Jumat, 24 April 2026, pukul : 22:48 WIB
Surabaya
--°C

Survei: Pembelajaran Daring Efektif, Tantangan Infrastruktur Indonesia Besar

SURABAYA-KEMPALAN: Membicarakan tentang kegiatan belajar mengajar, terdapat polemik dalam menentukan masa depan pembelajaran apakah terdapat perubahan di dalamnya atau tidak karena selama ini masih berjalan secara daring. Oleh karena itu, Rachbini Institute mengadakan webinar dengan topik “Transisi New Normal dan Masa Depan Sistem Kuliah Daring”.

Webinar yang dilaksanakan pada Minggu (9/5) pukul 16.00 sore secara daring di Zoom diisi oleh Dr. Widiarto Rachbini dan Prof. Syamsul Maarif. Dalam webinar ini juga terdapat pemaparan hasil survey tentang masa depan pembelajaran di Indonesia.

Dokumentasi Webinar oleh Rachbini Institute (istimewa)

Dr. Widarto Rachbini menyampaikan bahwa transisi di masa pandemi yang mengutamakan mekanisme daring memerlukan adaptasi atau penyesuaian. Kemudian Dr. Widarto menyampaikan pengantar survey tentang pembelajaran daring yang akan dibahas ke depannya.

Dr. Widarto kemudian menunjukkan hasil survey yang ia lakukan dalam pranala tertentu dan target utamanya adalah para mahasiswa perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Berdasarkan survey, banyak responden yang memilih bahwa kuliah secara daring berjalan cukup efektif sebanyak 53,5% dari total 1.339 mahasiswa. Sementara itu yang memilih tidak efektif dan sangat tidak efektif tidak lebih dari 30%

Kemudian, survey juga menyatakan bahwa di masa depan, mekanisme pembelajaran yang dilaksanakan lebih baik 50% daring dan 50% kelas dengan angka 24,3% dari total responden.

Survey ini juga mengelompokkan antara semester muda (1 dan 2) serta semester tua (3 ke atas) yang mana hasilnya untuk semester muda memilih untuk daring sedangkan semester tua memiliki kecenderungan untuk kangen terhadap kampus. Jadi secara data, pembelajaran daring diharapkan untuk terus berjalan meski pembelajaran di kelas juga beriringan dilaksanakan.

Dr Widarto juga menyampaikan bahwa kendala yang dialami oleh para mahasiswa juga merupakan “tantangan infrastruktur yang melibatkan pemerintah”

Lalu, Prof Syamsul Maarif mencoba menjelaskan bahwa pembelajaran daring harus disertai dengan kesiapan sumber daya manusianya baik tim pengajar maupun yang diajar. Selain itu, proses belajar mengajar secara daring dinilai lebih susah daripada pembelajaran secara luring.

Prof Syamsul menyatakan “kalau honor dosen ketika daring harusnya lebih tinggi karena lebih susah.” Prof Syamsul juga menambahkan bahwa mengajar daring tidak serta merta menunjukkan PowerPoint di dalamnya.

Prof Syamsul sedang menjelaskan.

Setelah penjelasan dari kedua narasumber, terdapat pertanyaan menarik tentang bagaimana nasib mahasiswa ilmu alam yang cenderung banyak praktikum ketika banyak yang meminta 50% daring 50% kelas. Jawaban dari kedua narasumber hampir sama yakni harus terdapat kelengkapan infrastruktur supaya pembelajaran daring bisa optimal. Untuk praktikum, memang harus luring dan kondisi untuk daring memang agak susah.

Sesi diskusi berjalan cukup menarik dan interakrif karena pembelajaran daring yang tidak disertai dengan infrastruktur yang baik cocok menjadi bahan perdebatan. Webinar ini dihadiri oleh kurang lebih 60 peserta yang kemudian ditutup pada pukul 17.10 WIB oleh MC. (Belva Dzaky Aulia)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.