Selasa, 26 Mei 2026, pukul : 10:39 WIB
Surabaya
--°C

Tim Antasena ITS Sulap Limbah Tempe Jadi Pembangkit Listrik

SURABAYA-KEMPALAN: Tim Antasena Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menawarkan pembangkit listrik berbasis biomassa bernama Antasena Bioelectricity.
Inovasi ini berlatar belakang tingginya penggunaan energi berbahan bakar fosil di Indonesia sehingga menyebabkan ketersediaan energi fosil juga semakin langka.

Selain itu, kata salah satu anggota Tim Antasena ITS Husnul Chotimah, adanya target pemerintah Indonesia untuk meningkatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan mengoptimalisasi penggunaannya. Selain itu, pemenuhan energi di Indonesia juga didasari oleh banyaknya daerah yang belum teraliri listrik, contohnya beberapa desa di Kabupaten Pekalongan.

Indonesia sebagai negara agraris dan menghasilkan biomassa dalam jumlah besar dari limbah pertanian. Di sisi lain, Indonesia juga merupakan salah satu negara produsen tempe terbesar di dunia yang belum memiliki alat pengolahan limbah, sehingga berpotensi membahayakan lingkungan. “Alasan-alasan tersebut akhirnya mendorong kami menggagas Antasena Bioelectricity ini,” tuturnya, Senin (3/5).

Antasena Bioelectricity merupakan teknologi yang mampu menghasilkan energi listrik secara hybrid menggunakan fuel cell dan microbial fuel cell dengan memanfaatkan sekam padi dan limbah cair tempe. “Mula-mula, sekam padi akan difermentasikan dengan proses fermentasi gelap yang akan menghasilkan gas biohydrogen,” papar mahasiswi Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS tersebut.

BACA JUGA  Labschool Unesa Kirim Delegasi ke NTCUST Taiwan, Cetak Jagoan AI dan Robotik Masa Depan

Selanjutnya, imbuh Husnul, biohydrogen akan digunakan untuk menghasilkan energi listrik melalui fuel cell. Sedangkan proses fermentasi sekam padi nantinya akan menghasilkan limbah cair yang diproses bersamaan dengan limbah cair tempe pada microbial fuel cell.

“Proses ini berfungsi untuk menghasilkan energi listrik tambahan,” ungkap gadis kelahiran Surabaya, 13 September 1999 tersebut.

Gagasan yang disusun sejak akhir tahun 2020 ini menargetkan desa di Kabupaten Pekalongan, setelah sebelumnya melihat potensi komoditas desa di kawasan tersebut yaitu sekam padi dan limbah tempe.

“Kedua biomassa itulah yang kami gunakan sebagai sumber energi terbarukan untuk menghasilkan listrik,” ujarnya.

Dalam penyusunannya, Husnul mengaku merasa kesulitan untuk memaksimalkan potensi yang ada. Selain itu, untuk menghasilkan energi listrik semaksimal dan seefisien mungkin baik dari segi teknis maupun ekonomi, diperlukan perancangan Antasena Bioelectiricty secara keseluruhan dan analisa kuantitatif yang matang.

BACA JUGA  Harapan Baru di Tengah Krisis, Omar Yaghi Mengubah Udara Menjadi Air Kehidupan

Gagasan cemerlang Tim Antasena ITS ini rupanya telah berhasil menyabet medali emas dan gelar Best Paper dalam Paper Competition ITS Expo 2021, awal April lalu. Husnul mengungkapkan, dalam kompetisi tersebut Tim Antasena ITS diwakili oleh Ahmad Fahmi Prakoso dan Muhammad Wildan Abyan dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, serta Deden Eko Wiyono dari Departemen Teknik Kimia Industri ITS.
Husnul mengatakan bahwa kompetisi tersebut mengusung tema Optimalisasi Sumber Daya Desa Melalui Inovasi Anak Bangsa Guna Pembangunan Yang Berkelanjutan. “Dari subtema yang tersedia, perwakilan Tim Antasena memilih Desa Berenergi Bersih dan Terbarukan sebagai subtema utama dalam penyusunan paper,” terangnya. (Nani Mashita)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.