SURABAYA-KEMPALAN: Perjuangan Muhammadiyah melalui pendidikan dan pencerahan terhadap anggota persyarikatan dan seluruh masyarakat akan menjadi senjata untuk meredam radikalisme. “Pendidikan dan kegiatan pencerahan ala Muhammadiyah sangat efektif sebagai upaya mencegah radikalisme,” kata Dr. H. Dhimam Abror Djuraid saat memberi materi dalam Pengajian Ahad Pagi Muhammadiyah (4/5).
Pengajian diselenggarakan oleh PRM (Pengurus Ranting Muhammadiyah) Sutorejo bersama pengurus cabang Mulyorejo di SD Muhammadiyah 8, Sutorejo. Di depan puluhan jamaah Abror menyampaikan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan kualitas pemahaman warga Muhammadiyah dalam menghadapi isu-isu politik yang berkembang dewasa ini.
Di depan jamaah yang memenuhi Aula Al-Haris yang baru diresmikan, Abror menjelaskan berbagai tindak kekerasan yang terjadi beberapa waktu belakangan ini, mulai dari serangan di gereja Katedral Makassar, serangan ke Mabes Polri, dan serangkaian penangkapan dan penggerebekan yang dilakukan Polri menyusul tindak kekerasan itu.
Tindak kekerasan selalu dikaitkan dengan terorisme, yang secara sembarangan diidentikkan dengan kalangan Islam. Memang ada sebagian paham Islam yang memakai kekerasan sebagai jalan perjuangan. “Tapi secara universal Islam itu rahmat,” kata Abror.
Tindak kekerasan atas nama agama bukan hanya terjadi di Indonesia, di seluruh dunia terjadi kekerasan atas nama agama. Juga, kekerasan atas nama agama terjadi pada agama-agama lain, bukan hanya Islam.
Kekerasan atas nama Islam muncul di Timur Tengah, dan kemudian berkembang ke seluruh dunia. Di Amerika terjadi penyerangan terhadap Menara Kembar WTC New York pada 11 September 2001 yang menewaskan ribuan orang. Setelah itu Presiden George Bush memerintahkan perang terhadap terorisme dengan menyerang Irak yang dituduh menyimpan senjata pemusnah masal. “Ternyata tidak terbukti ada senjata pemusnah masal di Irak. Tapi sebaliknya Irak sudah telanjur musnah masal,” kata Abror.
Setelah mengalahkan Irak, Amerika juga menguasai sumber-sumber minyak Irak. Perusahaan minyak Amerika menjadikan sumur minyak di Irak seolah-olah sebagai pampasan perang.
Hal ini menimbulkan kekecewaan umat Islam di Timur Tengah yang sudah kecewa terhadap Barat sejak Perang Dunia Kedua pada 1940an. Berdirinya negara Yahudi Israel pada 1948 dan perlakuan diskriminatif terhadap bangsa Palestina, membuat masyarakat Islam semakin kecewa.
Menjawab kekecewaan itu masyarakat Islam ada yang mengambil jalan perjuangan melalui pendidikan, tapi ada juga yang mengambil jalan perjuangan perlawanan dengan senjata dan kekerasan.
Perjuangan dengan perlawanan diperkenalkan oleh Sayyid Qutub dengan semboyan “isy kariman au mut syahidan”, hidup mulia atau mati syahid, yang populer sampai ke Indonesia.
Dari ideologi ini lahirlah banyak gerakan perlawnan seperti Al-Qaidah maupun ISIS. Sampai sekarang gerakan perlawanan kekerasan yang terjadi di Indonesia banyak berhubungan dan mendapatkan inspirasi dari gerakan di Timur Tengah.
Kekerasan yang terjadi di Indonesia merupakan akibat dari kekecewaan di level internasional yang kemudian merembet ke Indonesia. Para aktivis Islam kecewa karena pemerintah Indonesia dianggap tidak adil terhadap umat Islam. Karena itu ada yang mengambil jalan kekerasan.
Respons Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam sangat tepat dengan fokus pada pendidikan dan gerakan sosial untuk penyadaran dan pencerahan masyarakat. “Masyarakat yang sejahtera dan terdidik tidak akan mudah terpapar oleh paham dan tindakan radikal,” pungkas Abror.
(Humas SD Muhammadiyah 8, Sutorejo, Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi