Minggu, 12 April 2026, pukul : 04:25 WIB
Surabaya
--°C

Absurditas dan Idul Fitri

KEMPALAN: Di kalangan kaum muslim, lebih khusus di Indonesia, kita mengenal isitilah bermaaf-maafan di kala Hari Raya Idul Fitri. Setiap tahun kita dihadapkan pada fenomena yang sama. Setiap tahun bermaaf-maafan. Dan setelah permaafan, mereka kembali saling benci. Kemudian saling beramaafan kembali, saling benci lagi, saling memaafkan lagi. Demikian seterusnya.

Tiba-tiba teringat kisah Sisifus dari Albert Camus dalam the Myth of Sisyphus, yang terbit tahun 1942.

***

Kisah Sisifus dalam mitologi Yunani, merupakan sosok yang dikutuk dewa untuk mengangkat batu besar ke sebuah gunung. Ketika sampai puncak, batu itu berguling jatuh ke dasar, dan diangkat lagi. Sampai puncak, jatuh lagi, diangkat lagi, demikian seterusnya. Sebuah hidup yang absurd.

Kisah ini menarik ketika menelaahnya pada kehidupan sehari hari yang dialami orang modern. Orang bangun setiap hari, kemudian bekerja di kantor. Pulang kerja, sampai rumah tidur. Kemudian bangun dari tidur, mandi, sarapan, berangkat bekerja. Pulang kerja sampai rumah istirahat. Kemudian bangun lagi dari tidur, memulai lagi aktivtas pagi, pergi ke kantor. Pulang, sampai rumah istirarahat dan bangun lagi, demikian seterusnya.

Gambaran yang lebih besarnya, orang dari bayi menjadi anak-anak hingga remaja, mengejar ilmu hingga tinggi. Kemudian dewasa bekerja dan berkeluarga. Kemudian mewariskan siklus yang sama kepada keturunannya. Dia pun kemudian meninggal. Kehidupan dimulai lagi dengan siklus yang sama pada keturunannya. Dari anak-anak, remaja, dewasa, bekerja dan berkeluarga, kemudian mewariksan siklus yang sama kepada anaknya. Demikian seterusnya.

Kemudian Albert Camus di awal bukunya itu mengajukan sebuah pertanyaan sebelum orang menjalani kehidupan, “masih layakkah hidup ini untuk dijalani?” Bagi mereka yang menyatakan tidak layak, mungkin solusinya adalah bunuh diri, baik dalam makna filosiofis, hingga makna literal, mengakhiri hidupanya sendiri. Hal ini ketika orang menemukan fakta absurditas tersebut, yang meminjam istilah filsuf eksistensialis lainnya Jean Paul Sartre, orang merasakan nausea, mual atas kehidupan.

Namun, Camus melihatnya berbeda tentang absurditas yang dialami oleh Sisifus maupun orang modern itu. Camus menyimpulkan bahwa “semuanya baik-baik saja”, bahwa “orang harus membayangkan mereka bahagia dengan apa yang meraka alami.

ilustrasi sosok Sisifus yang dikutuk dewa untuk berulang kali mengangkat batu ke atas gunung (foto:ist)

Bagi Camus, yang bertekad menganggap absurd dengan serius dan mengikutinya hingga kesimpulan akhir, “lompatan” ini tidak dapat meyakinkan. Mengambil absurd dengan serius berarti mengakui kontradiksi antara keinginan akal manusia dan dunia yang tidak masuk akal. Bunuh diri, kemudian, juga harus ditolak: tanpa manusia, absurd tidak mungkin ada. Kontradiksi harus dijalani; akal dan batasannya harus diakui, tanpa harapan palsu. Namun, absurd tidak pernah bisa diterima secara permanen: itu membutuhkan konfrontasi terus-menerus, pemberontakan terus-menerus.

Sementara pertanyaan tentang kebebasan manusia dalam arti metafisik kehilangan minat pada manusia yang absurd, ia memperoleh kebebasan dalam arti yang sangat konkret: tidak lagi terikat oleh harapan untuk masa depan atau keabadian yang lebih baik, tanpa perlu mengejar tujuan hidup atau menciptakan makna, “dia menikmati kebebasan berkenaan dengan aturan umum”.

Untuk merangkul absurd berarti merangkul semua yang ditawarkan dunia yang tidak masuk akal. Tanpa makna dalam hidup, tidak ada skala nilai. “Yang penting bukanlah hidup yang terbaik tapi yang paling hidup.”

Dengan demikian, Camus sampai pada tiga konsekuensi dari sepenuhnya mengakui absurd: pemberontakan, kebebasan, dan gairah.

***

Sebenarnya cukup menarik apa yang dilontarkan Camus. Dalam perspektif Nietzschean, itu memiliki titik temu yang sama dengan filsuf asal Jerman yang mengabarkan kematian Tuhan, Friedrich Nietzsche.  Tawaran Nietzsche yakni mengatakan ya pada hidup, Ja Sagen. Nietzsche pun menerima atas apa yang dilakukan orang modern yakni meniadakan yang absolut, yang transenden. Menajdi manusia yang hanya mengimani yang profan.

Camus pun Ini mengimplikasikan dalam perspektif Nietzsche-an adalah berarti mengatakan “ya pada absurditas,” menerima absurditas kehidupan. Dalam hal ini bukan persoalan kita menjadi yang terbaik dalam hidup, tapi “membikin hidup lebih hidup.” Losta Masta, sebuah isitlah yang digunakan oleh sebuah iklan rokok satu dekade waktu lalu.

Namun, pertanyaannya adalah apakah kemudian dengan demikian filosofi “hidup yang paling hidup” juga membebaskan diri dari absurditas seperti yang dicanangkan Camus sendiri?

Seseorang di puncak gunung menatap matahari. (Foto:ist)

Hal ini karena segala sesuatu yang dilakukan adalah sebatas dunia. Dunia adalah batas kehidupan. Bermain-main dengan dunia. Bahwa seorang seniman bisa mencipakan berkali-kali master piece-nya. Terus mencipta master piece baru. Boleh jadi ini adalah makna A Thousand Plateau ataupun origami kosmos, seperti yang disampakan oleh Gilles Deleuze. Bahwa dunia itu hanya mengulang-ulang saja apa yang telah atau pernah dialami namun dengan bentuk-bentuk yang berbeda. Bahwa manusia bisa mencapai banyak puncak gunung. Sebuah keterulangan yang abadi kata Nietzsche.

Pertanyaannya adalah apakah setelah seluruh puncak telah dirasakan, semua gairah dan pemberontakan telah dipenuhi dan dilakukan, yang dalam bahasa Nietzsche merevaluasi segala nilai yang pernah dicapai, atau mencapai segala bentuk transformasi diri telah dirasakan, semua kenikmatan telah diresapi, semua bentuk penderitaan telah dihadapi, kemudian orang tidak merasakan basurditas pada akhirnya?

Puncak absurditas itu adalah orang menjadi mual atas kehidupan. Malahan kembali kemudian ia akan dihadapkan pada persoalan untuk mengatasi absurditas hidup. Dan banyak dari mereka yang menganut paham modernisme beralih pada spiritualitas. Ini pun menjadi fenomena yang jamak, dalam gerakan spiritualitas new age misalnya.

Pilihan hidup, jika tidak menyadari pada hakikat kehidupan yang tidak hanya sebatas yang profan, akan mengalami rasa mual atas kehidupan, yang akan beruujung pada akhir hidup secara literal, bunuh diri, seperti yang telah dilakukan oleh banyak penganut paham modernisme lainnya.

Plihan lainnya, bisa juga pada paham menjauhi dunia dengan tidak melakukan apa-apa, menyendiri untuk terus meningkatkan spiritualitasnya mengisi kehampaan hatinya. Spiritualitas mendunia yang tanpa agama.

Namun pertanyaannya kembali, jika kemudian orang tidak memercayai pada adanya hidup setelah kehidupan dunia yang fana ini, maka sebagus apa pun spiritualitasnya tetap akan menjadi absurd kembali. Apa-apa yang telah dilakukannya pun tidak bermakna apa-apa alias absurd.

Karenanya absurditas itu kemudian antidote nya adalah keyakinan pada adanya kehidupan setelah kematian dunia. Bahwa hidup tidak hanya sebatas apa yang bisa dilihat, dengar, diraba, dibau, dan seterusnya. Dengan demikian bahwa apa yang dilakukan manusia di dunia menjadi tidak sia-sia. Bahwa apa yang dilakukan di dunia akan berdampak pada kehidupannya selanjutnya. Yang tentunya kehidupan ini berjalan sesuai dengan aturan yang itu di luar kehendak manusia. Kehendak yang mencipta kehidupan, yang mencipta manusia.

***

Tradisi bermaaf-maafan yang dilakukan oleh kaum muslim di Indonesia bisa jadi adalah sebuah rutinitas yang akan kita temui setiap tahun. Demikian juga dengan puasa Ramadan, membayar zakat, berhaji, dan solat.

Solat sebagai cara mendekatkan diri kepada sang Pencipta (foto:ist)

Solat dilakukan berulang minimal setiap lima kali sehari. Pembayaran zakat bisa dilakukan setiap saat, setiap ada rejeki. Puasa Ramadan dan haji dilakukan secara periodik setiap tahunnya. Keterulangan Itu semua dilakuan adalah dalam rangka mewujudkan keyakinan adanya kehidupan setelah kehidupaan di dunia yang dalam konteks ini diatur oleh sang Pencipta, dalam agama ciptaanNya.

Spiritualitas, keruhanian, keimanan manusia itu seringkali mengalami kegoyahan, mengalami fluktutasi, naik dan turun. Inilah perlunya pengulangan demi pengulangan tersebut untuk memperteguh spiritualitas kemanusiaan. Spiritualitas yang kemudian berdampak pada kemanusiaan, pada manusia lainnya. Bahwa rutinitas solat, puasa, bersedekah adalah untuk manusia sendiri dan sesama mnusia lain yang berdimensi keilahian.

Demikian juga permaafan yang dilakukan pada sesama manusia secara rutin setiap tahun, misalnya, meski pengulangan permintaan maaf bisa dilakukan setiap saat melakukan kesalahan, adalah untuk mempertahankan konstanta spiritualitas yang mendekatkan diri kepada sang Pencipta, sebuah kondisi fitri. Bahwa semakin kita mendapatkan permaafan atas kesalahan kita secara lahir dan batin kepada sesama maka kita akan semakin lebih dekat dengan Pencipta kita. Inilah anti absurditas itu.

(Dr. Kumara Adji Kusuma adalah redaktur Kempalan.com, dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.