KEMPALAN: Panjat sosial bukan jenis olahraga baru seperti panjat tebing. Anak-anak milenial menyebutnya “pansos”, yang dalam istilah psikologi disebut social climber. Belakangan, istilah ini sangat populer di kalangan aktivis media sosial di jagat maya.
Karena popularitasnya di alam maya sampai KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) menjadikannya sebagai entri baru dan memberinya debut sebagai salah satu kosa kata baru dalam Bahasa Indonesia. Menurut KBBI, pansos adalah panjat sosial yang mengarah pada usaha untuk mencitrakan diri sebagai orang yang mempunyai status sosial tinggi.
Pansos dikaitkan dengan upaya cari perhatian, caper dalam bahasa gaul milenial, dan sering disebut sebagai attention seeker. Caranya dengan melempar umpan atau “bait” supaya bisa digigit atau disambar untuk mendapatkan respons sebanyak mungkin.
Seseorang yang numpang populer dengan mengasosiasikan dirinya kepada selebritas medsos yang sedang ngetop disebut melakukan pansos. Orang yang datang ke acara yang diadakan selebritas medsos juga disebut melakukan pansos.
Ketika para pejabat tinggi negara datang ke acara mantenan extravaganza Aurel Hermansyah dan Atta Halilintar, Sabtu (3/4) mereka disebut melakukan pansos. Banyak netizen dan masyarakat umum yang mengecam kemunculan para pejabat di acara mantenan itu. Selain dianggap pansos juga dianggap tidak sensi alias kurang sensitif di tengah kondisi pandemi yang masih sangat memprihatinkan.
Beberapa waktu belakangan ini ada beberapa acara mantu yang menjadi sorotan publik karena bikin heboh.
Acara mantu Habib Rizieq di Petamburan, November tahun lalu, heboh karena dianggap menimbulkan kerumunan yang melanggar prokes. Habib Rizieq sudah membayar denda, tapi akhirnya tetap ditahan dan sekarang kasusnya sedang disidangkan.
Resepsi mantu politisi PDIP, Said Abdullah, di Sumenep (14/3) juga tak kalah heboh. Sebanyak 20 ribu undangan disebar dan diperkirakan sekitar 30 ribu undangan hadir. Meskipun acara itu menerapkan prokes tapi mengumpulkan kerumunan sebesar itu di saat rawan seperti sekarang sangatlah berisiko. Meski demikian tidak ada pemeriksaan terhadap Said Abdullah sebagaimana yang dilakukan terhadap Habib Rizieq yang dijerat pasal berlapolis, pelanggaran kekarantinaan dan penghasutan.
Yang paling baru adalah acara mantu artis-politisi Kris Dayanti dan Anang Hermansyah yang menikahkan anaknya Aurel Hermansyah dengan youtuber Atta Halilintar itu.
Kalau saja tidak ada pandemi, Aurel dan Atta akan menggelar resepsi pernikahannya di Gelora Bung Tomo yang kapasitasnya sekitar 80 ribu tribun tempat duduk. Kalau acara dilakukan dengan standing party mungkin bisa menampung 100 ribu orang.

Karena masih musim pandemi maka acara resepsi kolosal itu diurungkan. Sebagai gantinya resepsi disiarkan live stasiun televisi infotainment nasional. Presiden Joko Widodo dan istri hadir. Menhan Prabowo Subianto dan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo juga hadir.
Ini memang acara perkawinan yang extravaganza karena pasangan Aurel-Atta punya follower jutaan di media sosial. Dengan hadir di acara mantenan ini para politisi itu dapat promosi gratis di kalangan follower Aurel dan Atta.
Dengan pengikut 21 juta orang Atta Halilintar menjadi youtuber paling top di Indonesia, dengan penghasilan miliaran rupiah perbulan. Dengan follower sebesar itu Atta bisa memengaruhi opini publik dengan cukup mudah. Ia bisa menjadi influencer yang sangat potensial bagi para politisi dalam persaingan politik, yang sekarang sangat dipengaruhi oleh propaganda komputasional.
Pada pilpres 2019 yang lalu Jokowi bersaing sangat keras dengan Prabowo memperebutkan kursi RI 1. Persaingan yang keras ini sampai membelah masyarakat sehingga terpolarisasi menjadi dua kelompok pro dan kontra. Persaingan keras tidak hanya terjadi di dunia riil, tapi juga di dunia maya melalui berbagai akun medsos.
Saling serang antara pendukung Jokowi yang disebut sebagai cebong, dengan pendukung Prabowo yang disebut sebagai kampret, berlangsung sangat keras dan brutal. Ketika kemudian Jokowi bisa merangkul Prabowo masuk ke kabinet, persaingan cebong vs kampret tidak dengan sendirinya menghilang. Cebong vs kampret bermetamorfosis menjadi buzzer vs kadrun, dengan intensitas persaingan yang tetap sengit.
Pengamat media dan anggota Dewan Pers, Dr. Agus Sudibyo, menuangkan persaingan keras itu dalam buku baru “Tarung Digital: Propaganda Komputasional di Berbagai Negara” (2021). Ia menggambarkan berbagai pertarungan politik yang memakai propaganda media sosial, mulai dari pilpres di Amerika sampai pilpres di Indonesia.
Dalam dua kasus ini masyarakat menjadi terbelah karena adu domba di media sosial. Dalam kasus di Amerika Serikat Agus melihat ironi politik yang sangat tajam. Negara yang notabene melahirkan teknologi digital melalui internet justru menjadi korban teknologi ciptaannya sendiri.
Agus menggambarkan bagaimana masyarakat Amerika dipengaruhi oleh berita hoaks dan fake news alias berita palsu, yang disebarkan oleh akun-akun media sosial. Akibat saling caci di media sosial, dua kelompok masyarakat nyaris terlibat tawuran di Amerika. Untung polisi cepat melerai. Setelah diselidiki ternyata akun-akun itu palsu dan dikendalikan dari luar negeri.

Dalam pilpres 2016 Hillary Clinton, yang menjadi pesaing Donald Trump, menjadi bulan-bulanan di media sosial dan setiap saat diserang dengan berita negatif yang sangat merugikan. Para hacker itu juga mencuri dan memanipulasi informasi dari lembaga-lembaga penting di Amerika dan menyebarkannya kepada warga untuk mendiskreditkan Clinton.
Belakangan diketahui bahwa para hacker itu beroperasi dari Rusia dengan organisasi yang rapi karena diduga punya hubungan dengan elite politik Rusia di Kremlin. Dengan operasi intelijen canggih dibantu dengan senjata propaganda komputasional yang rapi akhirnya Trump bisa mengalahkan Hillary.
Kemenangan Trump mengagetkan banyak orang. Ada yang terang-terangan menyebutnya sebagi kematian demokrasi Amerika. Politik pecah belah dan rasis yang dilakukan Trump membuat masyarakat Amerika terpecah belah oleh rasisme dan berbagai tindak diskriminasi.
Semua kejahatan politik itu dilakukan dengan bantuan media sosial terutama melalui Facebook. Karena itu Facebook ikut dituduh sebagai perusak, kalau bukan penghancur demokrasi. Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, mengaku bersalah dan meminta maaf.
Inilah ironisnya teknologi internet. Ia dilahirkan di Amerika dan memberikan kebebasan kepada miliaran manusia di seluruh dunia untuk mengekspresikan pandangan-pandangannya nyaris tanpa batas. Tapi justru internet-lah yang kemudian dianggap merusak kebebasan di Amerika. Ibarat anak, internet dianggap durhaka karena menyakiti ibu kandungnya.
Di Indonesia polarisasi politik akibat pilpres juga terjadi antara pendukung Jokowi dan Prabowo. Perang propaganda komputasional juga terjadi pada pilpres 2019 yang lalu. Peran agen-agen asing kemungkinan juga terjadi di Indonesia melalui operasi oleh Cambridge Analytica yang mencuri dan memanipulasi data-data pribadi masyarakat pengguna internet. Tapi, keterlibatan agen asing di Indonesia relatif kecil dibanding dengan kasus Amerika.
Meski begitu, peran propaganda komputasional dalam politik di Indonesia akan semakin besar. Pemilihan presiden 2024 pasti akan menjadi ajang tarung propaganda komputasional besar-besaran. Peran agen-agen asing sangat mungkin akan lebih masif dibanding sebelumnya.
Prabowo Subianto yang masih menyimpan ambisi menjadi presiden, tentu bisa membaca tren itu. Begitu juga dengan Jokowi yang memembutuhkan perlindungan poltik pasca-lengser 2024. Ia harus tetap menjaga citra dan popularitas untuk kenyamanan dan keamanan hidup pasca-lengser keprabon.
Lanskap politik sudah berubah dengan makin canggihnya propaganda komputasional karena makin meluasnya pengaruh medsos. Para influencer yang punya pengikut puluhan juta seperti Atta Halilintar akan menjadi jurkam yang mangkus dan sangkil untuk memuluskan target-target politik tertentu.
Karena itu tidak perlu heran jika Jokowi dan Prabowo runtang-runtung datang ke mantenan Aurel-Atta. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi