KEMPALAN: Kali ini Malang sedang malang. Dua hari berturut-turut gempa dengan magnitudo 6,1 terjadi di wilayah Malang dan sekitarnya. Kerusakan yang ditimbulkan merantak sampai ke kota kabupaten sekitarnya seperti Blitar dan Lumajang. Getarannya terasa sampai ke Surabaya sampai ke ujung Pulau Madura di Sumenep.
BMKG (Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika) menyebut episentrum, pusat gempa ada di kedalaman laut 80 kilometer di perairan sebelah selatan Kepanjen. Gempa ini termasuk jenis megathrust yang biasanya membawa tsunami yang menghancurkan. Kali ini gempa tidak membawa tsunami karena pusatnya yang jauh di kedalaman laut.
Malang masih selamat dari kemalangan yang lebih malang.
Etimologi asal usul nama Malang sampai sekarang masih diperdebatkan oleh para ahli sejarah. Nama Malang muncul pertama kali pada Prasasti Pamotoh Ukirnegara sekitar abad ke-12, yang menyebutkan nama Malangkucecwara sebagai salah sebuah candi tempat ibadah terbesar. Lokasi geografisnya diperkirakan ada di terletak di daerah Gunung Buring, suatu pegunungan yang membujur di sebelah timur Kota Malang sekarang.
Malangkucecwara, atau dilafalkan Malangkuseswara, terdiri dari tiga kata, Mala yang berarti bencana, kejahatan, atau kezaliman, Kuceca, artinya dihilangkan atau dihancurkan, dan Wara yang berarti tuhan. Jadi arti keseluruhannya adalah “Tuhan telah menghilangkan bencana dan menghancurkan kezaliman”. Berbeda dengan arti etimologi malang yang berarti nasib sial, Malang justru bermakna keberuntungan karena Tuhan telah menghilangkan bencana dan menghancurkan kezaliman.
Keberuntungan itu terjadi di tengah kemalangan bencana kali ini. Gempa megathrust yang mempunyai potensi menjadi tsunami ternyata bisa dihindari karena episentrumnya berada jauh di kedalaman laut.

Masih segar dalam ingatan bagaimana gempa Aceh pada 26 Desember 2004 membawa tsunami yang menghancurkan wilayah Aceh dan menelan korban 167 ribu jiwa meninggal dan hilang. Itulah salah satu gempa megathrust terbesar dalam sejarah Indonesia.
Gempa megathrust bawah laut terjadi ketika Lempeng Hindia didorong ke bawah oleh Lempeng Burma dan memicu serangkaian tsunami dahsyat di sepanjang pesisir daratan yang berbatasan dengan Samudra Hindia.Gempa dan tsunami ini merupakan salah satu bencana alam paling mematikan sepanjang sejarah.
Tsunami Aceh terjadi akibat gempa dangkal di laut bermagnitudo 9,3, yang jaraknya sekitar 149 kilometer dari Meulaboh. Magnitudo gempa Malang tidak sebesar Aceh, tetapi potensi tsunami tetap sangat besar jika episentrum terletak di perairan yang lebih dangkal.
Orang Jawa Timur menyebut gempa bumi sebagai lindu dan mengaitkannya dengan legenda dan mitologi. Jawa Timur sangat jarang terkena lindu besar dan lindu Malang tahun ini termasuk salah satu yang terbesar.
Orang Jawa selalu mengaitkan peristiwa alam dengan mitologi atau legenda tertentu, misalnya suksesi dan munculnya pemimpin besar yang membawa kemajuan dan kemakmuran.
Pada abad ke-14 Jawa Timur pernah dilanda gempa bumi dahsyat. Pada Serat Pararaton yang digubah dalam bahasa Jawa Kawi disebutkan bahwa lindu adalah penanda perubahan dan lahirnya seorang calon raja besar.
Pada abad itu lahir Hayam Wuruk dan Gajah Mada yang menjadi duet maut di Kerajaan Majapahit sebagai raja dan patih yang menjadikan Majapahit sebagai pemersatu Nusantara. Kepercayaan mitologis semacam itu juga hidup di kalangan masyarakat lain misalnya masyarakat Jawa Barat yang menghubungkan fenomena alam dengan kelahiran Kerajaan Padjadjaran.
Dalam catatan sejarah Indonesia ada dua bencana besar yang tercatat sebagai bencana terbesar di dunia. Letusan Gunung Krakatau pada 1883 di wilayah Indonesia yang dulu disebut Hindia Belanda membawa akibat perubahan alam sampai ke seluruh dunia.
Pada 27 Agustus 1883, dua pertiga bagian Krakatau runtuh dalam sebuah letusan berantai, melenyapkan sebagian besar pulau di sekelilingnya.

Aktivitas seismik tetap berlangsung hingga Februari 1884. Letusan ini adalah salah satu letusan gunung api paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah, menimbulkan setidaknya 36.417 korban jiwa akibat letusan dan tsunami yang dihasilkannya. Dampak letusan ini juga bisa dirasakan di seluruh penjuru dunia.
Bencana lain yang terjadi di wilayah Indonesia adalah
Letusan Krakatau 1883 terjadi di Hindia Belanda (sekarang Indonesia), yang bermula pada tanggal 26 Agustus 1883 (dengan gejala pada awal Mei) dan berpuncak dengan letusan hebat yang meruntuhkan kaldera. Pada tanggal 27 Agustus 1883, dua pertiga bagian Krakatau runtuh dalam sebuah letusan berantai, melenyapkan sebagian besar pulau di sekelilingnya. Aktivitas seismik tetap berlangsung hingga Februari 1884. Letusan ini adalah salah satu letusan gunung api paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah, menimbulkan setidaknya 36.417 korban jiwa akibat letusan dan tsunami yang dihasilkannya. Dampak letusan ini juga bisa dirasakan di seluruh penjuru dunia.
Bencana lain yang lebih dahsyat terjadi sekira 70 ribu tahun yang lampau dengan meletusnya Gunung Toba yang merupakan salah satu letusan terdahsyat dalam dua juta tahun terakhir yang berimbas pada perubahan iklim global dan bahkan nyaris menghabiskan seluruh manusia yang ada di dunia.
Letusan supervulkanik ini bahkan membentuk danau kawah terbesar di dunia, Danau Toba. Setelah letusan, diperkirakan terjadi musim dingin vulkanik yang berlangsung enam hingga 10 tahun, menyebabkan pendinginan di permukaan Bumi selama 1.000 tahun.
Dahsyatnya letusan Gunung Toba kala itu, membuat bencana besar termasuk menghancurkan populasi hominin dan mamalia di Asia.
Ilmuwan memperkirakan bahwa letusan itu hampir memusnahkan manusia yang sedang bermigrasi, membuat mereka tertahan di Afrika timur dan India.
Bahkan, beberapa ahli mengatakan peristiwa itu hampir mendorong spesies kita ke jurang kepunahan.
Bukti historis ilmiah itu menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai peran besar dalam sejarah peradaban dunia. Wilayah Indonesia terbukti menjadi punjer dunia, pusat dunia, atau center of the universe yang menentukan perkembangan peradaban manusia.
Penelitian para ahli arkeologi dunia menunjukkan bahwa peradaban agung Atlantis berpusat di wilayah Indonesia. Peradaban besar itu musnah dan jejaknya tidak diketahui. Baru belakangan Prof Arysio Santos dari Brazil menulis buku “Atlantis: The Lost Continent Finally Found” (2005) yang membuktikan bahwa Atlantis yang hilang itu ada di wilayah Indonesia.
Prof. Stephen Oppenheimer memiliki keyakinan bahwa induk dari semua peradaban di muka bumi berasal dari bumi Nusantara yang kini bernama Indonesia. Keyakinannya itu dituangkannya dalam buku Eden of the East: The Drowned Continent of Southeast Asia” (1998). Prof. Oppenheimer pernah menemui Presiden SBY untuk mendiskusikan temuannya itu.
Sejarah menunjukkan bahwa Indonesia sudah akrab dengan berbagai bencana besar mulai dari bencana laut sampai bencana akibat ledakan vulkanik. Lokasi Indonesia yang berada di benturan lempeng vulkanik membuat Indonesia rawan gempa dan tsunami. Lokasi geografis Indonesia yang berada pada lingkaran api, ring of fire, membuat Indonesia rawan bencana gunung berapi.
Tapi, Indonesia dikaruniai tanah yang subur, bumi yang kaya akan mineral dan hasil tambang, serta lautan yang kaya dengan berbagai hasil laut. Potensi kekayaan alam ini tidak tertandingi oleh negara manapun di dunia.
Indonesia adalah pusat peradaban dunia di masa silam, dan menjadi punjer dunia yang menentukan penyebaran umat manusia ke seluruh dunia. Seharusnya Indonesia bisa merebut kembali kegemilangan itu kalau negara ini tidak salah urus. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi