Cerbung Prof Budi Santosa PhD & Dra Hersis Gitalaras (Seri 55)

Sebuah Pertaruhan

  • Whatsapp

KEMPALAN: Danang kembali ke Kalimantan melalui bandara A Yani Semarang bersama Manajernya. Hera juga kembali ke kosnya melanjutkan studinya, dan melanjutkan  skripsinya yang masih jauh dari selesai. Ada kelegaan tersendiri bisa sedikit ngibul ke orang tua Danang bahwa kuliahnya sudah selesai tinggal menunggu wisuda. Dalam hati Hera mengatakan,  semua mahasiswa juga sedang menunggu wisuda, hanya prosesnya menuju wisuda yang berbeda dan tidak mudah.

Tentang status Hera, dengan telah dilamar secara resmi dan dengan adanya pertunangan maka melingkarlah cincin di jari manisnya. Secara psikologis pasti ada yang berubah. Hera merasa tidak semerdeka sebelumnya. Walaupun tata lahir Hera masih sama seperti biasanya. Teman yang suka main dan berdiskusi masih tetap.  Mas Bagas masih mampir ke kosnya walau sangat jarang,  karena dia sudah lulus. Hera secara jujur menyampaikan, kalau dirinya sudah bertunangan dengan Danang. Mas Bagas seperti biasa dengan gayanya yang santai senyam-senyum tidak komentar dan bersikap biasa saja. Baginya pertemanan tidak mengenal status.

Hera tidak mengabarkan pertunangannya kepada Larso tidak juga kepada Agung. Hera benar- benar sudah kehilangan jejak Agung. Hera berusaha berhenti memikirkan ke dua cowok itu. Hatinya masih belum paham dengan keputusan mereka yang untuk ukuran orang berpendidikan tinggi, Hera menganggapnya sangat naif. Benar-benar Hera tidak mengerti jalan pikiran mereka berdua. Cinta kok mudah dihalangi dengan masalah politik, yang tidak ada sangkut pautnya. Intinya, baik Agung maupun Larso dan keluarga besarnya ketakutan jika  mereka menikah dan berumah tanggah dengan Hera, maka masa depannya tidak baik.  Sepicik itukah orang yang pinter, IQ nya tinggi?? Dimanakah letak keyakinan mereka kepada Tuhannya??

Sementara orang-orang yang dianggap mambu tidak berTuhan mereka menjalani hidup dengan sabar penuh  kepasrahan dan menyandarkan hidupnya pada Sang Maha Kuasa yang diyakini akan melindungi dan memberkahiNYA.  Tetapi itulah kenyataan yang terjadi di negeti ini.  Hera harus berdamai dengan kenyataan. Hera kadang berpikir,  jika gadis yang bernasib seperti Hera itu bukan dirinya, apakah dia akan kuat??  Apakah dia bisa menerima??  Apakah yang akan dia lakukan?? Hera trenyuh dan prihatin takut orang-orang yang frustrasi akan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya.Hera berdoa dan berharap dalam hati semoga orang-orang yang dianggap memiliki dosa turunan tidak patah semangat, terus berjuang menggali potensi dirinya, agar mampu bersaing,  eksis dan produktif.

Sebulan kemudian datang surat Danang mengabarkan bahwa sesuai saran Hera, Danang mengajukan permohonan pindah kerja di kantor Jakarta. Dengan bidang kerja yang sama dibagian Logistik, bedanya nya barang yang ditangani adalah barang riteil eceran Super Market yang jumlahnya puluhan ribu item dan barang kecil consumer goods. Dan mengabarkan jyga bahwa rate salarinya turun jauh lebih rendah. Hera kaget tetapi tetap menyarankan agar pindah.  Danang menurut karena jika Hera sudah menyarankan pilihan pasti sudah dengan pertimbangan yang matang. Termasuk menerima segala konsekuensinya.

Waktu berjalan sangat cepat tidak terasa skripsi  Hera sudah hampir selesai. Hera sangat diberikan kemudahan dan kelancaran, dosen pembimbingnya seorang dosen senior dan kebetulan seorang penulis yang cukuo terkenal. Masalah humaniora bukanlah masalah eksak, dosen itu manggut-manggut saja. Skripsi Hera selesai tepat sebulan sebelum jadwal wisuda yang digelar tiga kali dalam setahun, yaitu bulan Oktober, Februari dan Juli. Hera segera mendaftar dan mengajukan ke bagian akademis, untuk mendapatkan jadwal ujian. Hera optimis bernilai bagus untuk ujian Skripsi. Tetapi untuk ujian komprehensif, Hera tidak begitu optimis.  Harapan dan ucapan Hera ternyata seperti sebuah doa yang diaminkan oleh Tuhan dan alam semesta  mungkin karena harapannya selalu  dibarengi dengan usaha dan kerja keras. Hera sukses menempuh ujian skripsi dan ujian Komprehensif. Tentu dengan revisi sana sini yang tidak sulit.

Hera mengabarkan kegembiraan ini kepada keluarganya di Jakarta.  Dan juga ia akan pulang ke desa untuk  bercerita kepada simbah bagaimana situasi saat ujian. Simbahnya pasti akan senang sekali mendengar cerita-cerita yang seru dan berbau heroik. Hera juga segera menulis surat kepada Danang tentang berita gembiranya itu.

Tugas menuntut ilmu sudah sekesai, Hera bersiap memasuki dunia kerja. Hera tiba-tiba gamang bekal ilmunya dirasa  tidak cukup. Karena era kelulusan Hera  teknologi komputer sedang marak, dan di Universitasnya belum sempat diajarkan. Bagi mahasiswa yang sudah selesai ujian sebelum wisuda, universtas mengadakan program pengenalan bagaimana mengoperasikan Personal Computer. Apakah komputer itu, bagaimana mengoperasikannya. Itupun sekilas hanya diberi waktu tidak lebih darin setengah jam. Karena peminatnya banyak dan antri, sehingga kurang efektif bikin malah penasaran. Hera sebenarnya paling percaya diri jika bekerja sebagai guru.  Hera sudah pernah dengan menjadi guru ide-ide wawasan dan misi hidupnya tersampaikan. Tetapi ternyata peluang profesi itu tidak mudah Hera peroleh.

Hera putuskan segera merevisi skripsi, mempersiapkan wisuda dan segera  hijrah ke tanah kelahirannya Jakarta. Hera merencanakan untuk mudik ke Jakarta dahulu baru mudik ke Desa. Sejak dari acara bertunangan Hera belum betcerita secara langsung kepada ibunya tentang Danang yang sudah resmi menjafi tunangannya dan bercerita tentang kisah heroiknya sekilas. Kenapa Hera harus bercerita tentang hal itu, agar ibunya tahu bahwa penyatuan mereka,  Hera dan Danang, tidak serta merta berkenalan singkat, tetapi penuh liku-liku perjuangan yang panjang dan melelahkan sepeti telenovela. Hera membayangkan ibunya akan kaget dan haru mendengar kisahnya. Hera berkepentingan menceritakan hal ini kepada Ibunya. Kerena ibunya adalah sumber kekuatan dan doa  yang tidak pernah putus.

Kegembiraan Hera lulus ujian sepertinya  melebihi kegembiraannya saat hari pertunangannya dengan Danang. Hera sangat gembira tertawa lepas hatinya  ploong. Tertawa senang gembira itu adalah hak setiap orang,  tidak boleh ada yang melarang. Hal lain yang membuat Hera sangat lega dan terbebas dari rasa tertekan adalah sudah tidak ada lagi  acara meminta kiriman uang bulanan dari kakaknya.

Hera berencana membeli tiket kereta Ekonomi di Stasiun Tawang menuju Jakarta, pemberangkat paling akhir yaitu jam 21.00. Kebetulan sekali teman KKN nya yang bermata sipit Martono datang. Seperti ada yang menggerakkan Martono, entah mengapa tanpa disangka ada yang hadir pada saat yang tepat.  Tuhan memang punya banyak cara dalam menolong hambanya. Hera kaget sekaligus gembira. Mereka lalu terlibat dalam obrolan yang seru.  Setelah tanya kabar, Hera lalu bercerita bahwa dia sudah bertemu dengan Danang yang saat di KKN sempat dianggap sudah hilang. Hera juga bercerita sudah bertunangan. Dan tak lupa Hera bercerita tentang kegembiraan yang luar biasa sudah lulus ujian.

“Lho kok nggak mengabari aku? Aku bisa melakukan pemotretan saat tunanganmu. “

“Wah maaf nggak sempat. Lagi pula jauh di desa.”

“Lho nggak papa ke desa. Aku suka.”

“Gimana kalau saat wisudaku saja Mar? Dan saat pernikahan kelak?”

“Oh dengan senang hati, akan kulingkari kalenderku untuk acara wisuda UNDIP. Aku nggak akan ambil job lain. “

Hera tersanjung dengan kebaikan Martono. Padahal untuk Hera free of charge, alias  tidak berbayar. Sepertinya Martono yang baik itu mengerti kesulitan Hera. Martono orang yang hatinya tulus dan ringan tangan, enthengan, seperti seorang Pramuka. Martono suka menolong, suka berbuat baik dan tidak ada pamrih. Beruntunglah yang kelak menjadi istrinya, begitu. Hera membatin.

“Ayo aku antar ke stasiun”, demikain Martoo menawari Hera yang mau pulang ke Jakarta. dengan motor tuanya.

“Wah terima kasih. Nggak papa ya?”

“Iya nggak papa.”

Hera senang karena bawaannya banyak, pasti akan repot jika naik turun angkot. Hera harus mulai menyicil barang-barang karena sebulan lagi Hera sudah harus meninggalkan kosannya yang penuh kenangan itu. Sejatinya Hera sangat kerasan dengan tinggal di kosan itu. Tetapi bagaimana mungkin dia berlama-lama tinggal di situ, sementara kuliahnya sudah selesai  dan tidak ada pandangan pekerjaan di Semarang.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Berita Terkait