Lamongan

Lopang di Kala Gestapu

  • Whatsapp
Mbah Samin di kediamannya di Desa Lopang, Lamongan.

LAMONGAN-KEMPALAN: Desa Lopang adalah salah satu desa di Kecamatan Kembangbahu, Lamongan. Sekilas desa ini nampaknya seperti desa biasa, namun setiap wilayah memiliki kisah tersendiri, termasuk Lopang.

Salah satu penduduk desa berumur 87 tahun, Mbah Samin kerap dipanggil Mbah Haji, berkisah tentang suasana pada tahun 1960-an hingga Gestapu. Wilayah Lopang merupakan salah satu desa yang punya cerita politik di dalamnya. Mbah Samin sendiri semasa mudanya aktif di Pandu Islam, organisasi yang berafiliasi dengan Partai Masyumi. Mbah Samin sendiri ikut Pandu Islam karena keluarganya.

Masyumi jan e mbela rakyat, jan e mbela tani, jan e maju (Masyumi sebenarnya membela rakyat, membela tani, maju),” ujarnya seraya menambahkan daripada NU, Masyumi lebih baik saat itu, sementara Muhammadiyah belum terdengar di Lopang.

Adapun Mbah Samin menjelaskan NU terlihat lemah di pemerintahan karena memang fokus ke persoalan agama.

Ia juga menyampaikan Partai Masyumi paling bagus adalah jaman Burhanuddin Harahap, Perdana Menteri Kesembilan Republik Indonesia pada masa demokrasi parlementer, karena turun ke bawah.

Mbah Samin mengutarakan Masyumi bubar karena idenya berbeda dengan pemerintah saat itu, karena kalah politik saja. Menurutnya, semenjak Masyumi bubar, pemerintahan tambah lemah.

Pada masa itu, guru-guru turun ke lapangan, jika ada anak berumur tujuh tahun langsung diajak untuk masuk sekolah.

Ia menambahkan, pada zaman itu, sekolah-sekolah tinggi dikuasai PKI, sehingga lulusan sekolah jaman Gestapu banyak kena.

Seng grudak-gruduk melu wong PKI, melu kenek (yang kumpul-kumpul bersama orang PKI, ikut kena),” tambah pria berumur 87 tahun itu mengacu kepada kejadian pasca G30S, dimana banyak orang yang dipersekusi bukan karena mereka PKI, namun hanya karena dekat dengan PKI atau dengan kader PKI.

Ia menambahkan, pada zaman Gestapu, di Kembangbahu, banyak orang yang tidak tahu apa-apa, tidak tahu PKI, kena pembersihan oleh gerakan massa hanya karena terindikasi PKI. Hal ini membuat polisi angkat tangan, meskipun banyak orang yang lari ke kantor polisi untuk cari aman. (reza hikam)

Berita Terkait