KEMPALAN: Kreativitas olok-olok di sosial media, jika saja tidak baper menyikapinya, maka yang muncul kelucuan dengan tingkat kualitas super. Menyampaikannya seolah tanpa beban, dan sahut menyahut dengan kelucuan yang hampir merata.
Tapi memang ada narasi yang dibangun di luar adab kepatutan, mengolok-olok tokoh yang kebetulan kritis terhadap rezim, sampai kematian tokoh itu dibuat bahan candaan. Batas candaan itu mestinya bisa diukur, dan cuma sebenar-benar manusia yang tahu batas mengukurnya.
Adalah Allahyarham Ustadz Tengku Zulkarnain yang dijadikan bahan olok-olok. Semua faham, itu karena sikapnya yang tegas dan kritis pada penguasa. Hingga sudah wafat pun masih tega jadi bahan olokan.
Siapa lagi mereka kalau bukan buzzerRp, Denny Siregar, yang komen nyinyir menyengat. Saya kutip apa adanya meski apa yang ditulisnya ada yang tidak tepat.
Innalillahi wa innalillahi radjiun, selamat jalan Tengku Zul,
Semoga engkau mendapat ribuan bidadari yang selalu diimpikan…🍵

Ada lagi komen dari pengikut barunya, seorang artis sineteron lawas yang dah gak kepakai, mencoba banting stir berharap bisa mengais peruntungan menjadi buzzerRp. Krishna Mukti, namanya, atau krisna69.mukti. Kasihan juga ngeliatnya. Hidup kembang kempis memang banyak melahirkan manusia hilang martabat. Begini cuitannya, bahkan lebih sadis dari seniornya:
Smg husnul khotimah, akhirnya cita2 ketemu 72 bidadari surga tercapai🙏(klu masuk siy😁).
Maka, netizen lain menanggapi dengan santai, diantaranya ada yang menyebut mereka dengan hanya dua kata, “bani bipang”. Itu merujuk pada geger yang dibuat Pak Jokowi, yang mempromosikan bipang “babi panggang” Ambawang untuk oleh-oleh lebaran.
Laku di Luar Adab Kelaziman
Sebutan bani bipang adalah bentuk kreativitas yang coba ditawarkan pada mereka yang sebelumnya lebih populer disebut dengan cebong. Istilah olok-olok peninggalan lama, zaman kontestasi Pilkada DKI Jakarta (2017), lalu lanjut pada PIlpres 2019. Sedang kelompok cebong menyebut kelompok lainnya dengan kampret dan lalu kadrun (kadal gurun).
Kadrun ini istilah olok-olok yang juga dipakai kelompok komunis (PKI) pada era Orde Lama, yang menyebut kelompok/partai Islam dengan kadrun alias kadal gurun. Mustahil istilah kadrun pada saat ini muncul begitu saja tanpa ada jejak sejarahnya. Bisa jadi istilah kadrun yang dipopulerkan sekarang ini dibawa oleh anak keturunan pengikut partai terlarang itu. Wallahu a’lam.
Sedang julukan bani bipang ini, entah apa akan menggantikan julukan cebong yang sudah kesohor itu, atau bahkan dua julukan itu akan linier jalan berbarengan, atau bahkan mereka memang tengah bermetamorfosis dari ..bong menjadi ..bi, yang pantas dipanggang. Kita lihat saja nanti perkembangannya.
Soal laku di luar kelaziman itu, tidak persis tahu apakah para buzzerRp, yang identik dengan cebong dan atau bani bipang, itu memang dibayar untuk menyerang siapa saja, bahkan sekalipun pada orang yang sudah meninggal. Atau memang itu inisiatif mereka sendiri, agar bisa dilihat sebagai kerja hebat.
Maka lebih bisa dipastikan para buzzerRp itu menyerang Allahyarham Ustadz Tengku Zulkarnain semata berlatar dendam, karena dalam perdebatan dengan Ustadz Tengku Zul, mereka gak pernah bisa menang, meski harus ngeroyok sekalipun. Lalu mereka melampiaskan dengan memperolok saat yang diperolok sudah wafat. Laku di luar adab kelaziman dipertontonkan dengan jumawah.

Memang dengan bani bipang (kok rasanya julukan ini lebih enak diucap ya) pantang untuk bicara Tuhan, malaikat dan bidadari di surga, meski mereka menyebut diri muslim. Itu bukan karena mereka tidak memahaminya, tapi lebih pada peran mereka yang diupah memang untuk mengolok, meski itu agamanya sendiri diperolok jadi bahan candaan.
Mereka itu bukannya nekat dengan sikapnya itu. Mereka bahkan sadar jika lakunya itu hina dina. Mereka itu hanya takut tidak bisa hidup, jika tidak berperan demikian. Peran nista yang sekalipun harus memperolok agamanya.
Maka siapa pun jika coba mengusik kepentingan mereka yang membayarnya, tak terkecuali yang meninggal pun disasarnya dengan sadis. Maka tidak salah jika para buzzerRp itu mendapat julukan, bagai manusia pemakan daging saudaranya sendiri.
Berbahagialah ustadz Tengku Zulkarnain diwafatkan dipenghujung Ramadhan, tengah ia melakukan safari dakwah. Ia berdakwah terus tanpa kesudahan, sampai ajal menjemput. In Shaa Allah beliau meninggal sebagai syuhada, sebagai manusia yang dirindu surga.
Maka jangan tanyakan, bagaimana akhir kehidupan bani bipang alias para buzzerRp itu, tapi sebaiknya doakan agar mereka bisa kembali ke jalan kebaikan. Berhenti menggadaikan agama untuk sekadar recehan guna menyambung hidup. Kasihan juga sebenarnya mereka itu, jika tak sempat bertobat. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi