KEMPALAN: Ada dua cara masuk surga. Satu membangun dan memindahkan ibukota. Dua menjadi koruptor kemudian lari ke Singapura.
Dua surga itu bikin heboh pekan ini. Satu, Surga ala Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor yang sudah mengantongi free pass untuk Presiden Joko Widodo. Isran bilang, kalau Jokowi bisa memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke Kabupaten Penajam Paser Utara, ia bakal masuk Surga.
Surga kedua ada di Singapura. Begitu kata Deputi Penindakan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Karyoto. Bukan surga sembarang surga, tapi surga untuk para koruptor Indonesia yang lari dan bersembunyi di negeri kecil nan makmur itu.
Surga ala Isran, kelihatannya, disediakan khusus untuk Jokowi, dengan syarat bisa memindahkan ibukota negara ke Kaltim. Sayangnya Isran tidak melanjutkan pernyataannya, kalau gagal pindah ibukota berarti Jokowi batal masuk surga, atau malah masuk neraka.
Supaya tidak batal masuk surga proyek pindah ibukota dikebut dengan gaspol. Tahun ini groundbreaking dimulai, dan dan pada 17 Agustus 2024, sebelum masa pemerintahan periode kedua Jokowi selesai, ibukota sudah siap pindah. Malah katanya upacara Agustusan 2024 akan diselenggarakan di ibukota baru.
Tentu ini pekerjaan besar yang harus dikebut siang-malam. Skala raksasa proyek dan kecepatan waktu yang ditetapkan hanya bisa ditandingi oleh legenda Bandung Bondowoso yang membangun seribu candi dalam waktu semalam, untuk bisa mendapatkan hadiah surga mengawini Roro Jonggrang yang digandrunginya.
Dalam legenda itu Bandung Bondowoso yang tergila-gila kepada Roro Jonggrang bersedia memenuhi permintaan sang putri yang mustahil untuk dikerjakan manusia. Tapi karena Bandung Bondowoso punya kesaktian hebat dan bisa mendatangkan pasukan jin prayangan, maka dalam waktu semalam ia bisa menyelesaikan seribu candi orderan sang putri.
Tapi rupanya Roro Jonggrang tidak ingin dikawini oleh Bandung Bondowoso. Ia membuat muslihat dengan membangunkan dayang-dayangnya untuk memukul lesung dan membuat ayam-ayam jantan berkokok tanda malam sudah berganti siang.
Bandung Bondowoso sudah menyelesikan 999 candi dan hanya tersisa satu candi yang keseribu. Tapi deadline sudah lewat dan Bandung Bondowoso batal mengawini Roro Jonggrang. Karena marah dan merasa dikhianati, Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi patung batu.
Jokowi tentu lebih memilih masuk surga daripada dikutuk jadi patung batu. Desain ibukota dengan Burung Garuda raksasa sudah disiapkan. Mungkin sebentar lagi akan dibikin patung batu Jokowi untuk dikerek di ibukota baru. Kalau ibukota jadi pindah, patung itu akan jadi tambahan pemandangan. Tapi kalau gagal pindah, patung itu akan jadi patung kutukan seperti Roro Jonggrang.
Surga di Singapura beda lagi wujudnya. Menurut Deputi Penindakan KPK, Karyoto, Singapura adalah surga bagi koruptor Indonesia, karena kalau sudah lari ke negara itu akan susah untuk ditangkap, karena tidak ada perjanjian ekstradisi antara Indonesia dengan Singapura.

Sebenarnya tidak ada yang baru dalam pernyataan Karyoto. Semua sudah mafhum bahwa Singapura menjadi tempat persembunyian yang aman dan nyaman bagi para koruptor Indonesia. Tanpa perjanjian ekstradisi Singapura tidak punya kewajiban mengembalikan buron Indonesia. Semua orang sudah tahu Singapura ingin menjadi tempat investasi yang aman bagi siapa saja, karena itu tidak perlu heran mengapa perjanjian ekstradisi sangat sulit direalisasi. Pernah di zaman SBY dibuat perjanjian itu, tapi sampai sekarang hanya tinggal perjanjian di atas kertas tanpa ada implementasi.
Singapura juga pura-pura kuping tipis dan sensi soal status surga koruptor itu. Malah Singapura cenderung parno kalau sudah menyangkut soal koruptor Indonesia. Padahal kedua pihak sudah TST, tahu sama tahu, dan mungkin diam-diam juga sudah saling atur kompensasi supaya sama-sama cincai.
Salah satu contoh kasus paling segar baru terjadi kemarin sore. Pengusaha Sjamsul Nursalim dan istri yang sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus BLBI oleh KPK tinggal nyaman sebagai permanent residence, penduduk tetap, di Singapura. Ia tidak bisa ditangkap atau diekstradisi meskipun keberadaannya diketahui. Baru setelah KPK mengeluarkan SP3, Sjamsul Nursalim nongol. Belasan, mungkin puluhan atau ratusan, Sjamsul Nursalim ada di Singapura sampai sekarang.
Selama ini upaya kasar lewat ekstradisi selalu buntu. Dan cara halus pun tidak mempan. Proyek Sri Mulyani uktuk memberikan tax amnesty, pengampunan pajak, bagi para wajib pajak besar, sebenarnya ditujukan untuk menarik uang yang diparkir di luar negeri, termasuk di Singapura yang jumlahnya triliunan. Tapi, cara halus itu pun tidak membawa hasil. Target triliunan yang dipatok gagal dipenuhi. Para wajib pajak kelas hiu itu tetap parkir uang di luar negeri, termasuk di Singapura. Hanya wajib pajak kelas teri lokal saja yang mau bayar pajak dan menerima pengampunan. Para buron pajak raksasa itu tidak tertarik sama sekali untuk dapat pengampunan, karena tanpa pengampunan pun mereka aman-aman saja. Tinggallah Sri Mulyani yang ampun-ampun karena proyeknya gagal.

Singapura selalu sensi dari dulu. Waktu awal reformasi 1998 Singapura ribut dengan Habibie yang ketika itu dilantik sebagai presiden pengganti Suharto.
Rupanya Singapura tidak sreg dengan kemunculan Habibie sebagai presiden baru, sehingga Perdana Menteri Goh Chok Tong menunda-nunda pemberian ucapan selamat untuk Habibie.
Habibie tersinggung karena menilai tetangganya itu kurang menghargai Indonesia. Pada saat itulah Habibie menyebut Singapura sebagai “the red little dot” atau titik merah kecil untuk menggambarkan negara kecil yang suka bikin panas hati.
Ungkapan kekecewaan itu disampaikan dalam wawancara dengan The Asia Wall Street Journal tiga bulan setelah dilantik pada 1998.
“You see, a friend in need is a friend indeed. I don’t have that feeling from Singapore,” ujar Habibie.
Singapura sendiri saat itu tidak terkena dampak ekonomi sebesar yang Indonesia rasakan. Dalam artikel yang keluar pada 4 Agustus 1998 tersebut tertulis bahwa Habibie menyebut Singapura sebagai titik merah kecil.
“It’s ok with me but there are 211 million people (in Indonesia). All the green (area) is Indonesia. And that red dot is Singapore.” ujar habibie saat itu yang menunjukkan perbandingan besar kedua negara.
Singapura marah atas sebutan ini. Dalam pidato kenegaraan Perdana Menteri Goh Chok Tong menyerang balik. “Singapore will help Indonesia within the limits of our ability. We are a small economy. Afterall we are only three million people. Just a little red dot on the map. Where is the capacity to help 211 million people?”
Kata Goh, Singapura akan membantu Indonesia sesuai kemampuan dan kapasitasnya. Toh, Singapura hanya titik merah kecil dibanding Indonesia.
Sekarang keadaan berubah. Julukan yang semula membuat merah telinga sekarang malah menjadi julukan yang dibanggakan oleh masyarakat Singapura.
Saat Singapura identik dengan julukan The Little Red Dot yang itu. Masyarakat dunia pun memakai julukan itu bukan untuk merendahkan tapi untuk memberi kesan unik bahwa di tengah negara-negara besar Singapura yang kecil bisa merah membara dan maju sejahtera.
Pada perayaan kemerdekaan ke-50 2015 yang Singapura memakai lambang titik bulat merah yang didalamnya tertulis SG50. Habibie mungkin tersenyum di surga melihat perubahan ini. Mungkin juga sebentar lagi Singapura akan santuy kalau disebut sebagai surga koruptor.
Kita tinggal menunggu apakah 2024 nanti Isran Noor bisa membawa Jokowi ke surga atau sebaliknya. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi