Kamis, 30 April 2026, pukul : 03:59 WIB
Surabaya
--°C

Mahasiswa ITS Sulap Buah Mangrove Jadi Makanan Pendamping Air Susu Ibu

SURABAYA – KEMPALAN : Mangrove dikenal sebagai tanaman pelindung daratan dari gelombang air laut. Namun, di tangan lima mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), tanaman itu disulap menjadi Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI).

Lima mahasiswa itu yaitu Miftahul Jannah, Sarazen Shalahuddin Akbar, Widya Anastasya Ningtiyas, Nova Ainur Rohma, dan Ardi Lukman Hakim. Mereka meraih medali silver dalam kompetisi Business Plan yang diadakan Edutainer Nusantara Fair (ENF) 2021 berkat ide MPASI berbahan dasar buah mangrove.

Mereka mengamati MPASI yang beredar di pasaran mengandung protein berupa gluten karena masih berbasis tepung terigu. Padahal tidak semua bayi dapat mengonsumsi gluten karena dapat menimbulkan gangguan jaringan saraf dan fungsi otak bagi bayi penderita autisme dan penyakit celiac.

“Salah satu bahan pangan bebas gluten yang bernutrisi tinggi ialah buah mangrove,” ujar Miftahul Jannah, ketua tim, Senin (17/5).

Mahasiswi angkatan 2019 ini menjelaskan, buah mangrove yang digunakan ialah yang berjenis lindur karena kandungan nutrisinya tinggi dan dapat diolah menjadi tepung. Tepung buah mangrove sejatinya telah memenuhi kriteria bahan pangan yang sehat, yaitu mengandung protein, serat, dan vitamin.

“Pemanfaatan buah mangrove juga upaya memaksimalkan potensi sumber daya lokal yang melimpah namun belum banyak dimanfaatkan,” tambahnya.

Selain berbasis tepung buah mangrove, menurut Miftahul, produk MPASI yang diberi nama RooveBites ini juga ditambah kandungan asam amino dan riboflavin dari Glycine max.

“Asam amino dan riboflavin merupakan mikronutrien yang diperlukan dalam masa pertumbuhan bayi,” terang gadis kelahiran Sukoharjo ini.

RooveBites memiliki dua varian produk, yaitu RooveBites Porridge berupa bubur untuk bayi berusia di bawah 6-12 bulan dan RooveBites Toddler berbentuk biskuit untuk bayi berusia di atas 12 bulan. Dikemas dalam bentuk standing pouch dan sachets berbahan aluminium foil.

Dipaparkan Miftahul, sebelum diolah menjadi bubur dan biskuit, buah mangrove terlebih dahulu diproses menjadi tepung. Pada tahap awal buah akan direbus selama 20 menit kemudian dikupas dan dipotong. Tahapan berikutnya buah kembali direbus menggunakan abu sekam lalu dicuci.

“Pada perebusan kedua buah perlu direbus lebih lama untuk menghilangkan kandungan sianida dan tanin yang berbahaya bagi kesehatan,” papar mahasiswi kelahiran Juli 2001 ini.

Lebih lanjut, bebernya, hasil perebusan kedua yang telah dicuci akan direndam selama 48 jam lalu dikeringkan dan digiling menggunakan blender. Setelah digiling, buah akan berbentuk tepung yang kemudian akan dicampurkan dengan Glycine max.

“Tepung inilah yang kemudian diolah menjadi bubur instan dan biskuit yang pengolahannya seperti pada umumnya,” jelas alumnus SMAN 1 Sukoharjo ini.

Mahasiswi yang saat ini aktif di Himpunan Mahasiswa (Hima) Kimia ITS menjelaskan rancangan pemasaran produk sendiri, tim ini memanfaatkan penjualan daring lewat platform e-commerce dan mempromosikan produk di lokasi yang ditargetkan.

“Pemasaran offline mengutamakan daerah sekitar toko bayi, rumah sakit anak dan bayi, klinik anak dan bayi, tempat penitipan anak dan bayi, serta komunitas pengidap autisme,” terangnya.

Ke depannya, tim yang dibimbing Herdayanto Sulistyo Putro SSi MSi ini berharap bahwa produk ini dapat diuji lebih lanjut dan dapat diedarkan ke pasaran.

“Harapannya, produk ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat dan dapat dipasarkan dalam skala nasional hingga internasional,” tandasnya penuh harap. (Nani Mashita)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.