Sabtu, 2 Mei 2026, pukul : 00:31 WIB
Surabaya
--°C

Tak Cukup Hanya Berilmu

KEMPALAN: (Ngabuburit di hari ke-17 Ramadhan ini, ingin mengisinya dengan diskusi ringan berkenaan dengan “gaya” dakwah yang terkadang tidak cukup dengan materi memadai, tapi juga dituntut bijak dalam penyampaian. Harusnya, sikap demikian ditunjukkan semua pihak, khususnya para Da’i/Ulama/Ustadz dalam dakwahnya.).

***

Beberapa saat yang lalu, tepatnya sekitar dua tahun lalu, ada undangan oleh seorang kawan, di rumahnya yang luas dan asri.

Ada “tamu agung”, seorang Ustadz ternama di rumahnya, yang pantas jika saja saya bertemu dengannya.

Tentu suatu kehormatan bagi saya bertemu dengan Ustadz terpandang itu. Ternyata ia mengundang beberapa kawan lainnya.

Banyak hal yang kami bicarakan. Bertanya dari kami, dan sang Ustadz mencoba menjawab dengan baik.

Suasana jadi gayeng, sedikit pun tidak tampak bahwa Ustadz yang terkesan “keras” itu menampakkan kegarangannya.

Banyak ilmu yang kami dapat di perbincangan siang itu, tidak satu pun pertanyaan dari kami yang tak dijawabnya.

Kesan saya pribadi, Ustadz satu ini memang luas ilmunya. Bagaimana tidak, pertanyaan kami, dari mulai hal ringan sampai hal berat dijawabnya dengan memuaskan.

Ada derai tawa juga di tengah-tengah obrolan kami itu, dari kami yang memancing tawa atau sang Ustadz yang juga ‘ikut-ikut’ menebar tawa.

Saya ikut bertanya, tapi lebih tepat mencoba “mengoreksi” gaya yang dipilih Ustadz itu dalam berdakwah.

“Kenapa mesti dalam dakwah, yang ditebar selalu menyelipkan hal-hal yang tidak produktif. Semisal, jika kecenderungan yang sudah berkembang di masyarakat, dan semacam sudah mendapat ‘pengakuan’, mengapa mesti ‘dikoreksi’ dengan pendekatan yang kontroversial.

Atau, kenapa dari semua pertanyaan yang terkadang cuma ‘iseng’ dan akan menimbulkan reaksi dari masyarakat luas, mesti dijawab?”

Sang Ustadz itu memberikan jawaban yang, menurut saya, baik meski kurang bijak. Begini jawabnya: Itu bukan jawaban dari saya, tapi dari ilmu yang saya dapatkan. Itu bukan dari saya, tapi itu termuat dalam kumpulan Hadits Shahih.

Lalu saya terus dan kembangkan pertanyaan dengan: “Apakah jika itu tidak dijawab dengan alasan yang sebenarnya bisa dibuat akan mengurangi ilmu yang kita punya?”

Menurut saya yang faqir ilmu, bahwa tidak semua layak dijawab, jika jawaban kita akan menimbulkan persoalan baru, persoalan lebih besar yang akan meruntuhkan bangunan ukhuwah di kalangan umat.

Gaya dakwah adalah pilihan, namun bijak dalam menyampaikan ilmu mestinya jadi tuntutan semua Ustadz atau Penceramah.

Saat saya sampaikan pertanyaan yang lebih sebagai “usulan” itu, sang Ustadz tadi hanya mendengar dengan tanpa melanjutkan jawaban pembelaan.

Siang itu, banyak ilmu yang kami dapatkan, tentu bermanfaat. Dan senang sekali jika suatu saat dapat bertemu lagi dengannya.

Mungkin nasihat Imam al-Ghazali dalam Ihya’-nya patut disampaikan di sini:

Duduklah di majelis-majelis ilmu, unduhlah ilmu dari Guru yang mengajarkan hakikat ilmu (yang sebenarnya).

Wallahu A’lam. (Ady Amar)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.