KEMPALAN: Penggemar Cak Kartolo pasti ingat episode “Tumpeng Maut” dalam cerita ludrukan Cak Kartolo cs. Alkisah Kartolo dan kawan-kawan yang begadang malam lagi kelaparan, lalu punya ide untuk masak ramai-ramai. Kebetulan ada dua ekor ayam kampung yang siap disembelih.
Kartolo dan kawan-kawan pun pesta makan besar dengan nasi liwet dan ayam goreng. Pak Basman yang mendengar suara berisik terbangun dari tidur dan melihat Kartolo lagi asyik makan ramai-ramai seperti orang kenduren dengan nasi tumpeng. Melihat kehadiran Pak Basman Kartolo pun mempersilakannya ikut makan. Pak Basman pun ikut menikmati pesta tumpeng sampai kenyang.
Keesokan paginya Pak Basman kaget karena dua ekor ayamnya raib dari kandang. Ia mencurigai Kartolo yang mencuri. Kartolo yang didatangi Basman tenang-tenang saja, karena semalam Basman ikut menikmati tumpengan lauk ayam. Malah Basman makan lahap dua potong paha ayam yang ternyata ayamnya sendiri. Kartolo tertawa, Pak Basman mati kutu.
Episode itu diberi judul Tumpeng Maut, mungkin maksudnya jurus maut untuk menundukkan Pak Basman yang terkenal sebagai orang paling kaya di kampung. Episode lawas itu masih tetap bikin tertawa kalau diputar lagi.
Beda lagi dengan cerita tumpeng maut dalam episode korupsi bansos di Jakarta. Mantan menteri sosial Juliari Batubara bancakan tumpeng maut bansos dan membagi-bagikan tumpeng kepada kroninya di DPR dan setor juga ke madame bansos. Juliari dan kawan-kawan kenyang makan tumpeng maut, rakyat korban pandemi kelaparan menghadapi sakaratul maut.
Masih ada lagi episode takjil maut yang terjadi di Bantul, DIY. Episode ini tidak membuat orang tertawa, tapi malah sebaliknya membuat gusar dan prihatin. Seorang perempuan muda bernama Nani Apriliani, yang rupanya mendendam kepada seorang pria, mengirim paket sate menjelang saat buka puasa via ojek yang dipesan secara offline dengan memakai identitas palsu. Sang pria yang merasa tidak mengenal si pengirim menolak paket takjil itu dan menyerahkan kepada si tukang ojol yang membawa paket itu pulang dan memakannya bersama keluarga.
Beberapa saat setelah memakan sate itu anak laki-laki tukang ojol yang berusia delapan tahun meninggal karena keracunan sianida yang dibubuhkan di sate itu.
Polisi mengusut dan menangkap Nani yang mengirim sate beracun itu.
Media menyebut kasus ini sebagai takjil maut. Belakangan diketahui Nani punya hubungan dekat dengan pria target sate beracun itu. Malah kabarnya pasangan itu sudah menikah siri. Nani kecewa dan nekat ingin menghabisi targetnya diduga karena kecewa karena tidak dinikahi resmi.
Cinta ditolak dukun bertindak. Begitu kata anak-anak muda Jawa Timur zaman old dulu. Kalau cinta ditolak bisa menyebabkan gelap mata dan berbagai macam cara bisa ditempuh termasuk pergi ke dukun. Tapi zaman now sekarang, kalau cinta ditolak sianida bertindak. Dulu mengirim guna-guna lewat dukun, sekarang kirim racun sianida lewat pengemudi ojol.
Kasus Nani yang merasa menjadi korban PHP–pemberi harapan palsu–bukan yang pertama. Kira-kira sebulan sebelumnya seorang perempuan bernama Era Setyowati menuntut seorang profesor yang dituduhnya melakukan PHP dengan menelantarkan anak hasil nikah siri mereka. Profesor Muradi, laki-laki yang menjadi tertuduh itu adalah komisaris sebuah perusahaan BUMN dan staf ahli di kantor Kepala Staf Presiden.

Beda dengan Nani Apriliani yang mengirim sate bersianida, Era Setyowati mengirim surat gugatan kepada Profesor Muradi dan melaporkan kasusnya ke Komisi Perlindungan Anak.
Media ramai memberitakan skandal itu karena dua pihak sama-sama memakai pengacara dan merilis kasusnya ke media. Si perempuan keukeuh dengan pengakuannya bahwa anaknya adalah hasil hubungan dengan Profesor Muradi, dan dia siap membuktikan melalui tes DNA. Sebaliknya Muradi pun tak kalah gigih menangkis semua tuduhan termasuk mengelak mengakui hubungan dengan wanita itu sampai menghasilkan anak.
Perang pernyataan, saling lempar tuduhan, saling tangkis tuduhan dan saling sumpah berlangsung beberapa hari. Lalu tetiba si wanita dikabarkan mencabut laporannya di Komisi Perlindungan Anak. Kasus ini pun menguap begitu saja. Media yang sebelumnya gencar mengupdate berita skandal itu setiap saat pun ikut senyap seketika.
Kisah takjil maut masih ramai sampai sekarang karena Nani Apriliani terancam hukuman seumur hidup atas kejahatan berencana ini. Orang tuanya di Jawa Barat mengharapkan hukuman Nani diringankan karena Nani adalah korban PHP.
Cerita mengenai korban PHP yang berlatar belakang asmara pernah menjadi kasus politik tingkat nasional dan bahkan bisa menjadi skandal internasional karena melibatkan “the first family”, keluarga Presiden Joko Widodo. Kaesang Pangarep, anak ragil Presiden Jokowi dikabarkan tiba-tiba memutuskan hubungan dengan seorang gadis yang sudah dipacarinya selama lima tahun. Kaesang bahkan dikatakan sudah berjanji menikahi si gadis.
Kasusnya menjadi heboh dan viral karena gadis itu Felicia Tissue, berasal dari Singapura dan ibu si gadis mengunggah kasus ini di akun media sosial dan menyebut-nyebut nama Presiden Jokowi.
Kaesang dituduh melakukan ghosting alias menghantu, karena ia tetiba menghilang seperti genderuwo, tidak bisa dihubungi, dan tidak lagi mengikuti akun medsos Felicia Tissue. Ghosting adalah istilah psikologi untuk menggambarkan seseorang yang memutus hubungan tanpa berbicara kepada pasangannya dan tetiba menghilang begitu saja seperti demit.
Istilah psikologi ini lalu dijadikan sebagai istilah politik yang dipakai untuk mengritik Jokowi. Katanya, Jokowi juga sering melakukan “political ghosting”, menjadi hantu politik, karena sering menghilang ketika muncul kasus-kasus yang membutuhkan kehadirannya. Kaesang melakukan ghosting meniru kebiasaan bapaknya. Begitu kata pengritik Jokowi. Staf jurubicara kepresidenan Ali Mochtar Ngabalin merespons tuduhan ini dengan mengatakan bahwa kasus Kaesang adalah masalah pribadi, tidak ada urusan dengan Jokowi sebagai presiden.
Kasus Nani Apriliani, Era Setyowati, dan Felicia Tissue berakhir dengan kemenangan laki-laki dan kekalahan perempuan. Dalam kasus Nani dia terancam hukuman mati akibat upaya balas dendam terhadap kekerasan simbolik yang diterimanya. Dalam kasus Era Setyowati mungkin saja dia menerima kompensasi tertentu supaya mencabut gugatannya. Ia harus menerima kompensasi itu karena posisi hukumnya yang lemah. Ia menerima kekerasan simbolik secara beruntun. Dalam kasus Felicia Tissue ia tidak bisa berbuat apa-apa atas tindakan ghosting Kaesang karena tidak ada ikatan hukum apa pun di antara mereka.

Dalam kacamata para aktivis feminisme tiga kasus ini menunjukkan bukti kuatnya dominasi maskulin dalam budaya patrimonial yang didominasi laki-laki.
Perempuan digambarkan berada pada peran tradisional seputar sumur, dapur, dan kasur. Perempuan hanya berperan pada pekerjaan domestik mencuci pakaian dan memasak di sumur dan dapur, dan fungsi reproduksi di kasur.
Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu menggambarkannya dalam “Dominsi Maskulin” (edisi terjemahan, 1998) bahwa dalam masyarakat patrimonial kekerasan terhadap perempuan terjadi secara simbolik dan masif dan diterima oleh kedua pihak sebagai sesuatu yang normal.
Melalui studi etnografis yang teliti Bourdieu mengungkapkan pembagian kerja di masyarakat Qubail di Mediaterania yang tidak jauh dengan model pembagian kerja sumur, dapur, dan kasur ala masyarakat Jawa.
Pembagian peran sosial melalui basis gender maskulinitas dan feminitas dimulai dari perspektif konstruksi sosial mengenai tubuh, kekerasan simbolik, hingga kekuatan yang terkandung dalam struktur sosial yang ada.
Ketika Nani terancam hukuman mati masih ada petugas di kepolisian yang tega mencuri foto Nani yang mengenakan daster di tahanan. Foto itu kemudian menyebar dan viral. Konstruksi sosial tubuh Nani menjadikannya korban kekerasan simbolik masyarakat maskulin yang menganggapnya sebagai objek seksual semata. Hal yang sama terjadi kepada Era Setyowati dan Felicia Tissue yang akun medsosnya diserbu pengikut baru yang bersemangat memelototi foto-fotonya.
Konstruk sosial mengenai tubuh perempuan itu melahirkan kekerasan simbolik yang dilanggengkan dalam struktur sosial di tengah masyarakat. Nani adalah pekerja salon kecantikan dan Era Setyowati adalah miss ini dan itu. Profesi perempuan tidak jauh dari masak, macak, manak, yaitu memasak, bersolek, dan melahirkan. Sementara laki-laki diidentikkan dengan aktivitas yang macho dan membutuhkan kerja keras. Pembagian peran ini diterima sebagai sebuah keniscayaan alam, taken for granted, yang sudah seharusnya demikian.
Seorang perempuan yang dilecehkan dan menjadi korban PHP dianggap biasa karena dia pekerja salon atau foto model. Seorang laki-laki yang membunuh istrinya karena cemburu dianggap wajar karena mempertahankan kehormatan diri dan keluarga.
Dominasi maskulin itu dilanggengkan melalui berbagai instrumen sosial seperti sekolah, tradisi, dan juga agama. Kekerasan simbolik tidak dirasakan sebagai sebuah kekerasan meskipun terjadi setiap hari secara masif dan pervasif.
Perempuan hanya menerima nasib, suwarga nunut, neraka katut. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi