
KEMPALAN: Siapa yang tak kenal dengann Bolsonero, Juan Domingo Peron, dan Hugo Chavez? Ketiga orang tersebut adalah pemimpin dengan corak kepemimpinan populisme di Amerika Latin pada masanya. Pemipin-pemimpin seperti di atas biasanya menggunakan kepentingan atas nama rakyat untuk dapat berkontestasi dan bahkan memperoleh kekuasaan. Gaya kepemimpinan seperti ini dapat dikatakan sebagai gaya yang karismatik dan membawa banyak suara. Namun, bagaimana eksistensinya di Amerika Latin pada era kontemporer?
Konsep populisme
Dalam memahami gaya kepemimpinan layaknya para pemimpin yang telah disebutkan di atas, terdapat suatu konsep yang dinamakan populisme.
Konsep dari populisme ini sebenarnya cenderung abstrak karena kata populisme ini berasar dari kata populer yang berarti seseorang yang dikenal dan disukai banyak orang. Namun, secara disiplin ilmu politik, kajian mengenai populisme dapat dikerucutkan menjadi suatu gerakan politik dengan gaya yang digunakan oleh para pemimpin untuk memobilisasi massa. Gaya kepemimpinan populis pdari para tokoh mampu menampilkan diri mereka tidak hanya sebagai sosok yang berbeda dan baru, tetapi juga sebagai pemimpin pemberani yang berdiri bersama “rakyat” melawan “elit” yang berkuasa (Barr, 2017).
Dalam pendekatan yang lebih ideologis, populisme bisa dikatakan ideologi yang ‘tipis’ karena populisme ini sangat lentur yakni bisa ke sayap kanan maupun ke sayap kiri. Ketika membicarakan ideologi yang memberikan pandangan tentang bagaimana dunia ini dan seharusnya, maka populisme ini berbeda dengan ideologi ‘tebal’ yang memiliki asumsi-asumsi dasar. Pada faktanya, populisme sering berasimilasi dengan ideologi lain sehingga tidak ada tawaran konkret yang diberikan oleh populisme terhadap pandagannya tentang dunia (Mudde dan Kaltwasser, 2017).
Dinamika Populisme Amerika Latin
Amerika Latin merupakan wilayah yang mana populisme sangat kuat dan bahkan dapat bertahan selama berpuluh-puluh tahun. Populisme di Amerika Latin memiliki tiga gelombang yakni populisme klasik, neo-populisme, dan populisme sayap kiri. Warga-warga Amerika Latin mudah sekali direbut suaranya melalui narasi-narasi anti elit dan menjanjikan stabilitas dari oleh pemimpin populisme (Mudde dan Kaltwasser, 2017).
Gelombang pertama dari populisme Amerika Latin adalah pada tahun 1930an sampai 1960an. Selama periode ini, negara-negara Amerika Latin mengalami krisis inkorporasi yakni meningkatnya migrasi penduduk pedesaan ke perkotaan dan implementasi reformasi ekonomi yang mengarah pada industrialisasi yang membuka jalan bagi munculnya tuntutan akan hak-hak politik dan sosial.
Getuilo Vargas dari Brazil, Juan Domingo Peron dari Argentina, dan Jose Maria Velasco dari Ekuador menjadi tokoh populis pada masa ini dengan membawa Amerikanisme, yang mengklaim bahwa semua penduduk Amerika Latin memiliki identitas yang sama dan mengecam campur tangan kekuatan imperial.
Gelombang kedua berlangsung pada awal tahun 1990an dan biasa disebut dengan neo-populis. Neo-populis pada periode ini juga memanfaatkan krisis ekonomi yang berlangsung pada tahun 1980an dan memperoleh suara dari menyalahkan rezim elit dan menyatakan bahwa rakyat telah dirampok dari kedaulatan yang sah. Presiden Carlos Menem dari Argentina, Fernando Collor de Mello dari Brazil, dan Alberto Fujimori dari Peru menjadi tokoh utama dari periode ini. Neo-populisme di sini juga mempedulikan institusionalisasi melalui bekerja sama dengan International Monetary Fund (IMF).
Gelombang ketiga dari populisme Amerika Latin berlangsung pada akhir 1990an hingga akhir 2000an dan berafiliasi dengan partai yang bersayap kiri. Gelombang ketiga dari populisme ini juga menggunakan narasi Amerikanisme dan retorika anti-imperialis, mirip dengan yang pertama. Hugo Chavez dari Venezuela, Evo Morales dari Bolivia, dan Rafael Correa dari Ekuador menjadi tokoh-tokoh kiri yang juga populis di era ini.
Populisme Amerika Latin Era Kontemporer
Eksistensi dari populisme Amerika Latin ternyata masih berlangsung pada era kontemporer salah satu contohnya adalah Presiden Brazil terpilih pada tahun 2018 yakni Jair Bolsonaro. Jair Bolsonaro merupakan seorang mantan angkatan militer Brazil. Ketika berada di sana, Bolsonaro mulai menanamkan pemikiran sayap kanan ketika dia mengkritik keras kebijakan negara tentang gaji tentara. Hasilnya dia dipenjara selama 15 hari dan mendapatkan popularitas dari sana. Dia kemudian masuk ke Kongres Nasional Brazil dari tahun 1988 hingga 2014.
Bolsonero mantap di jalan konservatif dengan banyak mengkritik kebijakan-kebijakan kaum kiri dan kaum liberal. Pria berumur 66 tahun itu menentang pernikahan sesama jenis dan mendukung kebijakan ekonomi pro-pasar serta mendukung pendalaman nilai-nilai kekeluargaan sesuai ajaran Kristen Evangelis.
Hasil dari kegigihan dan sifat ambisiusnya terbayar ketika dia memenangkan pemilu 2018 dan mulai berkuasa pada 1 Januari 2019. Namun, pada masa pandemi COVID-19, narasi-narasi populis yang dibawakan oleh Bolsonaro mulai memudar. Bolsonaro terlalu menekankan gaya retorikanya yang menolak adanya pandemi seperti yang dikutip dari The Guardian (23/3/2020). Bahkan Bolsonaro secara konsisten menentang langkah-langkah penguncian, dengan alasan bahwa kerusakan ekonomi akan lebih buruk daripada efek virus korona itu sendiri.
Hal ini menunjukkan bahwa corak kepemimpinan populisme yang membawa narasi optimis kurang memberikan langkah konkret terhadap apa yang terjadi terutama pada masa yang tertebak seperti pandemi. pada akhirnya, populisme hanyalah alat semata untuk mendapatkan kekuasaan melalui bualan-bualan yang mengatasnamakan rakyat.
Bagaimana Prospek Populisme Amerika Latin di Masa Depan?
Seperti yang telah dijelaskan, populisme ini merupakan konsep yang fleksibel yang mana bisa dikaitkan dengan sayap kanan maupun sayap kiri. Penulis beropini bahwa eksistensi populisme sendiri akan tetap ada di Amerika Latin karena fleksibilitas tersebut. Dalam sisi sejarah, sudah bisa dilihat bahwa pemimpin populisme di Amerika Latin memanfaatkan momentum keruntuhan pemimpin yang menjabat sebelumnya. Di masa depan, Bolsonaro yang sedang mengalami penurunan kepercayaan publik kemungkinan besar akan dikalahkan oleh seorang ‘populis’ yang membawa narasi-narasi kegagalannya dalam memerintah Brazil. Populisme di Amerika Latin akan terus ada karena siapa yang dekat dengan rakyat, maka dia pemenangnya. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi