WASHINGTON-KEMPALAN: Minggu (2/5) menandai peringatan sepuluh tahun pembunuhan Osama bin Laden yang dilakukan oleh pasukan khusus AS. Pimpinan Al-Qaeda tersebut ditembak oleh Navy Seal dalam penyerbuan di Pakistan dan terkubur di laut dari dek kapal induk AS.
Menurut Sputnik, masih ada kontroversi akan sikap Joe Biden terhadap operasi khusus untuk membunuh Osama. Pada saat ia menjadi wakil presiden saat itu, Biden tidak sepakat dengan misi tersebut dan mengatakan bahwa Pemerintah AS harus menunggu laporan intelijen lebih jauh.
“Ya, kami melakukannya. Nama orang itu adalah Osama bin Laden,” ujar Biden seperti yang dikutip Kempalan dari Sputnik ketika diwawancarai Fox News apakah ia akan “menarik pelatuk (menembak)” jika ia menjadi panglima tentara dan diberi laporan intelijen yang mengatakan bahwa dirinya dapat menghentikan kemungkinan serangan terhadap Amerika, tapi harus menggunakan serangan udara untuk menghabisi pimpinan teroris tersebut.
Ia juga menyangkal bahwa dirinya menyarankan kepada Obama, yang saat itu menjadi presiden AS, untuk tidak menyerang Osama. Namun Obama menuliskan dalam memoarnya “A Promised Land”, Biden menyarankan padanya untuk menunggu sebelum memerintahkan operasi menghadapi Osama.
“Joe menentang penggerebekan itu, dengan alasan bahwa mengingat konsekuensi kegagalan yang sangat besar, saya harus menunda keputusan apa pun sampai komunitas intelijen lebih yakin bahwa bin Laden ada di dalam kompleks,” catat Obama yang merujuk pada pembicaraan mengenai misi Navy Seal yang diperintahkannya pada malam 1-2 Mei 2011.
Menulis tentang hasil dari misi tersebut, Obama mencatat, “saat helikopter lepas landas, Joe meletakkan tangan di bahu saya dan meremas, berkata ‘Selamat, bos'”.
Berbicara dalam film dokumenter CNN yang baru, “President in Waiting”, yang dirilis pada tahun 2020, Biden merujuk pada penasihat utama Obama yang memperdebatkan apakah kecerdasan mereka cukup kuat untuk memulai serangan terhadap bin Laden. Menurut mantan wakil presiden, katanya saat itu, “Presiden, ikuti naluri Anda tentang ini.”
Dalam minggu-minggu setelah serangan 2 Mei 2011, Biden bersikeras bahwa dia bersama dengan pejabat senior lainnya berhati-hati terhadap serangan itu tetapi kemudian memuji langkah Obama “untuk meluncurkan tindakan berani”, menurut The New York Times. (Sputnik, reza m hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi