Sabtu, 2 Mei 2026, pukul : 01:37 WIB
Surabaya
--°C

CEO BioNtech, Pasangan Muslim yang Ramah dan Fokus pada Sains

BERLIN – KEMPALAN: Ugur Sahin, CEO dan salah satu pendiri grup farmasi Jerman BioNTech, adalah salah satu dari dua ilmuwan yang membantu mengembangkan vaksin virus corona pertama yang disahkan di AS.

Mengutip dari Markets Insider, Sahin dan istrinya, Ozlem Tureci, adalah pasangan yang perusahaannya bermitra dengan Pfizer untuk mengembangkan dan memasok tiga miliar dosis vaksin di seluruh dunia pada akhir 2021.

Ugur Sahin dan Ozlem Tureci merupakan pasangan muslim yang membentuk ‘tim impian’ yang memberi dunia harapan nyata untuk vaksin COVID-19 yang tentunya halal.

Pasutri tersebut juga sempat memperoleh penghargaan di Mustafa Prize pada tahun 2019, penghargaan nobel bagi umat Islam, khususnya untuk para ilmuwan yang sangat berpengaruh. Ugur Sahin menyatakan sangat bangga mendapat penghargaan tersebut seperti yang dikutip dari Reuters.

“Ini menarik dan saya merasa bangga bahwa ada komite yang menganugerahkan penghargaan semacam ini untuk warga negara Islam,” ungkap Sahin.

“Ada semiliar lebih Muslim di planet ini dan ternyata komite ini bisa melacak kerja-kerja kami di Jerman dan menghargai apa yang kami lakukan,” kata dia melanjutkan.

Sahin, seorang putra imigran Turki yang pindah ke Jerman pada akhir 1960-an, termasuk orang terkaya di Jerman. Tetapi keluarganya tinggal di apartemen sederhana di dekat kantornya dan tidak memiliki mobil. Gaya hidupnya dikatakan mencerminkan pendekatan hidup yang sederhana, dan dia dikenal suka bersepeda ke kantor. Di sisi lain, perusahaannya saat ini bernilai 36 miliar dolar AS.

Dia semakin yakin bahwa COVID-19 akan memiliki efek mematikan di seluruh dunia pada awal Januari 2020, kata Forbes. Pengalamannya selama bertahun-tahun dengan metode mRNA, mekanisme keamanan yang melindungi dari penyakit menular, berguna ketika dia memutuskan BioNTech akan berputar untuk menemukan vaksin virus corona.

CEO Pfizer, Bourla sebelumnya menggambarkan Sahin sebagai “individu yang sangat, sangat unik”.

“Dia hanya peduli pada sains. Membahas bisnis bukanlah secangkir tehnya,” kata Bourla kepada The New York Times pada November tahun lalu.

“Dia sama sekali tidak menyukainya. Dia ilmuwan dan orang yang memiliki prinsip. Saya mempercayainya 100 persen,” tambahnya.

Persaingan di antara perusahaan farmasi untuk membuat dan mendistribusikan kandidat vaksin sangat ketat tahun lalu, dengan banyak yang melihat stok mereka dipengaruhi oleh perkembangan dalam uji klinis. Orang dalam perusahaan bergegas untuk menjual saham mereka, dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dari saham mereka yang sedang ‘booming’.

Khususnya, CEO Pfizer Albert Bourla menguangkan 60% sahamnya pada perusahaan tersebut mengungkapkan bahwa vaksinnya lebih dari 90% efektif dalam mencegah kasus COVID-19 yang bisa dibilang parah.

Tetapi Sahin belum menjual satu pun saham di BioNTech sejak 13 Februari 2020, menurut laporan Forbes baru-baru ini.

Dengan pengembangan vaksin BioNTech, saham perseroan melonjak 900% dari harga IPO 2019. Saham Sahin di perusahaan bernilai 6,1 miliar dolar AS, menurut Forbes.

Pengajuan SEC menunjukkan Sahin memegang 17% saham di BioNTech melalui perseroan terbatas bernama Medine. Di tengah pengalihan saham oleh Medine kepada penerima manfaat lainnya, pengajuan pada bulan Februari menunjukkan baik perusahaan maupun Sahin tidak menjual saham biasa apa pun sejak 13 Februari 2020, sekitar waktu pandemi baru mulai menyebar secara global. (Markets Inside/Forbes/ Reuters, Belva Dzaky Aulia)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.