Fellowship Jurnalistik Perubahan Perilaku

Pemberitaan Covid-19 di Media Jauh dari Inspiratif dan Edukatif

  • Whatsapp
Ilustrasi

Oleh:
Tofan Mahdi*)

KEMPALAN: Sejak awal Mei lalu, sebanyak 25 wartawan senior termasuk saya, ditunjuk Dewan Pers RI menjadi editor (kurator) pemberitaan media nasional tentang covid-19 dalam program Fellowship Jurnalistik Perubahan Perilaku (FJPP). Program yang digagas oleh Dewan Pers RI dan Satgas Nasional Covid-19 ini berangkat dari keyakinan bahwa pemberitaan media akan memberikan pengaruh besar terhadap sikap masyarakat dalam menghadapi pandemik covid-19. Berikut catatan singkat saya setelah sebulan pertama bergelut mengkurasi dan mengedit ribuan berita terkait covid-19 di Indonesia:

Independensi pers dilindungi oleh undang-undang. Program FJPP bukan dimaksudkan untuk mempengaruhi independensi pers dalam pemberitaan terkait covid-19. Karena yang dikurasi dan diedit adalah berita yang sudah dipublikasikan di media dan yang ditulis oleh wartawan peserta FJPP. Kurasi dan editing yang dimaksudkan adalah untuk perbaikan konten jurnalistik ke depannya baik bagi wartawan yang menulis maupun bagi media yang menerbitkan. Dewan Pers dan Satgas Nasional Covid-19 menunjuk para wartawan senior yang dianggap paham tentang kaidah/kaidah jurnalistik, azas penulisan berita, juga Kode Etik Wartawan Indonesia.

Beberapa nama lain yang juga duduk dalam Tim Editor FJPP ini antara lain Ahmad Djauhar (mantan Pemred Bisnis Indonesia), Dr Dhimam Abror Djuraid (wartawan senior dan doktor Ilmu Komunikasi Unpad), Bekti Nugroho (Komisioner KPi/ Komisi Penyiaran Indonesia), Rustam F. Mandayun (wartawan senior TEMPO), Imam Wahyudi (mantan anggota Dewan Pers), Erwan Widyarto (pemerhati media di Jogja), Endah Saptorini (praktisi media di London), Nurcholis M.A. Basyari (PWI Pusat), Dr Agus Sudibyo (Anggota Dewan Pers), dan beberapa nama lain.

Tentu saja tidak mudah melakukan kurasi dan editing ini. Karena dalam sebulan, satu orang editor setidaknya bisa mengurasi 500 berita dan memberikan saran dan masukan serta alasan jika berita tersebut ditolak masuk dalam berita FJPP. Namun dari pengalaman sebulan pertama melakukan kurasi ini, saya berani menarik kesimpulan bahwa pemberitaan media di Indonesia terkait pandemik covid-19 masih jauh dari sebuah berita yang informatif, inspiratif, dan edukatif. Jika pemberitaan media ini diharapkan bisa mengubah perilaku masyarakat agar semakin sadar bahaya covid-19, tentu kita masih punya pekerjaan rumah dan tantangan yang berat.

Didominasi Berita Rilis

Kita semua menyadari bahwa akibat pandemik ini, aksesibilitas menjadi terbatas. Termasuk mobilitas para wartawan untuk turun ke lapangan mencari berita. Namun tentu saja ini tidak bisa menjadi alasan bagi wartawan untuk tidak bisa menghasilkan berita yang bermutu: informatif, inspiratif, dan edukatif.

Presiden Joko Widodo, bersama Ketua Dewan Pers Indonesia Muhammad Nuh saat menyaksikan Vaksinasi Covid-19 para Jurnalis di Hall A Basket Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta. (Ist)

Dari sekitar 500 berita yang saya kurasi dan edit selama bulan Mei lalu, sekitar 80% adalah berita press release (siaran berita). Press release itu datang dari berbagai level otoritas pengambil kebijakan mulai dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan kota, kecamatan, hingga lurah dan desa. Banyak sekali berita yang hanya mengutip pernyataan pejabat selaku narasumber tanpa wartawan melakukan verifikasi di lapangan apakah yang disampaikan pejabat tersebut sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Berita seperti ini tidak salah, hanya kurang bisa menjelaskan kondisi lapangan yang sesungguhnya. Hampir tidak ada berita dari hasil pengamatan lapangan wartawan, misalnya, melakukan liputan di UGD sebuah rumah sakit untum melihat ada atau tidaknya pasien-pasien baru covid-19. Seandainya pengamatan lapangan seperti ini ada dan menjadi berita tentu akan menjadi acuan apakah pernyataan resmi pejabat setempat bahwa pandemik covid-19 di wilayah mereka sudah terkendali, benar atau sekadar retorika.

Karena tujuan dari FJPP ini adalah bisa mendorong perubahan perilaku masyarakat, memperbanyak berita tentang warga yang sembuh dari covid juga bisa menjadi berita yang inspiratif. Juga tentang keluarga yang kehilangan anggota keluarga lainnya karena covid juga akan menjadi berita human interest yang bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat agar semakin berhati-hati di tengah pandemik.

Saat artikel ini saya tulis, grafis kasus positif covid-19 di Indonesia kembali naik. Sementara itu beberapa negara seperti Singapura, sudah semakin terkendali. Teman-teman wartawan peserta FJPP harus semakin mempertajam konten dan kualitas beritanya sehingga bisa membantu upaya pemerintah dalam menghentikan penyebaran pandemik covid-19 di Indonesia. (*)

Jakarta, 5 Juni 2021

*Tofan Mahdi, mantan Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos dan Anggota Tim Editor Fellowship Jurnalistik Perubahan Perilaku (FJPP)

Berita Terkait