SURABAYA-KEMPALAN: PLONG sudah hati Heri Saptono. Sarjana Teknik Perminyakan ITB (1985) ini sudah lama sekali memendam sebuah keinginan. Yakni memiliki warung kopi dengan mengangkat budaya Jawa yang cukup kental.
Lengkap dengan joglo, patung, dupa, keris, gebyok, dan ornamen Jawa kuno yang lainnya.
Maka, setelah mengakhiri tugasnya sebagai salah satu petinggi perusahaan di Sumatera Selatan (2014), Heri Saptono nekat mendirikan Kopiganes di kawasan Keputih Tegal (Sukolilo), Surabaya. Lokasinya tidak jauh dari kampus ITS dan Universitas Hang Tuah. Luasnya 400 meter persegi.
“Di sini suasanya relatif tenang. Tentang namanya, saya terinspirasi atas makna Ganesha sebagai simbol insanul kamil,” kata lelaki 60 tahun ini.
Butuh waktu hampir setahun untuk mendirikan Kopiganes. “Tak ada kesulitan apa pun selama membangunnya. Sebab, saya melakukannya dengan senang hati. Selain itu pada dasarnya saya tidak punya keinginan yang berlebihan. Hidup dijalani seperti air mengalir. Sederhana saja,” paparnya.
Walaupun sangat kental dengan nuansa Jawa kuno, namun Heri mengaku tak membutuhkan ritual khusus sebelum mendirikan warungnya tersebut. “Saya tak pernah berkunjung ke makam-makam leluhur, atau bikin ritual istimewa sebelum membangun tempat ini. Semuanya mengalir begitu saja,” sambung dia.
Untuk memanjakan tamu-tamunya, Heri pun mengandalkan menu seduhan kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Agar semua kalangan bisa menikmatinya, maka dia pun memasang harga standar saja.
Antique Look

Puluhan keris sengaja dipajangnya untuk memperkuat kesan tempo doeloe Kopiganes. Begitu pula patung-patung jadul menghiasi beberapa sudut tempat kuliner yang satu ini.
“Ini patung repro. Sebab, saya ingin melahirkan kesan antique look khas Jawa,” tegas Heri.
Dan, begitu pengunjung memasuki Kopiganes akan tercium wangi dupa yang dibakar. “Dupa tersebut untuk aroma terapinya,” kata Heri.
Tidak mengherankan kalau Kopiganes sering dijadikan lokasi syuting, atau tempat diskusi budaya Jawa. Baik oleh mahasiswa, maupun praktisi kebudayaan Jawa di Surabaya.
“Tentu saja saya sangat mendukung aktivitas tersebut. Karena pada dasarnya saya sangat mengagumi budaya Jawa,” jelas Heri yang membuka tempat bisnisnya itu mulai pukul 4 sore. (sulaiman/m taufiq)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi