Sabtu, 2 Mei 2026, pukul : 00:28 WIB
Surabaya
--°C

Ikhlas Makna Simbolistik Hujjatul-Islam

KEMPALAN: (Kisah-kisah Sufi acap kali dibangun lewat bahasa simbol dan metafora. Maka yang muncul adalah nasihat dengan cara tidak menggurui. Hujjatul-Islam Imam al-Ghazali acap mengisahkan hal penting dan berat dalam beragama dengan menggunakan bahasa simbol, sebagaimana kisah di bawah ini. Ngabuburit sore ini, 21 April 2021, ingin mengangkatnya sebagai bacaan menjelang buka puasa Ramadhan. Semoga bisa diambil i’tibar darinya.).

***

Seorang Abid (ahli ibadah), melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, sambil di tangannya memegang sebuah kapak.

Ia mendengar ada pohon di suatu tempat di dusunnya yang dijadikan sesembahan banyak orang, dan ia akan menebangnya.

Di tengah jalan iblis menghadangnya, menghalang-halanginya dengan mengatakan, “Jangan kau lakukan itu, kalau saja engkau tidak ingin dikeroyok oleh sekumpulan orang yang mempercayai kekeramatan pohon itu.”

“Aku tidak perduli jika harus dikeroyok orang-orang itu. Pokoknya aku akan menebangnya.”

Karena iblis tidak mampu menahannya, maka diajaklah si Abid itu duel.

Maka, cuma butuh waktu singkat saja dihantamlah iblis itu hingga tersungkur.

Namun, iblis tidak hilang akal apalagi semangat untuk menaklukkan si Abid itu dengan cara lain.

Dibujuklah si Abid dengan tawaran akan diberinya tiap hari satu dinar, yang tiap pagi uang itu bisa diambil dari balik bantalnya.

Kata sang iblis, “Uang itu bisa engkau belanjakan untuk keperluanmu tiap hari dan sisanya bisa engkau sedekahkan.”

Sang Abid yang memang kehidupannya miskin, tanpa berpikir panjang mengiyakan tawaran iblis itu.

Maka setiap bangun pagi, diambilnya satu dinar dari balik bantalnya, dan dibelanjakan uang itu untuk keperluannya.

Sampai suatu saat, sang Abid mengangkat bantal untuk mengambil jatahnya hari itu. Dilihatnya tidak ditemukan uang satu dinar, sebagaimana biasanya.

Ditunggunya sampai keesokan harinya, bisa jadi iblis lupa menaruh jatahnya. Diangkatnya lagi bantalnya pada hari berikutnya, dan lagi-lagi tidak ditemukan satu dinarnya.

Maka, marahlah si Abid itu, diambillah kapaknya, lalu langkahnya mengayun cepat menuju pohon yang disembah orang-orang dusun itu.

Di jalan ditemuinya iblis yang menghadangnya, terjadilah pergumulan di antara keduanya. Kali ini iblis memenangi pertarungan dengan begitu cepat.

Si Abid itu bertanya, “Bagaimana engkau bisa mengalahkanku dengan begitu cepat, padahal sebelumnya aku dapat mengalahkanmu dengan sekali pukulan?”

Jawab iblis, “Saat yang lalu engkau dapat mengalahkanku, karena engkau ikhlas akan menebang pohon itu agar masyarakat tidak menjadi syirik karenanya…

Tapi setelah itu, aku dapat mengalahkanmu, dikarenakan engkau akan menebang pohon itu dengan alasan kesal tidak mendapat jatah satu dinarmu.”

***

Hujjatul-Islam Imam al-Ghazali, dalam ‘Ihya Ulumuddin, menceritakan kisah di atas dengan penuh simbolisme, dan saya mengisahkannya tidak sama persis dengan aslinya. Tentu tidak sedikit pun mengubah substansinya.

Keikhlasan memiliki daya dorong di luar kebiasaan, yang bahkan tidak disadari oleh diri sendiri. Suatu kekuatan di luar nalar dan raganya.

Begitu pula sebaliknya, jika keikhlasan sudah tidak dimiliki, maka seseorang akan kehilangan daya kekuatannya untuk melakukan hal-hal kebaikan.

Ikhlas menempati maqam spiritual yang tinggi dari cabang-cabang keimanan, yang menjadi kriteria penentu bagi Allah dalam menerima amal.

Keikhlasan itu bersangkut paut dengan niat yang tulus, lepas dari kepentingan lain, kecuali semata ditujukan pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Wallahu a’lam. (Ady Amar)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.