LIMASSOL-KEMPALAN: Yunani merayakan 200 tahun hari kemerdekaannya dari Kesultanan Utsmani pada Kamis (25/3), namun terjadi insiden vandalisme terhadap masjid di Kota Limassol, Republik Siprus, dimana kelompok yang diidentifikasi sebagai Kanan-Jauh mengotori masjid di kota tersebut dengan tulisan “Mati bagi Seluruh Orang Turki” dalam bahasa Yunani.
Para penyerang masjid ini membawa bendera yang bertuliskan angka 1821, tahun kemerdekaan Yunani. Penyerangan terhadap masjid di Siprus ini bukan yang pertama kali, sebelumnya pada tahun 2013 ada pembakaran terhadap masjid di Denya dan dibakar lahi pada tahun 2016.
Pada tahun 2020, masjid Limassol itu juga pernah dicoret-coret dengan tulisan “para imigran, orang Islam tidak diterima” dalam bahasa Inggris hanya beberapa hari setelah Republik Turki memperbolehkan orang untuk sholat di Ayasofya dan mengembalikannya menjadi masjid.
Presiden Republik Turki Siprus Utara (TRNC) Ersin Tatar mendesak pemerintah Yunani untuk mengambil tindakan tegas terhadap para pelakunya. Ia juga menyatakan dalam sebuah pernyataan TRNC bahwa semua masjid di Siprus sedang diserang.
“Saran kami kepada pemerintah Siprus Yunani dan kepemimpinannya adalah bahwa mereka tidak boleh mengatur dan mendukung serangan rasis dan fasis seperti itu, mencegahnya dan menangkap mereka yang bertanggung jawab secepat mungkin,” ujarnya.
Sementara itu, Perdana Menteri Turki Siprus Ersan Saner juga mengutuk serangan tersebut dan “sikap rasis” yang ditunjukkan oleh insiden tersebut. Dia menekankan bahwa pemerintahan Siprus Yunani harus menemukan pelaku insiden tersebut dan membawa mereka ke pengadilan, dengan mengatakan apa yang dilakukan mereka adalah tindak provokasi dan tidak dapat diterima.
“Apakah pemerintah Yunani begitu tidak berdaya? Tidak dapat menemukan pelaku serangan seperti itu dan membawa mereka ke pengadilan. Kami berharap para penjahat ditemukan dan dihukum,” tutur Ersan.
Akan vandalisme di masjid Limassol, Turki mengecam serangan tersebut melalui pernyataan Kementerian Luar Negerinya pada Jumat (26/3).
“Jelas bahwa tindakan provokatif seperti itu pada saat upaya untuk solusi atas masalah Siprus meningkat, tidak akan membantu membangun kepercayaan antara kedua komunitas,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan tertulis yang dikutip Kempalan dari Daily Sabah.
Presiden Recep Tayyip Erdoğan juga menyinggung masalah tersebut pada hari yang sama dan menyatakan: “Sayangnya orang Yunani melakukan tindakan semacam ini sepanjang waktu. Fakta bahwa hal ini dilakukan selama KTT (Uni Eropa), tidak lain adalah provokasi.” (Daily Sabat/TRT World, rez)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi