Sabtu, 6 Juni 2026, pukul : 18:16 WIB
Surabaya
--°C

Sebuah Pertaruhan

KEMPALAN: Hamil ternyata bukan persoalan sederhana bagi kaum wanita, setidaknya bagi Hera. Secara fisik Hera tidak ada masalah, dia kuat dan ngebo, tidak kepengin makanan yang aneh-aneh. Tetapi secara psikis kejiwaan, Hera merasa sangat tidak normal, emosional, meledak-ledak  menanggapi sesuatu yang tidak sesuai pemikiran dan nuraninya, mudah BeTe, bad mood dan sering marah-marah kepada laki-laki yang manja, marah kepada orang malas, marah kepada yang merampas ke kemerdekaan orang lain dan itu dilihatnya sehari-hari. Hera terjebak oleh situasi yang sangat tidak mengenakkan hati dan batinnya, sehingga orang lain terutama keluarga ikut tidak nyaman.

Apa yang dirasakan Hera seperti bukan kehendaknya sendiri. Tetapi kadang Hera juga sadar akan situasi kejiwaannya, sehingga hati Hera berjanji untuk tidak ingin hamil lagi karena tidak sanggup menanggung perubahan psikisnya. Suatu malam Hera bilang pada Danang suaminya, bahwa dia ingin mudik sebentar. Mungkin dengan cara begitu, dia bisa mengobati gangguan jiwanya yang menyebalkan. Terakhir dia marah-marah hanya karena botol air dingin di kulkas kosong.

” Kenapa ya mengisi air di botol saja harus perempuan?, memangnya ada undang-undang yang melarang seorang laki-laki tidak boleh bantu istri mengisi botol air putih,padahal dirinya juga yang minum?”

Hera mengomel tidak putus-putus dan merembet-rembet. Hera bilang tugas dia masak untuk bekel kerja, masak juga sepulang kerja, nyuci perkakas masak, nyapu dan ngepel. Lumayan melelahkan. Danang hanya diam saja jika Hera sudah ngomel dan komplain, khawatir semakin panjang kalau ditanggapi. Biasanya Danang lalu keluar ke pos ronda main gaple. Danang tidak bisa melarang saat Hera menyampaikan rencananya mau mudik nengok simbahnya. Percuma juga, sebelum Danang ngomong, Hera sudah nerocos duluan

“Saya pergi dengan uang sendiri ya, saya pergi tidak untuk merugikan siapapun. Saya pergi justru ingin membuat nyaman karena kalau tidak ada saya pasti tidak ada yang ngomel, dan pulangnya pasti bawa oleh-oleh kesukaanmu, belut goreng, peyek dan karak rambak”

Yang terakhir ini membuat Danang tersenyum dan Hera tertawa.

” Yo wis dik sakarepmu” , kata Danang.

Hera ingin berjalan sendiri, pergi sendiri, mengulang sesuatu yang hilang, ingin naik kereta, duduk sendiri merenung di kereta tanpa ada yang mengusiknya, Hera ingin mengulang kemerdekaannya, walau sesaat. Hera bilang kepada ibunya dan menyempatkan ke rumah pakdenya bahwa dia ingin mudik menengok simbah. Hera kangen sekali kepada mbah kakungnya. Tetapi sesungguhnya tidak sekedar kangen, dia ingin menenangkan hati, meredam emosi yang gak jelas, seperti bukan keinginannya sendiri. Pakde Hera bertanya

” Lha mau mudik karo sopo nduk?” tanya pakde.

” Pinyambak pakde kangen simbah, pakde badhe nitip menopo?” jawab dan tanya Hera kepada pakdenya.

“Bulan depan pakde rencana mau mudik juga, sampaikan pada mbah kakung ya nduk, pakde mau mengembalikan titipannya”, kata pakde.

“Nggih pakde nanti Hera sampaikan”, jawab Hera singkat. Kebetulan ada mas Gatot anak pakdhe, pulang dari kuliah. Hera jadi ingat souvernir, Hera menanyakan souvernir kipas unik buatannya mas Gatot sebagai sumbangan atas pernikahannya. Apakah masih tersisa. Hera ingin memberikan kepada sepupu yang telah meriasnya, karena belum kebagian. Mas Gatot mahasiswa Teknik Elektro tapi terampil membuat aneka handy craft, seperti juga pakde ahli mendesain baju pengantin berbahan bludru dengan hiasan aneka payet dan manik-manik.

Hera mudik naik Kereta jalur selatan dari stasiun Jatinegara. Hera duduk sendiri, di dekat jendela. Setelah kereta lama berjalan, Hera memanggil pramugara yang lewat untuk memesan kopi susu panas buat penghangat perut. Tapi pramugara yang lewat tidak menyahut, mungkin tidak dengar karena kebisingan kereta. Hera naik kareta Ekonomi bukan karena mau ngirit tapi karena kereta ekonomi selalu berhenti di stasiun kecil, termasuk stasiun Delanggu. Selang satu jam Hera kembali memanggil pramugara yang lewat untuk pesan minuman hangat. Tapi lagi-lagi pramugara itu tidak mendengar lagi. Hera sudah setengah berteriak. Batin Hera apa suara Hera terlalu pelan. Ya sudahlah mungkin lebih baik tidur saja. Hera minum air mineral yang dibawanya. Dan Hera tertidur di kereta hingga pagi. Tahu-tahu kereta sudah memasuki kota Jogya sebentar lagi stasiun Klaten, lalu stasiun Delanggu.

Tiba di stasiun Delanggu, Hera mampir ke Pasar Delanggu beli kembang untuk nyekar, beli belut goreng, sosis kiwir dan soto di bungkus untuk simbahnya. Aada juga sate kere yang dibakar gurih. Hera juga membeli pondoh jagung. Dari pasar ke desanya Hera ingin naik andong tapi tidak ada andongnya pak Sakir. Hera akhirnya naik dokarnya mbah Soma. Yang rumahnya selisih dua rumah dari rumah simbahnya, bersebelahan dengan rumah simbok. Dokar bodinya lebih kecil dari andong, beroda dua. Penumpangnya hanya cukup untuk 4 orang. Dokar mbah Soma kudanya tidak trengginas, mungkin sudah tua. Tapi dari pada naik ojek Hera lebih suka naik andong atau dokar. Kebetulan sekali mbah Soma memang mau ke arah pulang. Hera langsung duduk di belakang.

” Ayo mbah tarik tidak usah menunggu penumpang”, kata Hera.

Mbah Soma tidak menjawab, ia sibuk memasukan karung berisi benang- benang tenun. Hera hapal itu pesanan bude Mul. Itu benang lawe untuk ditenun menjadi kain mori. Bude Mul adalah ibu dari sepupunya yang merias Hera. Hera tenang duduk di dokar. Sudah dijamin pasti ia sampai rumah. Mbah Soma sudah tua dan kurang pendengarannya. Hera duduk mepet diantara karung- karung benang lawe. Thik thak thik thok dokar berjalan pelan dari Delanggu menuju desanya di sela semilir angin yang mengalir dari sisi kanan kiri jalan yang berupa sawah hijau. Ada kebahagiaan tersendiri ketika Hera naik dokar.

Sampai depan rumah bude Mul, dokar berhenti dan Hera memberikan uang ke mbah Soma tapi dia tidak memperhatikan. Mbah Soma sibuk menurunkan karung. Uang Hera letakkan di jok kusir. Hera berlalu menuju rumah simbah kewat pintu belakang. Melihat Hera datang Simbah kaget dan senang.Tapi simbah kaget, kenapa Hera pulang sendiri. Hera menjelaskan dengan santai karena kangen simbah dan pengin nyekar mbah Tuwo, dan Eyang Cikal Bakal Desa.

Hari jelang siang Hera menata soto, sate kere dan oleh-oleh belanjaan dari pasar Delanggu. Simbah tidak perlu memasak. Sambil duduk, Hera tiba-tiba ingat perkataan pakdenya, bahwa pakde berencana mau mudik bulan depan untuk mengembalikan titipan mbah kakung. Hera penasaran, ia iseng bertanya apa gerangan yang akan dikembalikan.

“Iku lho nduk, keris yang tiba- tiba berada di balik bantal pengantinmu itu. Simbah suruh bawa pakdemu sebab kerisnya sering dolan-dolan sakarepe dewe. Lha pakdemu kan lebih paham babakan keris. Nang Jakarta akeh ahli keris, jadi simbah minta dibawa”, begitu penjelasan mbah Kakung.

” Lha tapi kok pakde pengin mengembalikan ke simbah? ” tanya Hera penasaran.

“Yo mungkin ora gelem manggon nyang Jakarta, ora tenang”, jawab simbah lagi.

” Ooh gitu ya mbah, keris wae ngerti panggonan tenang lan ora ya mbah”, komentar Hera.

” Lha iyo, isine kan yo bisa merasakan lebih cocok melu sopo”, lanjut simbah membuat Hera jadi deg-degan dan ingat keris yang pindah secara misterius ke bawah bantalnya disaat kerabat masih rame dan banyak keris menghuni rumah simbah.

Hara beranjak membuka travel bagnya mau mengambil handuk, ia mau mandi. Betapa kagetnya Hera. Ia kaget setengah mati, keris itu berada di dalam tas Hera. Persis di atas lipatan handuknya. Hera menjerit teriak memanggil simbah kakungnya.

” Mbaaah iki kerise simbah kok di tas, melu mulih aku!!” kata Hera sambil terheran-heran.

” Wellah bener po nduk? ” simbah Hera bergegas menghampiri.

” Iki pisau elek koyo ngene wae kok yo ngedap- edapi to yo”, sahut mbah putri.

“ Kene tak bungkuse kain mori wae”, lanjut mbah Putri.

” Rangkane sudah lawas dan kusam, maksud pakdemu mau dibuatkan rangka yang bagus. Mmakanya dibawa ke Jakarta.”

Begitu penjelasan mbah Kakung.

” Apa dia gak mau dibuatkan rangka rumah yang bagus ya mbah?” Hera bertanya.

” Mungkin juga, tapi yang jelas tidak kerasan berada di rumah pakdemu di Jakarta.”

Lalu simbah bercertita tentang asal muasal simbah menemukan bilah keris itu. Sederhana sekali, suatu hari simbah sedang macul membuat jogangan di kebun samping dekat pohon nangka. Saat memacul kedalaman setengah meter, simbah melihat sebilah besi mirip keris atau belati tidak ada cekungnya lurus saja. Oleh simbah lalu dibersihkan dan dicuci bersih. Lalu oleh simbah setri dibungkus mori. Entah mengapa simbah memperlakukan begitu. Mas Gatot waktu itu melihat bilah keris tanpa gagang lalu membuatkan gagang hendel dari kayu mahoni. Gagangnya proposional dengan bentuk bilah kerisnya. Mungkin keris itu merasa terawat dengan baik dan nyaman. Keris itu oleh simbah putri dibalut kain mori dan disimpan di lemari. Hera tahu saat mas Gatot membuat gagang memahat kayu mengaluskan dengan amplas lalu menyuruh Hera membelikan vernis agar gagang nampak mengkilat dan indah. Penghuni keris itu merasa diowongke mungkin. Demikian penjelasan mbah Kakungnya Hera.

Kemudian Hera pun bercerita, tentang kejadian waktu di kereta dua kali memanggil pramuniaga kereta untuk pesan minuman tapi tidak mendengar. Lalu mbah Soma yang diam saja sepanjang perjalanan dari Delanggu sampai desanya padahal Hera berusaha mengajak ngomong. Mau dikasih ongkos, mbah Soma  diam saja.

“Apa semua itu ada hubungannya dengan keris keramat itu ??”

“Ya mungkin wae nduk. “

“Lalu kenapa Hera lagi yang dipilih untuk ditumpangi keris?” Percaya atau tidak itulah yang dialami

“Ya mungkin keris merasa cocok ikut kamu nduk. Pramugara sepur kuwi mungkin ora isa ndelok kowe nduk. Jadi dipanggil-panggil nggak dengar. “

“Mbah Soma?”

“Sama kira-kira dia nggak bisa lihat kamu nduk.”

“Wah serem ya mbah. Padahal aku nggak mikir gitu blas.”

Dengan kejadian itu, Hera mempercayai bahwa isi alam semesta,  makluk yang kasat mata mau pun yang tidak kasat mata, semua mempunyai kehidupan dan kekuatan. Kita sebagai sesama penghuni bumi harus saling mengasihi dan saling memberi berkah. Bersimbiosis mutualisme. Hera pun berkonsultasi dengan simbahnya apakah kejadian tentang keris itu, akan ada pengaruhnya terhadap kandungannya. Kata simbahnya tidak masalah. Malah bisa menambah kekuatan.

Hera cuma semalam nginep di rumah simbahnya. Hera berencana mau ke Semarang, menengok rumah kosnya, memberi kejutan mbak Pertiwi mengajak makan mangut dan es blewah. Juga ingin ketemu Martono minta foto-foto KKN yang masih dibawa Martono. Hera tidak berkirim surat pada mereka, dia hanya mengandalkan feeling. Semoga mbak Pertiwi sedang tidak repot. Enaknya naik kereta dari Semarang adalah karena kereta ekonomi terakhir jam 21.00. masih cukup waktu untuk ngobrol dengan teman-temannya

Hera tiba di Semarang jam setengah dua siang. Waktu yang tepat, mbak Pertiwi sudah pulang dari mengajar. Dia kaget melihat  kedatangan Hera. To the point Hera mengajak mbak Pertiwi makan siang di warung mangut kawasan Singosari. Di situ biasanya Martono makan siang sepulang dari kampusnya ngajar.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.