Senin, 9 Maret 2026, pukul : 00:39 WIB
Surabaya
--°C

Gelontorkan Dana Sekitar 100 Miliar Dollar, Amerika Serikat Siap Kalahkan Cina di Bidang Teknologi

JAKARTA-KEMPALAN: Amerika Serikat dan Cina, merupakan dua negara yang menguasai jalannya konstelasi global. Kedua negara ini saling bersaing untuk menjadi pemimpin global dalam hal ekonomi, politik, teknologi, militer, dan lain sebagainya. Bahkan, kerap terjadi manuver dan kompetisi dalam hal kebijakan ekonomi hingga politik untuk saling mengalahkan satu sama lain.

Hal ini selaras dengan kondisi Amerika Serikat sekarang. Dimana negara Paman Sam ini dikabarkan telah mempersiapkan rancangan undang-undang yang secara kontekstual berisi kebijakan alokasi dana dengan nilai yang tinggi. Kebijakan ini dicanangkan oleh pihak yang bersangkutan, demi melawan Cina di sektor teknologi yang semakin kompleks.

Chuck Schumer, Pemimpin Senat Mayoritas Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa pihak pemerintah akan melakukan percepatan dalam hal pengesahan rancangan undangan-undangan yang bernama Endless Frontier Act.

Jika disepakati dalam forum tertinggi, undang-undang Endless Frontier Act akan secara linear memberikan gelontoran dana sekitar 100 miliar dollar atau Rp 1.444,3 triliun. Kucuran dana yang segar ini akan mendanai teknis penelitian di sektor teknologi dalam waktu lima tahun kedepan.

Artinya, dana yang cukup besar ini akan dimanfaatkan dalam lingkup kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Machine Learning, komputasi kuantum, sistem informasi, dan teknologi energi.

Undang-Undang Endless Frontier Act sebenarnya telah diperkenalkan oleh Schumer bersama Senator Partai Republik Todd Young sejak tahun lalu. Namun, kali ini Schumer dan kawan-kawannya mempercepat pembahasan pengesahaan UU ini. Salah faktornya adalah krisis chipset global yang turut melanda AS.

“Tujuan kami adalah membawa undang-undang ini ke hadapan Senat untuk pemungutan suara musim semi ini,” ujar Schumer pada Kamis (25/3).

Kelangkaan chipset ini memperlihatkan kerentanan dalam rantai pasokan semikonduktor AS. Kondisi ini terjadi agaknya karena permintaan chipset yang tinggi dari pasar, namun, di sisi lain produksi chipset justu berkurang akibat pandemi Covid-19.

Faktor lain yang ikut berperan dalam kelangkaan chipset ini ialah proses fabrikasi pembuatan chipset yang semakin kecil. Sehingga pembuatannya menjadi semakin kompleks. Krisis chipset ini memengaruhi berbagai indsustri di AS dan global, termasuk industri smartphone, PC, hingga otomotif. (Rafi Aufa Mawardi)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.