Kunjungan Kerja

Jangan Bawa Masalah Pusat ke Daerah

  • Whatsapp
KUNJUNGAN KERJA KE SULAWESI SELATAN: Ketua DPD RI La Nyalla Mahmud Mattalitti berbincang dengan Bupati Pangkap Muhammad Yusran Lalogau di rumah jabatan bupati Pangkep, Jumat (28/5).

Catatan Prof Dr Sam Abede Pareno, MM,MH.

KEMPALAN: Kalimat sebagai judul di atas saya kutip dari pernyataan La Nyalla ketika pulang kampung leluhur alias berkunjung ke Sulawesi Selatan. Lengkapnya pernyataan beliau dalam acara makan malam di kediaman Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman, 27 Mei 2021 lalu, sebagai berikut: “Ketika saya terpilih sebagai ketua DPD, saya sampaikan pada anggota bahwa tugas kita bawa aspirasi daerah ke pusat. Jangan bawa masalah pusat ke daerah, membuat kepala daerah pusing,” kata La Nyalla.

Pernyataan ketua DPD tersebut menunjukkan konsistensinya terhadap kebijakan “bottom up”, bukan “top down” seperti yang dipraktikkan oleh pemerintah pusat berupa uniformitas, yaitu menyeragamkan kebijakan di seluruh wilayah NKRI tanpa mempertimbangkan kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di berbagai daerah.

Pernyataan La Nyalla tersebut sesuai pula dengan slogan keinginan para milenial pendukungnya untuk menjadikannya sebagai RI satu, yaitu “Dari Daerah untuk Indonesia”. Sejumlah statements yang dilontarkan La Nyalla mewarnai komitmen kuat atas slogan tersebut. Beliau tak ingin mengecewakan pendukungnya yang tentunya tersebar se Indonesia.

Sebagai keturunan Bugis Makassar, La Nyalla hanya lahir di Jakarta kemudian tumbuh dan menapak karir di Surabaya yang kental juga nilai kedaerahannya dengan budaya arek yang bersinggungan dengan budaya Madura (tapal kuda), pendalungan, mataraman. Ketokohan La Nyalla adalah ketokohan yang memadukan budaya-budaya lokal tersebut. Beliau sangat peka terhadap kasus-kasus yang menimpa daerah, sehingga DPD merupakan maqom yang tepat baginya.

Mujurnya, nama beliau merupakan nama asli Bugis Makassar, walau mungkin beliau tak terbiasa menggunakan bahasa leluhurnya. Nama ayahnya Mahmud, nama ibunya Fauziah. Nama saudara-saudaranya Gadis Nurlaila (dokter spesialis penyakit dalam), Machniza SH.CN (tenaga nonakademik Unair), Ir Muh.Abduh (Dinas Bina Marga Jatim), Hafsah,Ssos (pengusaha), Hamsiah, SE (ibu rumah tangga). Nama Indonesia khususnya islami.

Hanya La Nyalla yang lain dengan saudara-saudaranya. Mungkin kedua orangtuanya ingin agar La Nyalla punya semangat seperti pahlawan Bugis Makassar abad ke-14 La Galigo atau minimal membawa semangat kedaerahan agar tidak melupakan kampung halaman sebagai asal usul mereka, dan alhamdulillah keinginan ini tercapai.

Jika kita mendengar nama La Nyalla pada mulanya tentu membayangkan bahwa sosoknya sangat asing, namun setelah mengetahui lebih dekat, ternyata beliau bisa “njawani”, suka bergurau, ramah, dan berjiwa sosial. Beliau berkawan karib dengan siapa saja.

Kembali pada pernyataannya di depan Plt Gubernur Sulsel pada 27 Mei 2021 lalu. Hal itu bukan hanya pernyataan melainkan juga dipraktikkan oleh La Nyalla sesuai slogan “Dari Daerah untuk Indonesia”. Slogan ini harus dinyalakan, artinya harus hidup dalam sanubari rakyat Indonesia. Insyaa Allah.

Surabaya, 29 Mei 2021.

Berita Terkait