Kamis, 30 April 2026, pukul : 14:32 WIB
Surabaya
--°C

Pakar Politik Rusia: Israel Tak Akan Izinkan Tentara Perdamaian PBB di Wilayahnya

MOSKOW-KEMPALAN: Konflik Israel-Palestina selama 11 hari terakhir telah berhenti dengan adanya gencatan senjata yang diserukan oleh Joe Biden, Presiden Amerika Serikat. Konflik tahun 2021 ini termasuk yang terparah. Kedua belah pihak menderita korban jiwa maupun luka-luka.

Dalam sebuah wawancaranya dengan Konstantin Truetsev, peneliti di Institute of Oriental Studies dari Russian Academy of Sciences, Anadolu Agency menyebutkan bahwa peningkatan ketegangan di Yerusalem dan Jalur Gaza adalah dampak dari kesepakatan AS yang merugikan Palestina. Kesepakatan itu berisikan dua hal: normalisasi Israel dengan negara-negara Arab dan kontribusinya terhadap keamanan Timur Tengah.

Adapun Truetsev menekankan, kerugian lain Palestina disebabkan oleh persetujuan AS terhadap pendudukan Yerusalem Timur, membuat Palestina kehilangan kesempatan mendirikan ibukota di lokasi tersebut, seperti yang ditetapkan oleh keputusan PBB, termasuk Dewan Keamanan PBB yang mengikat secara internasional.

“Tahun ini, akhir bulan suci Ramadhan bertepatan dengan Hari Yerusalem bagi umat Yahudi. Dan perayaan tersebut berlangsung di tempat yang sama. Jika ada ketegangan, seperti dalam kasus ini, seringkali mengakibatkan bentrokan. Dan tahun ini, juga bertepatan dengan fakta bahwa Israel mulai mengusir warga Palestina dari Yerusalem Timur. Bentrokan pertama kali terjadi antara orang-orang radikal Palestina, kebanyakan anak muda, dan polisi dan tentara Israel. Para pemuda ini melempar batu ke polisi dan tentara dan tentara merespon dengan peluru, kebanyakan (peluru) karet, namun pada akhirnya tidak hanya (peluru) karet,” ujarnya seperti yang dikutip Kempalan dari Anadolu Agency.

Ia juga menyampaikan, Palestina sangatlah rentan karena telah kehilangan hampir seluruh pelindung luar negerinya, padahal dulu ia disokong oleh sejumlah negara Arab, sementara sekarang hanya bersandar pada Qatar. Bahkan UEA, Mesir, dan Yordania membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

“Iran jauh sekali. Seperti yang dikatakan saat itu, ketahanan negara-negara Arab terhadap Israel berbanding terbalik dengan jarak antara mereka dan perbatasan Israel. Libya dan Aljazair mendukung untuk melawan Israel. Aljazair masih sangat mendukung Palestina hari ini, tetapi di mana Aljazair dan di mana Israel? Iran bisa saja bentrok dengan Israel ketika membangun infrastrukturnya melalui Irak, Suriah, mencapai perbatasan Israel di dekat Dataran Tinggi Golan, dan terhubung dengan Hamas di Lebanon. Namun pada 2019, di sana ada pemberontakan di Irak, karakternya anti-Irak jika Anda pikir, dan infrastruktur ini hilang,” kata pakar Rusia itu.

Ia mengatakan bahwa jika Israel mengepung Jalur Gaza, roket tidak akan berhenti menyasarnya. Membawa pasukan perdamaian tujuannya adalah memisahkan pihak yang berseteru, pada kasus dua negara ini, keduanya sudah terpisah, adapun juga susah untuk membedakan orang biasa dengan orang radikal di Israel.

“Dan Israel tidak akan pernah mengizinkan seorang penjaga perdamaian untuk dimasukkan ke wilayahnya, karena Israel menganggap dirinya sebagai negara yang mandiri, karena bagi Israel itu akan menjadi penghinaan nasional,” tambahnya. (Anadolu Agency, reza hikam)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.