia bicara, menulis atau berkarya  lalu menjadi terkenal, maka dimata politisi dia akan dianggap berpolitik. Stempel itu tidak bisa dihapus, dia menempel sepanjang masa. Hera ingin menjalani hidup dengan damai mengalir. Kata ibunya, dalam mengarungi kehidupan bermasyarakat agar seimbang dan harmonis maka ada tiga hal yang perlu diterapkan yaitu  : Naluri, Nurani dan Nalari.

Semula Hera tidak mengerti dengan tiga hal yang dimaksud Ibunya itu. Ibunya mendapat konsep 3N dari simbah kakungnya, orang tua yang sederhana itu ternyata memiliki konsep hidup yang hebat dan baru hera ketahui dari ibunya. Penjelasan dari 3N itu adalah :

manusia mempunyai Naluri alamiah maka naluri itu kembangkan sesuai hati Nurani, hati Nurani bekerjasama dengan Nalar untuk mewujudkan cita-cita dan kehendak, itulah yang disebut Nalari. Hera merenung- renungkan tiga N itu dengan seksama, ada benarnya. Ungkapan bijak yang mudah diingat. Pelajaran bisa datang dari mana saja dan dari peristiwa apa saja. Seperti peristiwa Hera menawarkan jasa mengantar temannya. Semula Naluri yang bicara, karena hal yang disampaikan merupakan keterlibatan hati nurani, yaitu kehendak ingin menolong sesama. Lalu Nalari, secara Nalar Hera yang berkulit coklat,  berani melakukan itu karena dia sebagai pribumi asli. Nalarnya mempercayai dia akan aman dan selamat.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.