KEMPALAN: Pertanyaan kuis: kalau sebuah pesawat terbang melayang pada ketinggian 10 ribu kaki, lalu Ratu Elizabeth dan Pangeran Philip dijorokkan bareng-bareng, siapa yang jatuh ke tanah duluan? Jawab: pasti Philip nyungsep duluan ke tanah karena punya berat badan lebih dibanding Elizabeth.
Salah! Elizabeth yang jatuh duluan, karena sebagai bangsawan dan gentleman Philip menghormati perempuan dengan mengatakan, “Ladies first”.
Tidak bisa! Elizabeth-lah yang jatuh duluan, meskipun badannya kecil dan lebih ringan dari suaminya tapi dosa Elizabeth lebih berat.
Jawaban itu salah semua! Jawaban yang benar adalah “Who cares”, emang gue pikirin, mau Philip yang jatuh duluan atau Elizabeth yang nyungsep duluan, gak ngaru.
Itu adalah joke yang banyak beredar untuk mencemooh keluarga kerajaan Inggris. Itu guyonan lama yang beredar di kalangan aktivis anti-monarki Inggris. Joke itu tidak hanya beredar di Inggris tapi meluas sampai ke negara-negara anggota Persemakmuran seperti Australia.
Di tengah suasana berkabung keluarga kerajaan Inggris karena meninggalnya Pangeran Philip (9/4) dalam usia 100 tahun kurang dua bulan, joke semacam itu pasti dianggap tidak sopan. Hari ini (17/4) jenazah Pangeran Philip disemayamkan dengan upacara kerajaan yang sakral.
Kerajaan monarki konstitusional Inggris tercatat sebagai kerajaan tertua di Eropa dengan wilayah jajahan membentang dari Afrika sampai Asia. Pada abad ke-16 sampai 18 wilayah kekuasaan jajahan Inggris mencakup sekitar seratus negara. Revolusi industri pada 1760 yang ditandai dengan penemuan mesin uap oleh James Watt menjadikan Inggris sebagai negara imperialis dan kolonialis terbesar di dunia.
Penemuan mesin uap membawa mekanisasi industri pemintalan kapas di Inggris dengan ditemukannya mesin mekanik pemintal kapas. Akibat mekanisasi itu produktifitas meningkat pesat dan sumber bahan baku kapas harus diimpor dari negara lain. Pada saat yang sama mesin uap bisa menghasilkan kapal-kapal yang berlayar menggunakan mesin sebagai pengganti layar angin. Penemuan kapal mesin membuat Inggris bisa menjelajahi dunia, menguasai negara-negara jajahan untuk mengambil bahan baku guna memenuhi kebutuhan pasar yang semakin besar.
Kapitalisme Eropa berkembang pesat karena pasar Eropa sedang mekar dan produktifitas melimpah ruah. Negara jajahan di luar negeri dibutuhkan sebagai sumber bahan baku sekaligus perluasan pasar ekspor. Inilah cikal bakal tumbuhnya kolonialisme-kapitalisme yang berkembang menjadi globalisasi sampai sekarang.

Bersamaan dengan lahirnya revolusi industri muncul pula kalangan pengusaha kelas menengah, para entrepreneur, yang menjadi OKB, orang kaya baru, nouveau riche, yang menuntut kebebasan yang lebih besar. Kalangan kelas menengah kaya baru inilah yang menjadi salah satu penggerak Revolusi Inggris pada 1688 yang menuntut hak demokrasi yang lebih besar bagi parlemen. Revolusi ini menjadi dasar bagi terbentuknya sistem monarki konstitusional Inggris sampai sekarang. Pecahnya Revolusi Prancis 1789 semakin memperkuat gerakan demokrasi di Eropa. Sepuluh tahun setelah Revolusi Prancis hampir seluruh kerajaan Eropa jatuh dan berubah menjadi republik atau monarki-konstitusi seperti Inggris.
Inggris mencuri start lebih dulu melalui revolusi industri. Angkatan Laut Inggris menjelajah seluruh dunia melalui kapal-kapal api dengan sistem navigasi modern. Inggris menguasai Afrika dan Asia sampai ke India. Saking luasnya wilayah jajahan Inggris sampai muncul sebutan “the sun never sets in the British empire”, matahari tidak pernah tenggelam di kemaharajaan Inggris.
Perang Dunia Pertama pada 1914 dan Perang Dunia Kedua pada 1939 membuat kekuasaan kolonial lepas satu-persatu. Negara-negara jajahan Inggris di Asia dan Afrika dan negara-negara koloni seperti Kanada dan Australia secara resmi lepas dari kekuasaan politik Inggris. Mereka kemudian membentuk persekutuan longgar yang disebut sebagai “Commonwealth Countries” atau negara-negara Persemakmuran beranggotakan 16 negara termasuk Kanada, Afrika Selatan, Australia, India, sampai ke tetangga kita Malaysia dan Brunei Darussalam.
Ini adalah koalisi longgar negara-negara jajahan yang lebih banyak diikat oleh faktor budaya yang didukung oleh kalangan aristokrat lama yang merindukan romantisme sejarah. Selain hubungan ekonomi dan koalisi politik yang longgar, negara-negara Persemakmuran juga menyelenggarakan even olahraga seperi Commonwealth Games. Itu pun sekarang sudah redup pamornya.
Di banyak negara banyak muncul gerakan anti-monarki Inggris. Di Australia gerakan ini menjadi gerakan arus utama ketika Partai Buruh mengalami masa keemasan pada 1990-an di bawah perdana menteri Bob Hawke dan Paul Keating. Gerakan untuk memisahkan diri dari Inggris dan membentuk negara Republik Australia menjadi agenda utama Partai Buruh.
Australia yang secara geografis berada di Asia harusnya berintegrasi sepenuhnya dengan tetangga-tetangga di sekitarnya. Karena orientasinya yang masih tetap melekat ke Inggris itulah maka integrasi Australia dengan Asia masih setengah hati.
Upaya integrasi sudah dilakukan melalui gerakan budaya dan olahraga. Tetapi upaya itu masih tetap dianggap nanggung. Australia masih tetap dianggap sebagai negara satelit Inggris di Asia.
Kalangan republikan Australia itulah yang selama ini kritis terhadap monarki Inggris. Berbagai olok-olok terhadap keluarga kerajaan Inggris menjadi bagian dari retorika politik kaum republikan ini. Ulang tahun Ratu Inggris dan ibunda Ratu Inggris menjadi hari libur nasional di Australia. Hal ini selalu dipertanyakan oleh kaum republikan, mengapa ulang tahun nenek-nenek di Eropa harus menjadi hari libur nasional di Australia.
Berbagai joke dan olok-olok mengenai keluarga kerajaan Inggris beredar luas di kalangan republikan Inggris, termasuk joke Ratu Elizabeth dan Pangeran Philip yang dijorokkan dari pesawat terbang itu.
Tapi, tentu saja masih sangat banyak warga Australia yang menghormati dan mencintai keluarga kerajaan Inggris, terutama yang berkulit putih dan mempunyai nenek moyang dari Inggris. Kematian Pangeran Philip (9/4) dalam usia 100 tahun kurang dua bulan, diratapi dengan kesedihan yang mendalam. Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengumumkan rasa belasungkawa dan mengungkap kedekatan Pangeran Phillip dengan Australia sebagai sesama negara Persemakmuran.

Pangeran Philip tidak asing dengan Australia, dia telah berkunjung lebih dari 20 kali. Ia memimpin sebagai pelindung atau presiden hampir 50 organisasi di Australia. Pangeran Philip juga memiliki hubungan yang kuat dengan Angkatan Pertahanan Australia.
Tetapi para pembenci monarki Inggris tetap bersikap kritis. Pangeran Philip yang suka bercanda, dan kadang berlebihan, diledek sebagai Pangeran PKK yang kerjanya hanya berjalan setengah langkah di belakang Ratu Elizabeth selama 70 tahun.
Berbagai skandal perkawinan yang terjadi pada keluarga kerajaan Inggris dianggap sebagai bukti bahwa monarki Istana Buckingham tidak bisa menjadi panutan moral. Pangeran Charles yang sekarang menjadi putra mahkota bercerai dari Diana Spencer. Charles berselingkuh dengan Camilla Parker dan Diana berselingkuh dengan pengusaha Dodi Alfayed.
Pangeran Andrew cerai dari Sarah Ferguson, dan sekarang terjerat dalam kasus skandal seks yang tengah diselidiki di Amerika Serikat.
Pesta perkawinan para pangeran itu mirip kisah Cinderella, tapi akhirnya berujung bencana.
Skandal terbaru melibatkan Pangeran Harry, anak kedua Charles, yang menikah dengan Meghan Markle, perempuan bukan ningrat dan bukan kulit putih. Harry merasa istrinya diperlakukan secara rasis karena kulitnya yang hitam dan tidak berdarah biru. Harry memutuskan keluar dari Istana Buckingham dan menanggalkan semua gelar kebangsawanannya.
Harry khawatir Meghan menghadapi nasib yang sama dengan Diana yang mengalami tekanan mental karena depresi. Diana meninggal dalam kecelakaan mobil pada 1997 karena dikejar-kejar oleh papparazi yang memergoki kencannya dengan Dodi Alfayed.
Sekarang Harry hidup sebagai orang biasa bersama Meghan di Amerika. Ia tidak bisa hidup sebagai bangsawan di Istana Buckingham, tapi dia masih tetap bisa hidup nyaman dari publikasi kisah-kisah kehidupan kebangsawanannya.
Wawancara Harry dengan ratu talk show Oprah Winfrey Maret lalu ditonton oleh 50 juta orang lebih, memecahkan rekor talk show manapun di dunia. Talk show itu dianggap pengkhianatan terhadap Istana Buckingham, tapi Harry mendapatkan royalty yang besar untuk tetap bisa hidup nyaman.
Monarki dan feodalisme dicaci-maki, tapi masih lebih banyak orang ingin menjadi sang pangeran dan Cinderella, meskipun hanya dalam mimpi. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi