Cerbung Prof Budi Santosa PhD & Dra Hersis Gitalaras (Seri 50)

Sebuah Pertaruhan

  • Whatsapp

KEMPALAN: Beberapa hari Hera menenangkan hatinya. Keyakinan ke-Ilahiannya sangat kuat. Hera percaya sepenuh hatinya bahwa Tuhan Semesta Alam, Sang pemberi hidup akan selalu menguatkan, merengkuh dan melindunginya, lebih dari manusia sekalipun manusia itu sangat mencintainya. Manusia hanyalah manusia dengan segala keterbatasannya. Hera menganggap nasib yang menimpanya adalah ujian dan tempaan agar dia bermental kuat, teguh dalam mewujudkan cita-citanya. Hera memang bersumpah dengan geram bahwa dia tidak pantas untuk disepelekan, oleh orang-orang yang bernalar sempit.

Sebagai anake wong mambu dia ingin sekali membuktikan bahwa dia bisa hidup sukses, bermanfaat bagi orang lain, dan tidak tergantung pada pemerintah yang telah mengucilkannya. Hera bersumpah tidak ingin menjadi PNS. Hera ingin bekerja di sektor swasta atau menjadi wirausaha. Sejatinya Hera memilik sifat humoris mudah bergaul, ceria, enak diajak ngobrol. Tetapi dibalik keceriaan sifatnya itu, sejak kecil hingga dewasa ternyata hidup Hera penuh kubangan airmata. Banyak peristiwa yang telah membuatnya menangis.

Tetapi sejak peristiwa Larso ini, dia berjanji tidak ingin menangis lagi. Tidak ingin meratap lagi. Kembali Hera teringat pada mas Raharjo, mas Purnomo, mas Bagas, mereka baik- baik dan dijamin tidak mempersoalkan statusnya. Tetapi kenapa Hera menyia-nyiakannya, tidak memilih salah satu dari mereka,  malah memilih para cowok yang dilarang keluarganya. Ibunya dulu terbukti bijaksana tap kadang anak muda memilih jalannya sendiri yang dia pikir lebih baik. Atau mungkin ini adalah kehendakNYA, agar Hera dapat dijadikan contoh bahwa diskriminasi, stigma, ketidakadilan, perendahan martabat manusia atas manusia yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat,  nyata-nyata terjadi di bumi pertiwi negaranya. Tuhan ingin menunjukan  bahwa nasib seperti yang menimpa Hera  dan pasti banyak lagi lainnya, adalah untuk menguji dan membuat manusia-manusia kuat dan berprinsip tetap mampu bertahan. Seberapapun negara menekan rakyatnya yang tidak bersalah, alam tetap menyediakan keberkahan dan jalan hidup yang penuh berkah.

Hera menulis surat balasan untuk Larso dengan baik tegas tegar tidak seperti orang yang sedang terluka. Dia ingin memulai suatu karakter dan sikap baru bahwa kekerasan atau ketidakadlan tidak harus dibalas dengan dendam. Karena jika itu yang dipilih maka tidak akan ada habisnyalingkaran dendam itu. Hera ingat kisah Nelson Mandela yang saat itu sedang berjuang membangun tradisi baru di Afrika Selatan. Tidak mudah.

Hera mempersiapkan kertas dan menulis dengan tenang.

Kang Larso,

Trimaksih untuk suratnya yang panjang dan detail melaporkan hasil PRku. Jika ditinjau dari dunia sastra, maka surat kang Larso itu termasuk bergenre “melodrama tragedi”.  Ya, tragedi anak manusia bernama Hera dan Larso. Walaupun hati tercabik-cabik dan tesayat sakit, tapi saya tidak akan dendam dan protes. Karena tidak ada gunanya.  Hidup ini pilihan.  Dan kang Larso sudah memilih untuk tidak melanjutkan berhubungan denganku dengan alasan yang sudah kang Larso kemukakan. Walaupun di jaman modern alasan seperti itu sulit untuk aku terima, tetapi untuk keputusanmu,  aku menerima dengan ikhlas. Keputusan kang Larso untuk memilih tidak melanjutkan berhubungan dengan aku sebagai tanda bakti, adalah keputusan yang berani sekali. Terimakasih kang Larso sudah jujur mengemukakan, tidak menutup-nutupi.

Sebenarnya jauh-jauh sebelumnya intuisiku sudah bekerja dan menyiapkan diri untuk bisa menerima keputusan ini dengan tenang. Tapi tak urung, aku menangis sedih, setelah baca suratmu itu. Adalah hal yang wajar karena aku sudah kehilangan harapan.  Namun saat kutulis surat ini hatiku sudah tenang dan kuat.  Berkali-kali  di surat kang Larso menulis permintaan maaf padaku. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Ini bukan benar atau salah. Terimakasih untuk doa yang indah di akhir suratmu. Demikian pula harapanku kang larso sukses berhasil mewujudkan cita-cita para pinisepuh, yaitu kelak kang Larso menjadi pejabat di pemerintahan. Dan mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik dan tidak mambu.

Matrunwun ya kang Larso untuk semua kebaikanmu. Kita tetap bersaudara dan bersahabat.

Salam. Hera.

Surat Hera kepada Larso sedang saja, tidak panjang, tetapi memperlihatkan ketegaran dan keikhasan.

Pikiran Hera kini beralih ke Danang. Sebelum menerima surat Bom dari Larso, sebenarnya Hera sedang terhibur dengan kiriman wesel dari Danang yang cukup besar untuk ukurannya. Bagi Hera ini point penting, karena bukti bahwa Danang peduli dan tanggap dengan kesulitan Hera. Namun demikian Hera sekarang tidak mau banyak berharap. Hera ingin datar-datar, ingin biasa saja. Tidak penuh harap tetapi juga bukan tidak peduli.

Ia mendengar info dari adiknya bahwa sebenarnya Danang pergi ke Kalimantan karena dijodohkan dengan adik sepupu iparnya. Info dari sumber yang lain perjodohan kali ini cenderung logis, bukan semata- mata tidak membolehkan dengan Hera karena anake wong mambu. Tapi karena komitmen kekuarga besarnya, dan ada semacam unsur balas budi. Cerita yang Hera peroleh,  ketika keluarga Danang kepepet harus menyiapkan dana yang cukup besar untuk berbagai keperluan, maka si ipar sepupu memberi dana dengan membeli sawah warisan milik ibu Danang. Sebenarnya  berat hati ibu Danang melepas warisan tinggalan orang tuanya.Tetapi, apalah daya kebutuhannya sangat mendesak. Lalu muncul niat menjodohkan Danang dengan adik ipar sepupu. Ditambah Danang dicarikan pekerjaan yang baik, di kantor si sepupu ipar di Kalimantan itu. Dua keluarga saling sepakat, mungkin dengan pertimbangan sawah itu bisa kebeli lagi. Hera tidak tahu apakah Danang tahu atau tidak tentang perjodohan lni.  Dalam kasus perjodohan ini Hera melihat,  lebih masuk akal, balas budi win- win solution. Sehingga dapat merubah persepsi Hera,  penolakan terhadap Hera kali jni, menjadi bukan karena Hera anakne wong mambu. Penolakan akan terjadi kepada siapapun perempuan yang dikehendaki Danang, bukan terhadap Hera saja. Hera akan diam saja.  Biarkan itu menjadi urusan keluarga besar Danang. Tentang Danang, dalam pikiran Hera ada tiga kemungkinan. Kemungkinan pertama dia kabur dari Kalimantan lari dari perjodohan itu. Kemungkinan ke dua dia bersedia dijodohkan dan kemungkinan ke tiga tidak bersedia tetapi tetap kerja di Kalimantan. Dugaan Hera pada kemungkinan yang pertama,  dengan Danang akan meminta pertimbangan Hera. Yang pasti Hera  mendukung saja apa keputusan Danang. Kesederhanaan berpikir Danang menumbuhkan rasa empati pada Hera.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Berita Terkait