KEMPALAN: Selama ratusan tahun istana kerajaan Inggris menjadi sumber pemberitaan yang tidak pernah kering. Ratusan buku ditulis, ratusan film diproduksi, dan ribuan episode televisi ditayangkan.
Tabloid-tabloid Inggris setiap hari seperti orang kelaparan melalap semua berita mengenai Istana Buckingham, Istana Windsor, dan semua hal remeh-temeh mengenai kehidupan pribadi ratu, anak-anaknya, dan para bangsawan kerajaan. Gosip mengenai perkawinan, perceraian, kelahiran, menjadi headline setiap hari. Bahkan sendok hilang di istana pun menjadi berita yang diikuti dengan antusias.

Pangeran Philip meninggal Jumat (9/4) dalam usia 99 tahun. Juni nanti sebenarnya istana sudah menyiapkan acara khusus untuk memeringati ulang tahunnya yang ke-100. Philip meninggalkan istrinya, Ratu Elizabeth II yang menjadi ratu sejak 1952.
Perkawinan Philip-Elizabeth langgeng selama 70 tahun sampai maut memisahkan mereka. Tidak seperti anak-anaknya yang kawin cerai dan menjadi santapan gosip tabloid tiap hari, perkawinan Philip-Elizabeth tenteram dan jauh dari terpaan skandal.

Anak tertua Philip-Elizabeth adalah Pangeran Charles yang sekarang berusia 72 tahun, sangat tua untuk sebutan pangeran dan putera mahkota. Charles harus bersabar menunggu giliran dari ibunya yang sekarang sudah berumur 94 tahun.
Pangeran Charles cerai dari Diana dan menimbulkan skandal dan sensasi besar di seluruh dunia pada 1996 setelah menjalani kawin paksa selama 15 tahun. Diana meninggal dalam kecelakaan tragis pada 1997 karena mengebut menghindari kejaran wartawan yang mengendus perselingkuhannya dengan pengusaha kaya keturunan Mesir Dodi al-Fayed.
Andrew, adik Charles, lebih kacau lagi kehidupan perkawinannya. Ia cerai dari Sarah Ferguson dan menduda sampai sekarang dan terlibat dalam banyak skandal seks sampai ke Amerika.
Sekarang giliran dua anak Charles, William dan Harry, yang menjadi santapan gosip tabloid setiap hari. William relatif lebih aman dari gosip. Tapi Harry menjadi makanan empuk gosip tiap saat. Perkawinannya dengan Meghan Markle, seorang janda berkulit hitam, menjadi sorotan yang tidak pernah putus. Harry merasa ada perlakuan diskriminatif dari istana terhadap istrinya, dan memutuskan untuk meninggalkan istana dan melepas gelar kebangsawanannya.

Pangeran Philip menjadi saksi sejarah semua skandal cinta anak dan cucunya. Tapi Philip juga menjadi saksi sejarah perjalanan politik kerajaan Inggris selama satu abad terakhir. Ia lahir pada 1921 ketika kerajaan Inggris menjadi superpower tunggal dunia. Wilayah jajahannya meliputi seperempat wilayah bumi dari Afrika, Timur Tengah, India, sampai ke Asia Tenggara. The sun never set in Great Britain, matahari tidak pernah tenggelam di Britania. Begitu orang Inggris membanggakan negaranya yang menjadi menjadi penjajah terbesar dalam sejarah dunia. Karena jajahannya merentang dari barat sampai ke timur, maka disebutlah bahwa matahari tidak pernah tenggelam di Britania Raya Inggris.
Dalam seratus tahun kekuasaan Inggris satu persatu mulai tanggal dan akhirnya habis memerdekakan diri. Status sebagai negara adidaya dunia lepas dari Inggris dan harus menyerahkannya kepada Amerika yang notabene adalah negara jajahan Inggris.
Sejarawan masyhur Inggris Arnold Toynbee (1889-1975) bercerita mengenai kesaksian sejarah momen kemerosotan kekuasaan kerajaan Inggris. Pada 22 Juni 1897, Toynbee yang masih anak SD usia delapan tahun dibopong di pundak bapaknya untuk menyaksikan parade memeringati ulang tahun ke-60 Ratu Victoria. Ribuan pasukan kerajaan Inggris melakukan parade di London memamerkan seragam yang mewah dan berwibawa. Pasukan berkuda berderap rapi dan indah, senjata-senjata modern dipamerkan dalam parade panjang.
Sekitar 400 juta orang di seluruh dunia hari itu menikmati libur nasional memeringati hari lahir Ratu. Jumlah itu adalah seperempat penduduk dunia ketika itu. Hari lahir Ratu Inggris menjadi hari libur resmi di seluruh Inggris raya termasuk di negara-negara jajahannya. Pada peringatan ulang tahun berlian Ratu Victoria, pesta perayaan besar dilakukan serentak di seluruh negara jajahan. Para pemimpin negara koloni, para pangeran, dan para diplomat dari wilayah negara jajahan berkumpul mengikuti upacara peringatan di Istana Buckingham.
Di Kanada parade militer ribuan tentara disaksikan dengan sukacita oleh ratusan ribu warga. Ribuan anak sekolah berparade dengan seragam dan melambai-lambaikan bendera Inggris Union Jack. Di India setiap satu dari sepuluh narapidana dibebaskan melalui grasi Ratu. Di Burma digelar pesta rakyat yang ditandai dengan dentuman ratusan meriam. Di Zanzibar, di Shanghai rakyat berpesta, patung Ratu Victoria didirikan. Di Singapura patung Raffles dikerek di taman air mancur besar dalam pesta rakyat yang gegap gempita.
Itulah puncak kedigdayaan Inggris sebagai negara kolonial paling besar dalam sejarah dunia, tidak pernah ada negara lain yang bisa memamerkan kekuasaan seperti itu sampai sekarang.
Fareed Zakaria, mantan pemimpin redaksi “Newsweek” menulis kisah itu dalam buku “The Post American World” (2008). Ia meihat pesta itu sebagai momen keperkasaan sekaligus tanda-tanda kehamcuran. Dua tahun setelah pesta ulang tahun extravaganza itu Inggris terlibat dalam Perang Boers di wilayah jajahannya di Afrika Selatan.
Para petani kulit putih memberontak menentang kekuasaan yang mengeksploitasi tanah dan properti para petani secara berlebihan sehingga menimbulkan kemiskinan dimana-mana. Inggris menganggap enteng perlawanan para petani ini. Media Inggris menurunkan headline “Kemaharajaan Inggris Berperang Melawan Petani Pemberontak”.
Jumlah pemberontak yang hanya 45 ribu orang tidak ada bandingnya dengan ratusan ribu tentara Inggris di Afrika. Tapi para pemberontak Boers yang lebih menguasai wilayah melancarkan taktik hit and run, serang dan lari, yang efektik. Inggris kewalahan dan menurunkan 450 ribu tentaranya, sepuluh kali lipat tentara pemberontak. Tapi Inggris tetap kocar-kacir menghadapi serangan gerilya Boers dan akhirnya menyerah kalah.
Kekalahan dari pemberontak Boers menjadi kartu domino ambruknya kekuasaan Inggris. Perang itu menyedot biaya yang sangat besar dari kas kerajaan Inggris yang membebani ekonomi kerajaan.
Lima belas tahun kemudian Inggris menjadi motor sekutu bersama Prancis dan Rusia terlibat dalam Perang Dunia I melawan koalisi Jerman, Prusia, dan Italia. Perang empat tahun dari 1914 sampai 1918 itu membuat ekonomi Inggris nyaris bangkrut. Jutaan tentara tewas dan kekuatan militer Inggris keropos.
Perang Dunia Kedua yang pecah pada 1939 sampai 1945 menjadi tanda-tanda tenggelamnya kekuasaan Inggris. Amerika dan Rusia yang menjadi sekutu Inggris muncul sebagai kekuatan baru setelah mengalahkan Jerman dan Italia yang menjadi musuh utama.
Negara-negara jajahan Inggris di Afrika dan Asia satu-persatu memerdekakan diri.
Inggris tidak bisa berbuat banyak kecuali mengikat bekas negara jajahannya dalam koalisi longgar negara-negara Commonwealth dalam bentuk persemakmuran yang lebih banyak direkatkan oleh faktor budaya daripada faktor politik atau ekonomi.
Kematian Pangeran Philip menjadi peristiwa budaya penting bagi warga Inggris untuk bernostalgia mengenang kehebatan mereka di masa lalu. Dunia berubah sangat cepat, Panta Rei, kata orang Yunani. Cakra Manggilingan, kata orang Jawa. Dunia berputar seperti roda pedati.
The Prince is Dead, Long Live The Prince. Sang Pangeran telah wafat. Hidup, Sang Pangeran! (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi