Kamis, 14 Mei 2026, pukul : 10:55 WIB
Surabaya
--°C

Simbolistik Keberadaan Tuhan Lewat Jejak Kaki Onta

KEMPALAN: (Ngabuburit sore ini, 20 April 2021, ingin berkisah tentang dialog yang tampaknya berat, tapi sebenarnya tidak. Dialog antara seorang Teolog versus seorang Ateis. Kisah simbolistik yang menyebabkan kisahnya menjadi ringan saja. Berharap bisa membersamai suasana menjelang buka Ramadhan 1442 H.).

***

Di mana Tuhan engkau letakkan dalam pandanganmu?

Pandangan kita akan keberadaan Tuhan, tentu berbeda dengan pandangan kaum Ateis.

Mereka (Ateis) itu tidak percaya akan keberadaan Tuhan disebabkan Tuhan tidak tampak oleh mata mereka. Mereka cuma mempercayai apa yang tampak saja.

Jika ia ditanya siapa pencipta matahari, bulan, bintang-bintang di langit, maka jawabnya, benda-benda itu ada dengan sendirinya, tidak ada yang menciptakan.

Teori penciptaan menurut mereka adalah jika terlihat siapa penciptanya. Naif.

Bagaimana Tuhan bisa tampak di matanya, bahkan di mata hatinya, jika ia abai terhadap keberadaan-Nya lewat “Jejak-jejak-Nya”?

Maka dialog antara Teolog vs Ateis, tidak pernah berakhir dengan hasil yang diharapkan.

Untuk mengetahui Jejak-jejak Tuhan tidaklah terlalu sulit, jika manusia masih sedikit memiliki iman dalam hati, bahwa keberadaan Tuhan bisa tampak dari apa-apa yang diciptakan-Nya.

Mustahil ada ciptaan tanpa adanya Sang Pencipta. Dialektika berpikirnya simpel, dengan benda-benda yang dimilikinya, tentu ada sang kreator atau pencipta, meski ia tidak kenal siapa penciptanya.

Seorang badui Arab yang sederhana berpikirnya, bisa melihat jejak-jejak telapak kaki onta di padang pasir, tanpa harus melihat bentuk fisik ontanya. Dia meyakini ada onta yang lewat, meski tidak terlihat ontanya.

Marilah kita lihat dialog seorang Teolog vs seorang Ateis. Dua orang yg berdialog itu sama-sama memiliki intelektualitas mewakili kelompoknya.

Mendapat tantangan berat dari si Ateis itu, sang Teolog tidak berusaha mempertahankan pendapatnya dengan teori-teori yang dimilikinya untuk menangkis kritik lawannya, atau mencoba mengelak.

Maka, bertanyalah seseorang yang menyaksikan perdebatan itu, “Mengapa seluruh pengetahuanmu tentang wahyu tidak berhasil mengalahkan si Ateis dalam perdebatan itu?”

Sang Teolog itu menjawab, “Tempatku bersandar adalah Kitab Suci, sedang lawanku bersandar pada penghujatan atas Tuhan. Tentu aku menghindar, dan tidak ingin mendengar Tuhan dihujat.”

Wahyu dari Tuhan bisa sampai pada mereka yang mengimani, atau setidaknya percaya pada teori si badui Arab, bahwa melihat onta cukup lewat jejak telapak kakinya.

Jejak-jejak Tuhan yang beraneka ragam dan mengagumkan itu, tampak pada hasil-hasil karya-Nya. Dan itu sudah cukup untuk mempercayai keberadaan-Nya.

Beruntunglah mereka yang dibukakan mata hatinya untuk melihat Tuhan lewat Jejak-jejak-Nya.

Wallahu a’lam. (Ady Amar)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.