ABUJA-KEMPALAN: Kelompok militan Boko Haram yang memulai tindakannya pada 2009, “secara teknis dikalahkan” ujar Presiden Muhammadu Buhari ketika ia naik ke tampuk kepemimpinan Nigeria pada 2015 silam. Pada kenyataannya, kelompok militan itu tidak kalah sepenuhnya, meskipun tentara Nigeria berhasil merebut kembali wilayah yang dulunya dikuasai Boko Haram.
Bukti bahwa mereka masih ada ialah 100 serangan yang terjadi pada 2021, baik pada pihak tentara maupun sipil, dengan sejumlah besar makanan dan obat-obatan dirampok oleh Boko Haram. Berkata pada BBC, seorang pakar membeberkan enam alasan kenapa teroris Nigeria itu tidak bisa sepenuhnya dikalahkan.
- Sumber permasalahan belum diketahui
Analis keamanan dari Beacon Consulting, Kabiru Adamu mengatakan, Pemerintah Nigeria terlalu menekankan penggunaan strategi militer dalam menghadapi Boko Haram menunjukkan ketidakmampuan negara dalam menghadapi ancaman tersebut.
“Itu kenapa, sayangnya, selama 11 atau 12 tahun melaksanakan operasi kontra-insurgensi, kita tidak melihat keberhasilan besar,” ujarnya kepada BBC. Ia membenarkan bahwa tentara mengusir para teroris namun kelompok itu masih mampu menggunakan pengaruhnya dan melakukan perekrutan. Boko Haram masih mampu meregenerasi pendanaan sehingga mereka masih bisa membeli senjata.
Baginya, bukan simpati masyarakat Timur Laut Nigeria yang membuat Boko Haram dan sempalannya masih bertahan, melainkan pengabaian Pemerintah Nigeria dan keputusasaan yang membuat orang bergabung ke dalam kelompok militan tersebut.

“Kenyataannya adalah untuk mengatasi pemberontakan atau terorisme, Anda membutuhkan lebih dari operasi militer. Anda perlu mengatasi akar penyebab pemberontakan,” kata Adamu seperti yang dikutip Kempalan. Akan tetapi, menurutnya, masih belum banyak upaya untuk mencari tahu penyebab pemberontakan.
Menurut Kabiru, lemahnya tata kelola pemerintahan membuat penduduk menjadi miskin, frustasi, dan tidak terdidik yang menjadi “penyebab utama.” Ada juga prakarsa besar pemerintah yang berusaha mempercepat pembangunan, tapi perkembangannya sangat lamban. Strategi Penanggulangan Terorisme Nasional di Nigeria yang berkaitan dengan perkembangan ekonomi juga tidak sepenuhnya diterapkan.
- Kemampuan Boko Haram untuk merekrut
Bulama Bukarti dari Tony Blair Institute for Change mengatakan, kampanye sistematis perekrutan paksa pemuda” juga dilakukan oleh Boko Haram. Sementara itu, Abdullah Yalwa, pakar keamanan menambahkan bahwa orang sudah siap direkrut demi tujuan bertahan hidup. Ditambah lagi Gubernur Borno, Babagana Zullum mengatakan kepada CNN, para pemberontak merekrut orang-orang yang sebelumnya terpaksa keluar dari wilayahnya karena konflik dengan kelompok militan tersebut.
- Kurangnya persenjataan
Kembali kepada Kabiru Adamu, ia menyatakan, dalam perkara pertempuran, Ketentaraan Nigeria selalu kekurangan senjata yang mumpuni untuk menghadapi kelompok militan itu. Hal ini didukung dengan data penelitian dari firmanya yang menunjukkan ada 6,5 juta senjata yang tersirkulasi di Nigeria, namun hanya 586.000 yang dimiliki oleh tentara.

Angka tersebut bukan berarti sisa senjata lainnya dipegang oleh Boko Haram, namun angka itu memperlihatkan bahwa sebagian besar senjata tidak berada di tangan militer. Adamu menambahkan, “apa yang kami lihat berdasarkan bukti adalah bahwa kelompok ini sayangnya memiliki kaliber senjata yang lebih tinggi daripada militer.”
- Korupsi
Korupsi adalah permasalahan umum yang terjadi di negara dunia ketiga, Nigeria tidak terkecuali. Korupsi mungkin menjadi satu-satunya batu sandungan militer dalam mengembangkan persenjataannya. Ditengarai bahwa sejumlah besar uang yang seharusnya digunakan untuk melawan kelompok militan itu justru masuk ke dalam saku para pejabat.
Sementara itu, Yalwa mengatakan, dalam beberapa kasus, pertempuran melawan Boko Haram dilakukan dengan setengah hati dan “nampaknya sejumlah orang justru membeli pernak-pernik dan memperkaya diri.”
Padahal pada tahun 2018, Donald Trump mengirimkan pesawat Super Tucano yang memberikan superioritas udara kepada militer Nigeria, yang bagi Adamu, tidak digunakan secama maksimal, walaupun ada klaim bahwa superioritas itupun tidak membuahkan hasil.
- Strategi militer yang tidak berjalan
Tambahan lagi dari Bukarti yakni para pemberontak itu memahami dan beradaptasi terhadap pola serangan udara militer dan menggunakan kelebihan atas dataran yang sulit dijangkai di Timur Laut Nigeria untuk menghindari serangan militer.
Dalam beberapa tahun terakhir, tentara telah menarik pasukan dari markas kecil dan mempusatkan personelnya dalam formasi besar yang dikenal sebagai Kamp Super. Strategi ini diadopsi pada tahun 2020 ketika pasukan Nigeria diserang secara terus-menerus dan senjatanya dicuri, akan tetapi kebijakan ini membuat sejumlah besar masyarakat pedesaan tidak terlindungi.
“Kami memiliki bukti yang menunjukkan peningkatan serangan terhadap komunitas antara periode ketika Super Camp dibuat dan sekarang. Jadi jelas Kamp Super membuat komunitas pedesaan lebih rentan,” kata Adamu kepada BBC. Ketentaraan Nigeria juga terhambat oleh celah pengumpulan informasi serta tidak bisa menutup kebocoran informasi. Sehingga menurut Yalwa, Boko Haram seringkali selangkah di depan militer.
- Pengaruh Boko Haram yang semakin meluas
Ada kekhawatiran bahwa geng-geng kriminal bersenjata di bagian lain utara dan tengah negara itu menjalin hubungan dengan para militan. Tahun lalu, Boko Haram merilis video yang mengklaim keberadaannya di negara bagian Niger yang jauh dari wilayah operasi biasanya.
Pihak berwenang di sana mengeluarkan pernyataan pada Maret yang mengatakan pejuang Boko Haram telah menyusup ke negara yang menduduki hutan dan menyerang masyarakat. Desember lalu, Panglima Angkatan Darat Letjen Yusuf Tukur Buratai menyarankan agar perang melawan Boko Haram dapat dilanjutkan selama 20 tahun lagi jika pendekatan sipil dan militer tidak terkoordinasi dengan lebih baik. (BBC, reza m hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi