KEMPALAN: Waktu berjalan seolah begitu cepat. Rasanya baru kemarin kita mengharap datangnya Ramadhan. Tapi dalam hitungan lima jari di kempalan tangan kanan, Ramadhan akan meninggalkan kita.
Lalu kita akan memasuki bulan-bulan di luar Ramadhan, seperti biasanya makan minum di pagi dan siang hari sesukanya tanpa larangan. Tapi bagi mereka yang masih “terikat” dengan nuansa Ramadhan yang membekas, tentu lakunya akan lain. Tidak mengumbar sesuatu dengan berlebihan.
Mereka yang jadi terbiasa asyik berpuasa, lalu melanjut dengan puasa sunnah Syawal selama enam hari, yang dimulai dari tanggal 2 Syawal. Juga puasa sunnah Senin dan Kamis, menjadi rutinitasnya. Ditambah dengan puasa tengah bulan (ayamul bidh) pada tanggal 13, 14 dan 15 pada setiap bulan hijriah.
Bahkan ada yang keasyikan berpuasa, lalu melakukan puasa Daud, sehari puasa dan sehari tidak. Ada rasa kenikmatan jika sedang berpuasa. Tubuh rasa lebih sehat. Tutur kata lebih terjaga, emosi jadi stabil. Itu pengakuan mereka yang menjalankan. Puasa sudah jadi kebutuhan buatnya.
Spirit Ramadhan masih terjaga mewarnai kehidupan sehari-hari di luar bulan Ramadhan. Semacam ikatan yang tersambung yang sulit untuk dipisahkan. Itulah mereka yang berpuasa di bulan Ramadhan tidak sekadar rutinitas tahunan semata.
Puasa Ramadhan di samping kewajiban sebulan penuh bagi seorang muslim menjalankannya, tidak sekadar puasa dari berlapar-lapar dan rasa haus seharian. Tapi juga seluruh raga, mata, mulut, dan seluruh organ tubuh ikut berpuasa.

Itu bukan perkara mudah mempuasakan jiwa raga seluruhnya. Tidak sekadar perut saja yang lapar, kerongkongan yang haus, tapi seluruh raga juga ikut berpuasa dari hal-hal terlarang. Dan hanya memuliakan perbuatan-perbuatan baik yang disunnahkan.
Jika itu bisa dilakukan, maka ia seolah sedang berpuasa Ramadhan, meski Ramadhan telah jauh meninggalkannya. Ia terus berasyik masyuk dengan Ramadhan, karena begitu kuatnya Ramadhan mempengaruhi perangainya.
Hikmah di Balik Perintah Berpuasa
Puasa itu ajaran yang langsung mengingatkan, bahwa lapar dan haus itu menyiksa. Meski menahan lapar dan haus hanya sekitar dua belas jam, itu melelahkan. Dan itu sebagai ibrah agar nilai kemanusiaan kita terbangun saat melihat masyarakat sekeliling yang didera kelaparan karena kesulitan hidup.
Mereka yang kesulitan hidup itu hampir tiap hari berpuasa menahan lapar dan haus. Puasa mengajarkan itu semua, yang memunculkan empati antarmanusia untuk selalu berbagi. Puasa menghapus sifat egoistik mementingkan diri sendiri, tanpa melihat kesulitan yang dialami lingkungan sekitar.
Lapar dan hausnya saat berpuasa adalah ajaran yang langsung dirasakan semua muslim dengan tingkat strata sosial berbeda. Tidak memandang perbedaan kelas, baik kaya maupun miskin, semua diwajibkan berpuasa.
Puasa merupakan kewajiban setiap muslim yang harus dijalankan pribadi yang bersangkutan. Tidak boleh diwakilkan, meski ia tengah sakit. Ia boleh tidak berpuasa saat sakit, tapi ia harus menggantinya pada waktu sehatnya. Di balik itu semua, Allah menekankan agar setiap muslim wajib berpuasa, itu agar merasakan betapa tidak nyamannya rasa lapar dan haus itu.
Maka selama Ramadhan, orang miskin rasanya sudah tidak ditemukan. Masjid-masjid, bahkan mushola-mushola di pelosok negeri, menyediakan ta’jil atau ifthar, buat jamaah yang hadir. Bukan cuma kurma dan air mineral, tapi juga nasi kotak dengan menu cukup mewah, bahkan terkadang ditambah dengan es degan segar, semata guna memanjakan mereka yang kurang beruntung, atau musafir yang shalat di masjid itu.

Bahkan selama 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, banyak masjid mengadakan qiyamul-lail, dan sekitar pukul tiga dini hari hidangan makan sahur disediakan untuk para jamaah yang ada.
Sungguh suasana semarak Ramadhan tampak memuliakan mereka yang tengah berpuasa, dan terutama bagi mereka yang kurang beruntung.
Juga bagaimana rasa riangnya bagi mereka saat zakat, infaq dan sedekah disebar pada mereka yang berhak di bulan suci ini. Bagi mereka itu semacam bonus tahunan, yang didapat setiap Ramadhan. Senang melihat wajah-wajah mereka yang sumringah saat menerima zakat. Baginya puasa Ramadhan beda dengan puasa “kehidupan” di setiap harinya, yang tentunya serba kekurangan.
Itulah sedikit hikmah puasa Ramadhan yang ada. Tentu banyak hikmah lainnya yang bisa ditemukan. Terpenting, kita bisa mengambil pelajaran dari hikmah yang ada, dan dituntut menjalankannya.
Mumpung masih ada kesempatan beberapa hari lagi, marilah berlomba dalam berbagi di sisa Ramadhan kali ini. Berikan hak-hak mereka yang memang membutuhkan sesuai anjuran-Nya. Semoga semuanya dilancarkan dan dimudahkan… Aamiin. (Ady Amar)


Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi