Edukasi

Berdaya, Lansia Bisa Jadi Agen Perubahan Tangkal Radikalisme

  • Whatsapp
Screenshot webinar bertajuk "Lansia Menangkal Radikalisme"

SURABAYA – KEMPALAN : Meski berusia lanjut, bukan berarti hanya menjadi beban bagi generasi muda. Sebaliknya, lansia yang berdaya bisa menjadi agen perubahan. Termasuk menangkal radikalisme.

Hal itu disepakati dalam perbincangan bertajuk Lansia Menangkal Radikalisme, diselenggarakan WGWC, Tanoker dan Aman Indonesia Sabtu (29/5). Indonesia memang memperingati 29 Mei setiap tahunnya, sebagai Hari Lanjut Usia Nasional.

Salah satu peran nyata ditunjukkan oleh Sekolah Yang-Eyang yang berada di Kecamatan Ledokombo, Jember. Insiator Sekolah Eyang, Juhariyah mengatakan salah satu pengajaran melalui gerakan Sistem deteksi dini ekstrimisme (SITI).

Hal ini, kata Juhariyah, didorong pengalaman salah satu peserta sekolah sendiri. Salah satu anak lansia ini, dikenal cerdas dan penurut sepanjang menghabiskan pendidikan dasar hingg SMA. Namun, semua berubah setelah dia menempuh pendidikan tinggi di kota.

“Setelah keluar rumah kemudian kuliah, itu yang menjadi pemikiran, karena setiap pulang, dia itu sedikit-sedikit mengatakan kepada orang tuanya. ini haram, ini tidak boleh. Jadi dari anak pendiam dan cerdas, dia kemudian membentak dan berani kepada orang tua,” kata Juhariyah.

Pinky Saptandari, pendiri Lansia Sejahtera Surabaya (LSS) mengapreasiasi peran yang telah dijalankan oleh Sekolah Eyang. Karena mampu memberikan pengasuhan berbasis komunitas. Pembelajaran Sekolah Yang-Eyang juga dilakukan secara mandiri dan aktif dalam melakukan penyadaran kritis dalam keberagaman, ke-Bhinekaan, dan perdamaian.

“Usia bukan halangan untuk mengangkat isu radikalisme dan intoleransi,” tuturnya.

Dia mencatat ada tiga peran Sekolah Yang-Eyang yaitu peran ekonomi, mengorganisasi isu sosial politik dan aktivitsas di komunitas. “Sekolah Eyang mampu mempengaruhi secara sosial, membangun kegotongroyongan, kepatuhan komunitas hingga mampu ikut menangkal pengaruh intolerasi yang memecah belah,” ujar dosen psikologi Universitas Airlangga itu.

Menurutnya, perlu untuk menghilangkan stigma negatif lansia dan membuktikan jika lansia mampu berpihak dan membangun kepedulian masyarakat, juga berperan dalam menangkal radikalisme.

“Apa yang dilakukan Sekolah Yang-Eyang menunjukkan bahwa lansia bisa jadi agen perubahan, pengalaman pahitnya asam garam, sumber informasi transformasi kultural dan struktural, sehingga bisa menangkal intolerasi,” tegasnya.

Adapun tantangan utama lansia untuk berdaya adalah bagaimana berperan aktif dalam melawan marginalisasi dan fundamentalisme. Serta memiliki keterampilan di dalam berkomunikasi di era digital yang pesat.

Adapun anggota DPD Kanjeng Ratu Hemas mengatakan lansia yang punya semangat dan berdaya bisa untuk ikut menjaga Indonesia. “Usia bukan halangan,” ujarnya.

Salah satu peran lansia menjaga Indonesia melakukan pengajaran niilai luhur bangsa, keragaman budaya dan juga mengajarkan agama.

“Pemahaman nilai-nilai Pancasila bisa dilakukan lewat kegiatan mendongeng, mengenalkan ragam budaya Indonesia. Dan Negara beri kesempatan yang sama bagi lansia untuk ikut mempertahankan NKRI,” pungkasnya. (Nani Mashita)

Berita Terkait