KEMPALAN: Di abad ke-21 ini, dunia dikuasai oleh dua negara besar dan adidaya yang menguasai berbagai sektor fundamental. Negara tersebut adalah Amerika Serikat dan China. Kedua negara ini ibarat kutub utara dan kutub selatan yang tidak dapat terintegrasi satu sama lain. Perang dagang menjadi konflik nyata yang sedang berlangsung dalam konstelasi global ini.
Konflik dagang yang terjadi antara dua negara besar ini, menimbulkan berbagai skema dan taktik dalam mengalahkan satu sama lain. Dalam hal ini, China memerintahkan agar Beijing meningkatkan upaya dalam memburu teknologi dan bakat sumer daya manusia dari Taiwan.
Skema yang diupayakan oleh China memiliki fungsi untuk terjadinya eskalasi kemandirian industri semikonduktor di dalam negeri. Perang dagang antara kedua negara ini membuat terjadinya taktik dalam hal penguasaan. Di satu sisi, Amerika Serikat secara eksplisit menargetkan industri teknologi dari China.
Amerika Serikat tak segan memberikan sanksi kepada beberapa perusahaan asal China, terkhusus brand Huawei Technologies Ltd yang menjadi kompetitor bagi brand teknologi dari Amerika Serikat.
Melansir dari Washington, Huawei merupakan ancaman wujud dari ancaman bagi keamanan nasional. Langkah Amerika Serikat tersebut lantas membuat China marah.
Di lain hal, Taiwan merupakan tempat bagi industri komponen chip yang paling berkembang dan maju di dunia. Pemerintah Taiwan mengkhawatirkan usaha China dalam meniru dan memburu teknologi dan sumer daya manusianya.
“Untuk mencapai swasembada dalam rantai pasokan (semikonduktor), perburuan dan infiltrasi adalah cara tercepat bagi China untuk melakukan ini,” ujar Wang Mei-hua selaku Menteri Ekonomi Taiwan dalam Rapat Parlemen, Rabu (31/3).
Wang menjelaskan bahwa para pekerja Taiwan yang fokus pada pengembangan chip memiliki pengalaman yang holistik dan berbicara dengan bahasa yang sama. Hal ini yang memiliki tendensi bagi China dalam pengembangan industri semikonduktor.
“Selain itu, komunis China mencuri kekayaan intelektual negara lain untuk meningkatkan kekuatan mereka sendiri,” ujar Hu Mu-yuan selaku Wakil Kepala Biro Keamanan Nasional Taiwan.
Taiwan secara konstitusional memiliki undang-undang untuk mencegah adanya pencurian teknologi. Tetapi, para pemerintah China mencoba mendirikan perusahaan depan di pulau itu, mengambil bakat dan metode lainnya. (Rafi Aufa Mawardi)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi