JAKARTA-KEMPALAN: Irjen Benny Mamoto, Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), mengungkapkan ada perbedaan terkait pola rekrutmen kelompok teroris. Perkembangan terknologi dan digitalisasi yang semakin masif membuat tren rekrutmen saat ini mulai bergeser.
Benny Mamoto sempat memeriksa tahanan teroris di Singapura dan Filipina. Mereka memiliki latar belakang yang sama, yakni pemabuk dan pencuri namun ingin bertobat.
“Mereka ingin belajar agama serius, tapi ketemu kelompok ini (teroris) akhirnya diberi pemahaman agama menurut kelompok itu,” ujar Benny Mamoto dalam diskusi virtual bertajuk ‘Awas! Sesat Milenial Radikal di Jagat Virtual,’ Minggu (4/4).
Ia melihat bahwa kelompok teroris ini memberikan kacamata kuda bagi anggota baru. Mereka tidak mengizinkan anggota baru mencari referensi lain di luar ajaran kelompok tersebut.
Proses rekrutmen dua tahun, dibaiat, pelatihan militer, jadilah mereka siap berjihad dan siap amaliah,” tutur Benny.
Menurutnya, proses rekrutmen saat ini jauh lebih cepat. Sebab, anak muda bisa mengakses informasi apa pun di media sosial.
Benny menyampaikan anak-anak yang terpapar paham radikal memiliki masalah tertentu. Misalnya, frustasi, putus dari pacar, memiliki masalah keluarga, hingga mengalami diskriminasi.
“Situs-situs itu digandrungi anak-anak muda, isinya berisi hal-hal yang mengarah ke proses radikalisasi,” ujar Benny.
Anak-anak muda itu berusaha mencari jati diri di media sosial. Mereka kemudian tertarik dengan situs misterius yang tidak jelas siapa pengelolanya. (Rafi Aufa Mawardi)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi