Senin, 25 Mei 2026, pukul : 06:05 WIB
Surabaya
--°C

Pengunjung Candi Jolotundo Anjlok hingga 90 Persen

MOJOKERTO-KEMPALAN: PENGUNJUNG Candi Jolotundo yang terletak di bukit Bekel, tepatnya di lereng barat Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto (Jawa Timur), kini bisa dihitung dengan jari. Sejak pandemi Covid-19, jumlah tamunya hanya 20-an orang saja. “Kalau hari-hari biasa malah kurang dari 20 orang. Hanya pada akhir pekan pengunjungnya mencapai 20-an orang,” kata Sukri, salah seorang penjaga cagar budaya tersebut, Sabtu pagi (1/5).

Sukri –yang lebih dari 20 tahun bekerja di sana– menilai merosotnya jumlah pengunjung benar-benar dipengaruhi oleh pandemi Covid-19. “Di Bulan Puasa Ramadhan sekarang ini angka kunjungan hariannya tetap stabil 20-an orang. Padahal sebelum Covid-19, tamu di sini mencapai 200-an orang pada akhir pekan,” ucap Sukri.

Meskipun sepi pengunjung, namun pihaknya tetap menerapkan prosedur pencegahan Covid-19. “Harus pakai masker,” tegasnya. Selain itu petugas juga melarang pendakian ke Gunung Penanggungan.

Dia optimis angka kunjungan bakal meroket, jika Covid-19 sudah berlalu. “Ini salah satu kawasan wisata alam yang sangat baik di Jawa Timur,” alasan Sukri.

Gus Sulee, pegiat budaya dari Singolawu (Surabaya) tampak sedang berada di petirtaan Jolotundo, Sabtu pagi. Dia datang bersama empat orang kawannya dari Singolawu: Ayu, Chandra, Sabilla, dan Ki Damar.

Gus Sulee tidak merasa kecewa lantaran dilarang naik ke puncak Penanggungan. “Kami ke sini semata-mata panggilan leluhur saja,” ucapnya, Sabtu siang. “Sesuai ketukan hati,” lanjut dia.

Hal itu dibenarkan oleh Ki Damar. “Meskipun puasa Ramadhan, tetapi kami datang ke Jolotundo untuk berkontemplasi saja, tanpa melakukan ritual khusus,” tuturnya.

Gus Sulee, Ayu, Candhra, Ki Damar, Sabilla, dan Sukri (insert)

Persembahan Raja Udayana
Konon, Candi Jolotundo sendiri sangat populer di kalangan pecinta alam. Udaranya cukup sejuk, karena berada di ketinggian 800 meter dpl.
Candi yang berupa petirtaan tersebut dibangun secara khusus oleh Raja Udayana (Bali) untuk anaknya, Airlangga, setelah dinobatkan sebagai Raja Sumedang Kahuripan.

Selain pecinta alam, banyak aktivis supranatural yang berkunjung ke sana. Sebab, Jolotundo –berada di Dusun Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas– dinilai memiliki kekuatan magis yang besar.

Karena itulah pada malam Jumat Kliwon, misalnya, Jolotundo –sebelum masa pandemi Covid 19– banyak didatangi pelaku spiritual. Ada yang bertapa hingga puluhan hari. Namun ada juga yang hanya melakukan ritual 1-2 jam saja.

Pada malam satu Suro, pengunjung Jolotundo bahkan mencapai ribuan orang. Kebanyakan tamu pada malam satu Suro berasal dari Bali. Di hari khusus tersebut mereka melakukan ritual, sesuai keyakinannya masing-masing.

Salah satu di antaranya dengan mandi di dua sendang yang berada di candi. Air sendang ini dipercaya mampu menyembuhkan banyak penyakit, dan bikin awet muda.

Dahulu kala, kedua sendang di Jolotundo digunakan oleh pejabat kerajaan dan keluarganya untuk mensucikan diri, sekaligus meningkatkan kekuatan gaib. (sulaiman/moch taufiq)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.