MANCHESTER – KEMPALAN: Kota yang sama, kompetisi yang sama. Menjelang pertandingan terbesar musim mereka, semifinal Liga Champions leg kedua melawan Manchester City yang unggul agregat 2-1, Paris Saint-Germain telah memutuskan untuk mempertahankan rutinitas yang sama, seperti saat terakhir kali mereka menuju ke kota di barat laut Inggris.
Ketika klub raksasa Prancis itu melawan Manchester United di fase grup Liga Champions di Old Trafford pada bulan Desember, mereka menginap di hotel Lowry di pusat kota dan Marco Verratti diminta mengisi wawancara dari penyiar Prancis RMC sehari sebelum pertandingan yang mereka menangkan dengan skor 3-1.
Jelas, seluruh pemain dan manajemen berharap PSG dapat memetik hasil kemenangan yang sama seperti saat menekuk Man United
Kemenangan 3-1 akan membuat mereka lolos ke final Liga Champions untuk kedua kalinya secara berturut-turut.
Meski begitu, ada satu perbedaan mencolok dalam persiapan mereka. Pada malam itu, semangat tim dan intensitas kolektif para pemain luar biasa. PSG memainkan bola dengan baik, menciptakan peluang, memanfaatkan keberuntungan dan mencetak gol dengan susah payah. Mereka harus melakukannya lagi, dan lebih banyak lagi, jika mereka menginginkan tempat di final.
Untuk mengalahkan City dengan selisih dua gol atau dengan skor lebih tinggi dari 2-1, Pochettino harus memiliki taktik yang tepat.
Verratti dan Leandro Paredes harus cukup kuat untuk mengatasi tekanan tim tuan rumah. Angel Di Maria, Kylian Mbappe, dan Neymar harus bekerja secara klinis dan berpadu dengan baik.
Selain itu, ada Julian Draxler, yang bisa menjadi faktor kejutan di pertadingan di hari Selasa, keserbagunaannya telah menjadi aset penting untuk PSG dan dia telah tampil dengan baik saat tim asal Prancis itu menghadapi Barcelona dan Bayern Munich di babak kompetisi sebelumnya.
Ada faktor lain yang juga menguntungkan PSG, bermain tandang sesuatu yang telah dilakukan PSG secara impresif musim ini di Liga Champions. Baik saat bertamu ke Old Trafford, Camp Nou, atau Allianz Arena, PSG selalu berhasil menggunakan kesempatan-kesempatan itu untuk mendapatkan hasil terbaik dan meraih kemenangan besar.
Namun, kebugaran Mbappe mengkhawatirkan. Dia tidak sepenuhnya fit pada kekalahan leg pertama, dan diistirahatkan pada akhir pekan saat rekan satu timnya berjuang untuk mengalahkan Lens.
Padahal Etihad adalah stadion khusus untuk sang peraih trofi Piala Dunia itu. Di sanalah ia mengumumkan dirinya kepada dunia, pada Februari 2017 di usia 18 tahun, bersama AS Monaco saat ia mengoyak City selama 45 menit di babak 16 besar Liga Champions.
Penyerang kelahiran Paris itu yang sekarang sudah berusia 22 tahun telah pemain yang jauh lebih baik, tetapi cedera yang ia alami mungkin akan membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk mengoyak City lagi seperti 5 tahun lalu.
Selain itu, City adalah tim yang berbeda dari United yang dikalahkan PSG pada bulan Desember, tentu saja mereka memiliki kualitas yang berbeda, dan juga motivasi para pemain City akan sangat tinggi karena mereka sedang berusaha untuk mencetak sejarah dengan mencapai final untuk pertama kalinya.
Kualitas skuad dan staf teknis mereka adalah yang terbaik dalam sejarah City dan mereka sangat termotivasi untuk membawa klub asal Inggris itu ke final Liga champions pertama mereka dalam sejarah.
Tiga belas tahun setelah pengambilalihan oleh Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, dan lebih dari satu miliar dolar telah dihabiskan untuk membuat klub ini menjadi pesaing reguler untuk trofi utama.
Lima tahun setelah kedatangan Pep Guardiola dan lima tahun setelah kekalahan menyakitkan dari Real Madrid. City telah menjadi tim yang lebih baik sekarang. Meski telah gagal meraih quadruple, usai ditekuk Chelsea di Piala FA, namun Guardiola berhasil mengamankan gelar Piala Carabao beruntun keempatnya dan juga mendekatkan City dengan raihan gelar liga Inggris ketiganya dalam empat tahun.
Guardiola sangat percaya kepada para pemainnya, seperti yang dinyatakan dalam konferensi pers hari Senin bahwa “Saya tidak berbicara sepatah kata pun tentang mereka, kami hanya fokus pada apa yang harus kami lakukan, tetapi tekanan ada di sana. Anda bisa membayangkan betapa pentingnya Piala Eropa bagi manajer, para pemain, para penggemar, dan klub. Gelar juara sangat dekat.”
Man City telah melewati banyak lawan berat untuk sampai mereka sejauh ini, melewati babak penyisihan grup (melawan FC Porto, Olympiakos, dan Marseille ), mengalahkan tim Borussia Monchengladbach yang naif dan tidak berpengalaman dan berhasil mengatasi Erling Haaland untuk mengalahkan Borussia Dortmund dengan agregat 4-2.
Minggu lalu, mereka menang di Paris dengan dua gol keberuntungan, tetapi hasil itu diperoleh dari reaksi kuat mereka setelah hanya bermain setengah-setengah di babak pertama. Leg kedua ini akan sangat berbeda.
Man City sedang dalam motivasi yang luar baisa dan penuh kepercayaan diri. Mereka tahu cara memainkan bola dan memenangkan pertandingan.
Pada hari Sabtu di Crystal Palace, dengan berbekal mayoritas pemain cadangan, mereka berhasil meraih kemenangan ke-32 mereka dalam 35 pertandingan terakhir mereka di semua kompetisi.
Kekuatan mereka adalah melelahkan mental lawan ketika mereka menguasai bola, menjaganya sebanyak mungkin, dan membatasi opsi dengan tekanan tanpa henti ketika mereka tidak menguasai bola. Itulah yang mereka lakukan di Paris dalam 45 menit terakhir. Mereka memaksa PSG melakukan kesalahan, mereka tidak membiarkan PSG menyusun serangan dari belakang dan memberikan bola ke Neymar atau Mbappe.
Cara mereka membuat Mbappe diam sangat mengesankan, untuk pertama kalinya dalam karirnya, dia gagal mencatatkan satu tembakan pun dalam pertandingan Liga Champions.
Namun, tidak hanya City yang memiliki kepercayaan diri tinggi. Para pemain PSG pun siap melawan segala rintangan untuk dapat lolos ke final, sama seperti yang dikatakan Neymar bahwa “dengan 1% peluang untuk lolos, tetapi 99% keyakinan.” (ESPN, Edwin Fatahuddin)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi