SURABAYA-KEMPALAN: Juru bicara kelompok Jama’ah Anshoru Syariah (JAS), Abdul Rochim Ba’asyir, menegaskan kemiripan Jamaah Anshoru Daulah (JAD) dengan kelompok Komando Jihad (Komji) di era Orde Baru. Aktivis yang akrab disapa ‘Gus Iim’ ini meminta publik agar lebih kritis pada labelisasi ‘JAD’.
”Riwayat Komji dulu seperti itu. Kelompok yang dibentuk Ali Moertopo tersebut melakukan teror dimana-mana, sampai kemudian ditangkap aparat. Lantas terbukalah kedok mereka, dan hubungannya pada Ali Moertopo. Nah, zaman sekarang, ya JAD itu. Siapapun yang sudah dicap sebagai JAD, spontan dijauhi masyarakat,” papar Gus Iim dalam wawancara via telepon, Kamis (01/04).
Hingga kini, di kalangan aktivis-aktivis muslim sendiri masih ada yang secara kritis mempertanyakan keberadaan JAD tersebut. Menurut Gus Iim, sikap kritis aktivis itu hal wajar, mengingat kelompok JAD mendadak kondang seiring dengan naiknya pamor ISIS sekitar akhir tahun 2014. ”Siapa yang membentuk JAD? Itu juga menjadi pertanyaan kritis rekan-rekan aktivis di lapangan,” tegas dia.
Nama Aman Abdurrahman, penulis buku ”Mereka Memang Thagut” sempat disebut-sebut sebagai pendiri JAD. Aman menguasai bahasa Arab dengan baik. Melalui keterampilannya ini, ia banyak menerjemahkan tulisan-tulisan pro-ISIS dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Setelah perpecahan di internal MMI sampai kemudian terbentuknya Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), sekitar 2009, Aman merapat ke JAT. Bahkan, ia ikut pelatihan di Jalin Jantho yang digerebek Densus pada tahun 2010. Aman ikut dicokok aparat.
Para aktivis muslim melihat pertautan JAT ke JAD masih dianggap misterius. Semisterius pergerakan para pengikut JAD itu sendiri. Disinggung soal JAD ini, Gus Iim menjawab tak ada yang kenal anggota-anggota JAD tersebut.
”Kami melihat ada unsur-unsur ”permainan” dalam masalah ini. Ada gerakan-gerakan intelijen hitam, yang kemudian memainkan hal-hal seperti itu, untuk kepentingan mereka sendiri. Peran mereka (intelijen bayangan) tidak kecil, yang saya baca di lapangan seperti itu,” ungkap Iim yang sudah lebih dari dua dekade aktif dalam berbagai kegiatan dakwah.
Pengulangan pola labelisasi itu, sambung putra bungsu Abu Bakar Ba’asyir ini, akan jadi pegangan publik. Apalagi, pertautan antara JAD dan ISIS, sehingga siapa saja yang dicap JAD, maka otomatis ia jadi pendukung ISIS. ”Lalu, masyarakat teralihkan dari persoalan yang sesungguhnya, seperti pengungkapan dalang kasus KM50, pengadilan yang lembek pada koruptor, dan lain-lain” urainya.
Disinggung soal kegiatan JAS, Iim menegaskan saat ini fokus utama JAS pada aksi-aksi kemanusiaan. Namun, para aktivis ini tetap mengasah kepekaan pada situasi, utamanya dalam mencermati berbagai aksi teror. ”Di balik aksi terorisme selalu ada kepentingan, ada pihak-pihak ketiga yang bermain. Mereka memainkan situasi kacau. Itu terjadi di seluruh dunia. Di negara kita, juga terjadi hal-hal yang sama, misal teralihnya isu ekonomi kita atau keadilan di negara kita,” papar dia. (reza m hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi